Petikhasil.id, CIREBON — Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon mendorong pemanfaatan limbah kulit kerang hijau menjadi bahan tambahan pangan berbasis kalsium karbonat. Langkah ini menargetkan pengurangan pencemaran sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari material yang selama ini terbuang.
Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon Suhartono menyatakan limbah cangkang kerang terus menumpuk di kawasan pesisir dan pusat aktivitas konsumsi. Kondisi ini memicu tekanan lingkungan, terutama di wilayah padat penduduk.
“Selama ini limbah belum dimanfaatkan maksimal, padahal kandungannya potensial. Kami dorong pengolahan menjadi tepung kalsium karbonat untuk bahan tambahan pangan,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Potensi Nilai Tambah dari Limbah
Disperdagin mencatat volume limbah kerang hijau mencapai sekitar 25 ton dalam satu periode. Dari jumlah tersebut, pelaku usaha dapat mengolah sekitar lima ton menjadi tepung kalsium karbonat (CaCO₃).
Konversi ini membuka peluang nilai tambah yang signifikan. Pelaku industri dapat memanfaatkan CaCO₃ sebagai bahan tambahan pangan, termasuk untuk mendukung daya simpan produk.
“Limbah yang sebelumnya tidak bernilai bisa berubah menjadi komoditas industri,” kata Suhartono.
Uji Coba Menuju Skala Industri
Disperdagin menggandeng GIZ untuk mengkaji kelayakan teknis dan model bisnis pengolahan limbah. Kajian tersebut kini memasuki tahap implementasi terbatas.
Pemerintah daerah akan menjalankan uji coba lapangan untuk mengukur efektivitas teknologi serta kesiapan pelaku usaha. Tahap ini menjadi pijakan sebelum masuk ke pengembangan skala industri kecil dan menengah.
“Dalam waktu dekat kami dorong implementasi terbatas untuk memastikan model bisnis berjalan,” ujar Suhartono.
Alternatif Pemanfaatan Lain
Selain sektor pangan, Disperdagin membuka opsi pemanfaatan limbah sebagai bahan campuran pemadatan jalan. Opsi ini menjadi solusi jangka pendek untuk mengurangi penumpukan limbah di lapangan.
Di sisi lain, pemanfaatan kerang di Cirebon selama ini masih terkonsentrasi pada sektor kerajinan. Ironisnya, pelaku usaha masih bergantung pada bahan baku dari luar daerah.
“Potensi lokal besar, tetapi belum dimanfaatkan optimal,” kata Suhartono.
Dorong Ekonomi Lokal
Disperdagin memilih fokus pada produksi tepung kalsium karbonat karena pasar lebih luas dan permintaan relatif stabil. Produk ini dapat menyasar industri pangan maupun sektor lain yang membutuhkan bahan berbasis kalsium.
Pemerintah daerah juga ingin melibatkan pelaku usaha kecil dan menengah dalam rantai produksi. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
“Limbah tidak lagi menjadi beban. Kami ingin masyarakat mendapatkan nilai ekonomi dari pengolahan ini,” ujarnya.
Upaya ini menunjukkan pendekatan baru dalam pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular. Jika berjalan konsisten, Cirebon berpeluang mengubah persoalan lingkungan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. (PtrA)






