Sacha Inchi dari Hutan Amazon hingga Menjadi Tahu Omega di Sumedang

Petikhasil.id, SUMEDANG — Ada bahan pangan yang datang dari jauh, lalu menemukan rumah barunya di dapur lokal. Sacha inchi adalah salah satunya. Di tempat asalnya, tanaman ini tumbuh di kawasan Amazon dan sudah lama dikenal sebagai pangan tradisional. Di Indonesia, ia belum sepopuler kedelai atau kacang tanah. Namun pelan-pelan namanya mulai terdengar, terutama karena bijinya kaya minyak, protein, dan asam lemak omega-3. Di Sumedang, bahan yang dulu terasa asing itu bahkan sudah dicoba masuk ke makanan yang sangat akrab bagi orang Indonesia: tahu.

Dari pangan tua di Peru

Sacha inchi bernama ilmiah Plukenetia volubilis L. Sejumlah publikasi menyebut tanaman ini berasal dari kawasan Amazon, terutama Peru, lalu juga dikenal di Ekuador dan Kolombia. Dokumen notifikasi pangan tradisional ke Uni Eropa bahkan menyebut biji sacha inchi panggang telah dikonsumsi di Peru sejak masa Inka sekitar 5.000 tahun lalu. Sampai sekarang, masyarakat di Peru masih mengonsumsinya setelah disangrai atau direbus, baik sebagai camilan maupun bagian dari pola makan harian. Review di Food Chemistry juga mencatat bahwa biji panggang, daun yang dimasak, dan minyak sacha inchi merupakan bagian dari diet tradisional di Peru.

Jejak sejarah itu penting, karena sacha inchi bukan tanaman yang tiba-tiba populer karena tren pangan sehat. Ia lebih dulu hidup sebagai pangan adat. Baru dalam beberapa dekade terakhir, dunia mulai melihatnya sebagai bahan pangan fungsional yang punya nilai tambah tinggi. Kajian Frontiers in Nutrition menyebut sacha inchi secara tradisional dibudidayakan oleh komunitas adat karena nilai gizi dan pemanfaatan pangannya, sementara bijinya dikenal kaya minyak hingga sekitar 60 persen dan protein sekitar 30 persen.

Baca Lainya: Sacha Inchi & Kenari: Minyak Nabati Tinggi Omega-3 dari Nusantara | Tahu Omega Nurkholis dan Percakapan Baru tentang Pangan Fungsional

Kenapa sacha inchi banyak dibicarakan

Yang membuat sacha inchi menonjol adalah isi bijinya. Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Aneka Kacang Kementerian Pertanian mencatat, pada basis kering, sacha inchi mengandung sekitar 33,4–54,7 persen lemak, 24,20–33,30 persen protein, 6,61–11,30 persen serat, dan 6,59–30,90 persen karbohidrat. Lembaga yang sama juga mencatat minyak sacha inchi kaya alpha-linolenic acid atau ALA, salah satu asam lemak omega-3, dengan kisaran sekitar 35,2–50,8 persen.

Karena kandungan itu, sacha inchi sering disebut sebagai bahan pangan potensial. Tetapi ada satu hal yang perlu dijaga: ia tidak perlu dibebani klaim berlebihan. Yang paling aman adalah melihatnya sebagai sumber minyak nabati dan protein yang kuat, dengan komposisi lemak tak jenuh yang memang menarik perhatian dunia pangan dan riset. Itu sudah cukup penting tanpa harus menjadikannya obat untuk segala hal.

Dari Amazon ke Indonesia

Tanaman ini kini tidak lagi hanya tumbuh di Amerika Selatan. Kementerian Pertanian menyebut sacha inchi sudah dibudidayakan di China, Malaysia, Thailand, dan belum lama ini di Indonesia. Dalam publikasi ilmiah dari Indonesia, salah satu lokasi budidaya yang disebut jelas berada di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Artinya, perjalanan sacha inchi ke Indonesia bukan lagi sekadar wacana. Ia sudah masuk ke lahan dan mulai diuji sebagai bagian dari kemungkinan baru dalam pertanian dan pangan lokal.

