Kenapa Menanam Dua Rumput Ini Melindungi Jagung Tanpa Racun Kimia? Seni Push-Pull Petani Afrika Timur

Petikhasil.id, GROBOGAN — Di bentangan ladang jagung tadah hujan kawasan Toroh, Grobogan, deru suara mesin pompa tangki semprot nyaris menjadi irama wajib setiap pekan. Petani berkejaran dengan waktu menembakkan cairan insektisida kimia ke arah batang jagung yang berlubang-lubang digerek hama. Hama penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan ulat grayak kerap kali membuat batang jagung patah sebelum tongkol sempat terisi penuh.

Sementara di belahan dunia lain, tepatnya di lembah Danau Victoria, Kenya, para petani kecil justru mematikan tangki semprot mereka. Tanpa insektisida sintetik dan tanpa membeli benih transgenik berharga selangit, tanaman jagung mereka tegak kokoh bebas dari lubang gerek.

Rahasia di balik keberhasilan ini bukan jimat atau pestisida ajaib baru. Ini adalah kecerdasan manipulasi ekologi tanaman yang dikembangkan oleh Pusat Fisiologi dan Ekologi Serangga Internasional (ICIPE) bernama teknologi Push-Pull (dorong dan tarik). Petani Kenya hanya memanfaatkan dua jenis tanaman rumput yang ditanam bersanding dengan tanaman pokok.

Daun yang menebar bau penolak ngengat

Konsep Push (dorong) dijalankan oleh tanaman legum penutup tanah bernama rumput desmodium perak (Desmodium uncinatum). Petani menanam herba merambat ini di sela-sela barisan tanaman jagung.

Desmodium memiliki peran biologis yang jauh melampaui tanaman penutup gulma biasa. Sel-sel epidermis daunnya dilengkapi trikoma kelenjar yang aktif menyintesis dan melepaskan senyawa kimia volatil ke udara bebas, terutama senyawa golongan monoterpen dan seskuiterpen seperti (E)-beta-ocimene dan (E)-4,8-dimethyl-1,3,7-nonatriene.

Bagi hidung manusia, aroma ini samar tidak tercium. Namun bagi reseptor penciuman (olfactory sensilla) ngengat penggerek batang yang terbang mencari tempat bertelur di malam hari, aroma volatil desmodium mengirimkan sinyal bahaya yang memekakkan.

Ngengat mengira lahan jagung tersebut sudah dipenuhi pemangsa atau tanaman beracun. Akibatnya, kawanan ngengat enggan hinggap dan terdorong terbang menjauhi tanaman jagung.

Selain melindungi dari udara, akar desmodium menyekresikan eksudat flavonoid ke dalam tanah perakaran. Senyawa ini bertindak sebagai herbisida hayati selektif yang merangsang biji gulma parasit berkecambah lebih awal lalu mati membusuk tanpa inang (suicidal germination).

Perangkap bergetah maut di pagar kebun

Jika desmodium bertugas mendorong hama keluar dari dalam kebun, tanaman kedua bertugas menarik hama tersebut ke dalam perangkap mematikan (Pull). Di sekeliling tepi luar kebun jagung, petani menanam tiga lapis benteng tanaman rumput gajah (Pennisetum purpureum atau Napier grass).

Aroma senyawa volatil yang dilepaskan helaian daun rumput gajah justru dirancang alam untuk meniru aroma tanaman inang favorit ngengat penggerek batang. Daya pikat rumput gajah bahkan terbukti lima puluh persen lebih memikat dibanding aroma daun jagung asli.

Ngengat yang terdorong menjauh dari tanaman jagung segera membelokkan arah terbangnya menuju benteng rumput gajah di pinggir kebun. Di sanalah ngengat betina meletakkan kelompok telurnya dengan tenang.

Di sinilah jebakan biologis tanaman bekerja. Ketika telur-telur tersebut menetas menjadi larva muda, larva mulai mengunyah jaringan batang rumput gajah.

Begitu jaringan vaskularnya terluka, rumput gajah merespons secara fisiologis dengan memproduksi getah damar kental yang kaya polifenol. Getah lengket ini membanjiri lorong gerek, menyumbat lubang pernapasan (spirakel) larva ulat hingga lemas dan mati di tempat. Lebih dari delapan puluh persen larva musnah sebelum sempat berubah menjadi ngengat dewasa.

Pakan bergizi tinggi untuk kandang sapi di belakang rumah

Keuntungan metode Push-Pull tidak berhenti pada urusan proteksi tanaman pangan. Sistem ini sekaligus memecahkan masalah klasik petani pedesaan: kekurangan pakan ternak bermutu.

Desmodium yang menjalar di antara barisan jagung adalah tanaman polong-polongan pengikat nitrogen bebas dari udara melalui simbiosis bakteri Rhizobium pada bintil akarnya. Daun desmodium kaya akan protein kasar hingga mencapai dua puluh persen, sementara rumput gajah di pagar kebun menghasilkan biomassa serat yang melimpah.

Setiap selesai panen jagung atau saat masa pemangkasan berkala, pangkasan desmodium dan rumput gajah dipotong lalu dibawa pulang untuk pakan sapi perah atau kambing perah. Petani di Afrika Timur mencatat peningkatan produksi susu sapi hingga dua kali lipat sejak menerapkan sistem ini di ladang mereka.

Model pertanian seperti ini menyadarkan kita bahwa pengendalian hama tidak selalu harus diselesaikan dengan laras penyemprot racun kimia. Dengan memahami bahasa kimiawi yang dipertukarkan antardaun dan serangga di alam, sepetak kebun jagung bisa menjaga dirinya sendiri sembari memberi makan ternak di kandang. (Ak)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *