Petikhasil.id, BANDUNG — Ancaman kekeringan masih perlu diwaspadai petani Indonesia pada akhir 2026. Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat berpotensi memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah, mengurangi ketersediaan air, dan mengganggu kegiatan pertanian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada September 2026 menyampaikan bahwa awal musim hujan 2026/2027 diperkirakan mundur di 529 Zona Musim (ZOM), setara dengan 61,08 persen luas daratan Indonesia. Kondisi ini membuat petani perlu memperhatikan informasi iklim sebelum menentukan jadwal tanam.
Istilah Super El Niño kerap digunakan untuk menggambarkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. Namun, dampaknya tidak selalu sama di seluruh Indonesia. Kondisi cuaca lokal, ketersediaan irigasi, jenis tanah, dan waktu tanam turut menentukan tingkat risiko yang dihadapi petani.
Bagi sektor pertanian, persoalan utama bukan hanya berkurangnya hujan, tetapi juga ketidakpastian pasokan air pada saat tanaman membutuhkannya.
Kekeringan Bisa Mengganggu Pertumbuhan Tanaman
El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Di Indonesia, fenomena ini sering berkaitan dengan penurunan curah hujan, terutama ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Ketika hujan berkurang, persediaan air di waduk, sungai, embung, dan saluran irigasi dapat menyusut. Tanah pertanian juga kehilangan kelembapan lebih cepat, terutama di wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam waktu panjang.
Padi menjadi salah satu tanaman yang perlu mendapat perhatian karena membutuhkan pasokan air yang cukup pada fase pertumbuhan tertentu. Jika kekurangan air terjadi saat pembentukan anakan, pembungaan, atau pengisian bulir, pertumbuhan tanaman dan hasil panen dapat terganggu.
Tanaman hortikultura juga menghadapi risiko. Sayuran dan tanaman buah tertentu dapat mengalami pertumbuhan yang melambat, ukuran hasil yang lebih kecil, atau penurunan kualitas ketika pasokan air tidak mencukupi. Tingkat dampaknya bergantung pada jenis tanaman, kondisi lahan, dan lamanya kekeringan.
Kondisi tersebut tidak berarti semua lahan pertanian akan mengalami gagal panen. Sawah yang memiliki irigasi memadai, lahan dengan cadangan air cukup, serta petani yang menyesuaikan jadwal tanam dapat menghadapi risiko yang berbeda dibandingkan wilayah yang bergantung sepenuhnya pada hujan.
Karena itu, petani perlu melihat informasi iklim dan kondisi lahan masing-masing, bukan hanya mengandalkan perkiraan cuaca secara umum.
Baca Lainya: El Nino Aktif, 56 Ribu Pompa Air Disiapkan | Harga beras di Cirebon melonjak akibat El Nino
Strategi Petani Menghadapi El Niño
Salah satu langkah penting adalah menyesuaikan kalender tanam dengan ketersediaan air. Petani perlu berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan kelompok tani untuk menentukan waktu tanam yang lebih aman berdasarkan prakiraan musim dan kondisi irigasi setempat.
BMKG juga mendorong penggunaan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian. Dalam kondisi defisit air, petani dapat mempertimbangkan varietas berumur genjah atau varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Pemilihan varietas tetap perlu mengikuti rekomendasi penyuluh dan karakter lahan.
Penggunaan air secara efisien juga menjadi penting. Petani dapat memeriksa saluran irigasi, mengurangi kebocoran, mengatur giliran distribusi air, serta memprioritaskan pasokan ketika tanaman memasuki fase pertumbuhan yang paling membutuhkan air.
Pada lahan yang sesuai, petani juga dapat mempertimbangkan tanaman alternatif yang kebutuhan airnya lebih cocok dengan kondisi setempat. Namun, perubahan komoditas sebaiknya dilakukan setelah mempertimbangkan jenis tanah, ketersediaan benih, biaya produksi, akses pasar, dan potensi harga jual.
Selain itu, menjaga bahan organik tanah dapat membantu memperbaiki struktur tanah dan mendukung kemampuan tanah menahan air. Penggunaan mulsa pada tanaman tertentu juga dapat membantu mengurangi penguapan dari permukaan tanah.
Langkah-langkah tersebut tidak dapat menghilangkan dampak El Niño sepenuhnya. Namun, perencanaan yang baik dapat membantu mengurangi risiko kerugian dan membuat penggunaan air lebih terarah.
Ancaman terhadap Hasil Panen dan Pendapatan Petani
Jika kekeringan berlangsung lama, petani berpotensi menghadapi biaya produksi yang meningkat. Mereka mungkin perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk memompa air, memperbaiki saluran, atau mengangkut air ke lahan yang sulit dijangkau.
Risiko lainnya adalah perubahan jadwal panen dan berkurangnya hasil produksi. Jika gangguan terjadi secara luas pada komoditas pangan, dampaknya juga dapat merambat ke rantai pasok dan harga di pasar. Meski demikian, kenaikan harga tidak otomatis terjadi karena kondisi tersebut turut dipengaruhi stok, distribusi, permintaan, dan pasokan dari wilayah lain.
Karena itu, mitigasi kekeringan tidak bisa hanya dibebankan kepada petani. Pemerintah daerah, kelompok tani, pengelola irigasi, dan penyuluh perlu bekerja sama memastikan informasi iklim, distribusi air, serta bantuan teknis tersedia tepat waktu.
Petani juga sebaiknya memantau perkembangan prakiraan musim hujan. BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 datang secara bertahap di berbagai wilayah, dengan sebagian besar Zona Musim diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Jadwal sebenarnya tetap berbeda menurut lokasi.
Baca Lainya: El Nino Aktif, 56 Ribu Pompa Air Disiapkan | Harga beras di Cirebon melonjak akibat El Nino
Super El Niño bukan berarti seluruh pertanian Indonesia pasti gagal panen. Namun, fenomena ini menjadi peringatan agar keputusan tanam tidak dilakukan tanpa memperhitungkan air dan kondisi cuaca. Dengan informasi iklim yang tepat, pengelolaan air yang efisien, dan kerja sama antarpetani, risiko kekeringan dapat ditekan. (Vry)