Masuknya sacha inchi ke Indonesia menarik karena ia datang bukan untuk menggantikan pangan utama yang sudah mapan, melainkan membuka ruang baru. Ia bisa dibaca sebagai bahan tambahan bernilai tinggi, sebagai minyak spesial, atau sebagai bahan baku olahan baru. Di sinilah tantangannya muncul. Tanaman ini harus diterjemahkan ke dalam selera lokal. Sebab bahan pangan yang bagus di atas kertas belum tentu diterima begitu saja di meja makan.

Saat bahan asing masuk ke makanan yang akrab

Di Sumedang, upaya menerjemahkan sacha inchi ke lidah lokal itu terlihat dalam inovasi Tahu Omega. Pemerintah Kabupaten Sumedang mencatat produk ini digagas oleh Nurholis, pelaku usaha dari Rancamulya, Sumedang Utara. Ia mengembangkan Tahu Omega setelah melakukan riset selama tujuh bulan. Dalam laporan resmi itu disebutkan, Nurholis memadukan tahu dengan susu kambing dan kacang sacha inchi untuk menghadirkan alternatif pangan yang lebih dekat dengan kebutuhan gizi masyarakat.

Langkah ini menarik bukan semata karena produknya unik, tetapi karena pendekatannya akrab. Nurholis tidak memilih membuat sacha inchi menjadi produk yang terlalu jauh dari kebiasaan makan masyarakat. Ia justru membawanya ke tahu, makanan yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia. Dalam laporan Pemkab Sumedang, ia menyebut tahu dipilih karena merupakan makanan yang bisa dinikmati semua kalangan. Dari sisi logika pangan, pilihan itu masuk akal. Inovasi sering lebih mudah diterima ketika ia tidak memaksa orang meninggalkan makanan lamanya, melainkan memperkaya apa yang sudah akrab.

Nilai lokal dari bahan global

Kisah sacha inchi di Sumedang sebetulnya lebih besar dari cerita satu produk. Ia menunjukkan bahwa pangan lokal tidak selalu harus lahir dari bahan yang sejak awal berasal dari sini. Kadang yang lebih penting adalah bagaimana sebuah bahan diterjemahkan dengan rasa, kebutuhan, dan kebiasaan setempat. Dalam kasus ini, sacha inchi tidak berdiri sendiri sebagai biji eksotis dari Amazon. Ia dipertemukan dengan tahu, dengan industri rumahan, dan dengan keberanian pelaku usaha lokal yang mencoba mengolah nilai gizi menjadi bentuk yang lebih membumi.

Di titik itu, sacha inchi menjadi menarik bagi pertanian dan pangan Indonesia. Ia bukan sekadar tren sehat. Ia bisa menjadi bahan baku baru untuk produk turunan, dari minyak sampai pangan olahan. Tetapi keberhasilannya tetap akan ditentukan oleh satu hal yang sederhana: seberapa jauh ia bisa masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan hanya ke rak produk kesehatan.

Baca Lainya: Sacha Inchi & Kenari: Minyak Nabati Tinggi Omega-3 dari Nusantara | Tahu Omega Nurkholis dan Percakapan Baru tentang Pangan Fungsional

Pada akhirnya, perjalanan sacha inchi dari Amazon ke Sumedang memberi satu pelajaran penting. Nilai sebuah bahan pangan tidak hanya lahir dari kandungan gizinya, tetapi juga dari cara ia dipahami, dibudidayakan, dan diolah menjadi sesuatu yang dekat dengan orang banyak. Dari biji yang dulu hidup dalam diet masyarakat Peru, kini ia mulai mencari bentuk baru di Indonesia. Dan di tangan pelaku usaha seperti Nurholis, bahan itu mencoba berbicara dengan bahasa yang lebih akrab: tahu, pangan sederhana yang justru membuat inovasi terasa tidak jauh dari rumah. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *