Petikhasil.id, BANDUNG — Memilih perguruan tinggi kini terasa semakin berat bagi banyak calon mahasiswa dan orang tua. Biaya pendidikan naik. Dunia kerja juga berubah cepat. Teknologi baru, termasuk AI, ikut membuat banyak keluarga bertanya-tanya: jurusan apa yang masih relevan untuk masa depan?
Suasana seperti itu terasa dalam media gathering BINUS @Bandung bersama awak media. Di tengah pembahasan soal perubahan dunia kerja, muncul satu pertanyaan yang dekat dengan kegelisahan banyak keluarga hari ini. Apakah agrikultur masih punya masa depan, atau justru mulai tertinggal oleh zaman?
Baca Lainya: BINUS Bandung Ajak Pelaku Usaha Membaca Pasar lewat Workshop AI for Business Decision Making | Petani Milenial Go Digital: Saatnya Bertani Jadi Gaya Hidup Anak Muda
Pertanyaan itu dijawab langsung oleh Campus Director BINUS @Bandung, Dr. Johan Muliadi Kerta, S.Kom., M.M. Menurut Johan, agrikultur justru tetap potensial menuju dunia kerja 2030. Syaratnya, bidang ini harus dibaca dengan cara baru, yaitu lewat teknologi dan kolaborasi lintas ilmu.
“Kalau kita lihat, pertanian sebenarnya sudah mengalami perubahan sejak revolusi industri pertama. Tetapi dengan bantuan teknologi saat ini, pertanian itu justru bisa menghasilkan produk dan aktivitas yang jauh lebih tinggi nilainya,” ujar Johan.
Agrikultur tidak lagi bisa dibaca dengan cara lama
Johan menilai pertanian hari ini tidak cukup hanya bertumpu pada budidaya atau bioteknologi. Sektor ini juga membutuhkan teknologi pendukung agar hasil dan proses kerjanya lebih efisien.
Ia mencontohkan, BINUS Bandung memiliki program Computer Science yang bekerja sama dengan petani untuk mengembangkan teknologi Internet of Things atau IoT di sektor pertanian. Teknologi ini dapat membantu petani mengontrol kondisi lahan, memantau hasil, dan mengelola proses produksi.
Dengan cara itu, petani tidak lagi hanya bergantung pada pengamatan manual setiap hari. Teknologi membantu mereka memantau kondisi lapangan dengan lebih cepat dan lebih teratur.
Menurut Johan, perubahan inilah yang membuat agrikultur tetap relevan. Pertanian sekarang tidak hanya bicara soal tanam dan panen. Pertanian juga bicara tentang data, sensor, sistem pemantauan, riset, dan inovasi.
Masa depan menuntut kolaborasi, bukan kerja sendiri
Johan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas bidang. Mahasiswa teknologi, kata dia, bisa bekerja bersama mahasiswa agrikultur. Sebaliknya, mahasiswa agrikultur juga perlu memahami teknologi agar tidak tertinggal dari kebutuhan industri.
“Sekarang kita tidak bisa sendirian, tapi justru kolaborasi,” kata Johan.
Bagi dia, dunia kerja 2030 akan menuntut lulusan yang lebih lentur. Satu bidang ilmu saja tidak lagi cukup. Orang perlu bisa bekerja sama, belajar dari disiplin lain, dan melihat persoalan dari lebih dari satu sisi.
Di titik ini, agrikultur tidak lagi berdiri sebagai bidang yang terpisah dari perkembangan zaman. Justru ketika bertemu teknologi, nilainya bisa tumbuh jauh lebih besar.
Kegelisahan soal jurusan juga dibahas dari sisi psikologi
Dalam forum yang sama, Head of Psychology Department BINUS University, Dr. Esther Widhi Andangsari, M.Si., Psikolog, mengatakan bahwa memilih jurusan memang menjadi keputusan besar bagi anak muda. Menurut dia, pada usia akhir remaja, banyak anak masih mencari minat, kemampuan, dan arah hidupnya sendiri.
Karena itu, ia menilai orang tua perlu hadir sebagai pendamping. Orang tua, menurut dia, tidak seharusnya memaksakan pilihan. Anak perlu dibantu melihat pilihan secara lebih jernih, terutama di tengah perubahan dunia kerja yang begitu cepat.
Ia menegaskan bahwa jurusan tidak seharusnya dipilih hanya karena tren. Pilihan perlu disesuaikan dengan minat, kemampuan, dan peluang berkembang di masa depan.
Kampus tidak hanya menyiapkan mahasiswa di ruang kelas
Pandangan serupa juga datang dari orang tua mahasiswa BINUS Bandung, Ibu Vivi Dewiyanti Setiadi. Ia melihat kesiapan anak tidak hanya tumbuh dari ruang kelas. Menurut dia, perkembangan mahasiswa juga dibentuk oleh organisasi, pengalaman lapangan, kegiatan kampus, dan berbagai kesempatan yang mereka terima selama kuliah.
Dari situ terlihat bahwa kampus tidak hanya memberi pengetahuan akademik. Kampus juga menyiapkan mahasiswa agar siap menghadapi dunia kerja, dunia usaha, dan perubahan zaman.
Karena itu, mahasiswa didorong aktif dalam proyek, kompetisi, organisasi, dan magang. Pengalaman seperti itu dinilai penting karena membantu mahasiswa membangun portofolio dan kesiapan mental.
Agrikultur tetap relevan jika bertemu teknologi
Di akhir penjelasannya, Johan kembali menegaskan bahwa agrikultur tidak kehilangan tempat di tengah disrupsi teknologi. Menurut dia, justru ketika sektor ini dipadukan dengan teknologi, agrikultur bisa menjadi salah satu bidang strategis menuju dunia kerja 2030.
Baca Lainya: BINUS Bandung Ajak Pelaku Usaha Membaca Pasar lewat Workshop AI for Business Decision Making | Petani Milenial Go Digital: Saatnya Bertani Jadi Gaya Hidup Anak Muda
Pernyataan itu memberi jawaban atas kegelisahan yang banyak dirasakan calon mahasiswa dan orang tua. Di tengah perubahan yang cepat, masa depan tidak selalu berada pada bidang yang paling ramai dibicarakan. Kadang, masa depan justru tumbuh dari sektor yang lama dianggap biasa, lalu menemukan bentuk barunya ketika bertemu teknologi yang tepat. (Vry)






