Bukan Sekadar Peneduh, Ini Alasan Belanda Menanam Pohon Asam di Pinggir Jalan

Petikhasil.id, BANDUNG — Pohon asam jawa yang berdiri besar di pinggir jalan bukan sekadar bagian dari pemandangan kota tua. Di balik batangnya yang kokoh dan tajuknya yang rindang, tersimpan jejak sejarah tata ruang pada masa kolonial Belanda.

Pohon bernama ilmiah Tamarindus indica ini banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Sebagian pohon yang masih bertahan hingga sekarang mengingatkan masyarakat pada kebiasaan menanam pohon peneduh di sepanjang jalan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Namun, mengapa pemerintah kolonial memilih pohon asam jawa? Apakah alasannya hanya untuk membuat jalan lebih teduh?

Menurut Harto Juwono, ahli sejarah dari Universitas Sebelas Maret (UNS), penggunaan pohon asam jawa berkaitan dengan kebiasaan penataan ruang di Eropa. Dalam pemberitaan Kompas.com pada 13 Agustus 2025, ia menjelaskan bahwa pohon asam digunakan sebagai pengganti pohon ara yang biasa menghiasi jalan di Eropa.

Pohon ara sulit ditemukan dan tidak mudah tumbuh di Jawa. Karena itu, pemerintah kolonial menggunakan pohon asam yang dinilai memiliki fungsi serupa sebagai penghias jalan.

Baca Lainya: Kenapa Pohon Dadap di Kebun Teh Menggugurkan Daun Saat Mekar Jingga? | Mitos atau Fakta: Pohon-Pohon yang Sering Diidentikan dengan Makhluk Gaib

Pohon Asam Membuat Jalan Lebih Teduh

Alasan paling mudah dipahami adalah fungsi pohon asam sebagai peneduh. Sebelum kendaraan bermotor mendominasi jalanan, masyarakat mengandalkan perjalanan dengan berjalan kaki, berkuda, atau menggunakan kendaraan yang ditarik hewan.

Di tengah iklim tropis yang panas, keberadaan pohon berkanopi lebar membantu mengurangi paparan sinar matahari secara langsung. Deretan pohon juga membuat jalan terlihat lebih teratur dan nyaman dipandang.

Menurut Harto, pohon asam memiliki fungsi lain, seperti membantu menyerap air hujan, mendukung sirkulasi air, serta mengurangi risiko erosi. Dari sisi estetika, tajuk dan bentuk pohonnya juga memperindah lingkungan jalan.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa penanaman pohon di tepi jalan bukan semata-mata urusan keindahan. Pemilihan tanaman juga berkaitan dengan kebutuhan lingkungan dan fungsi ruang publik.

Mengapa Pohon Asam Cocok untuk Kawasan Tropis?

Pohon asam jawa dikenal sebagai tanaman berumur panjang yang mampu tumbuh di wilayah tropis. Batangnya dapat tumbuh besar, sedangkan tajuknya membentuk naungan yang luas ketika pohon berkembang dengan baik.

Karakter tersebut membuat pohon asam menarik sebagai tanaman peneduh. Selain memberikan keteduhan, pohon ini menghasilkan buah yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan.

Daging buah asam jawa memiliki rasa masam yang khas. Masyarakat Indonesia menggunakannya sebagai bumbu masakan, termasuk untuk sayur asam dan berbagai hidangan tradisional.

Meski demikian, tidak tepat jika semua pohon asam di pinggir jalan dianggap ditanam Belanda atau berasal dari satu program penanaman yang sama. Untuk memastikan asal-usul setiap pohon tua, diperlukan catatan sejarah setempat atau bukti lain yang dapat diperiksa.

Jejak Sejarah yang Masih Terlihat hingga Sekarang

Kebiasaan menanam pohon di sepanjang jalan memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial membentuk lanskap perkotaan dan jalur transportasi. Pohon-pohon yang tumbuh besar kemudian menjadi bagian dari identitas sejumlah kawasan lama.

Kini, keberadaan pohon asam jawa juga memiliki nilai lingkungan. Tajuknya memberikan naungan, sementara pohon yang tumbuh di ruang terbuka dapat membantu menyediakan habitat bagi satwa tertentu.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Arsitektur Lansekap Universitas Udayana pada 2016 turut mengkaji penggunaan pohon asam jawa sebagai tanaman tepi jalan di sekitar trotoar Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Kajian tersebut membahas dampak fisik dan ekologis pohon asam dalam penataan lanskap perkotaan.

Artinya, manfaat pohon asam tidak berhenti pada cerita masa lalu. Tanaman ini masih relevan dalam pembahasan penghijauan kota, meskipun pemilihan pohon untuk jalan modern tetap perlu mempertimbangkan kondisi trotoar, jaringan utilitas, keselamatan pengguna jalan, dan kebutuhan perawatan.

Baca Lainya: Kenapa Pohon Dadap di Kebun Teh Menggugurkan Daun Saat Mekar Jingga? | Mitos atau Fakta: Pohon-Pohon yang Sering Diidentikan dengan Makhluk Gaib

Pada akhirnya, pohon asam jawa di pinggir jalan menyimpan cerita tentang pertemuan antara sejarah, tata ruang, dan lingkungan. Pohon yang dahulu dipilih sebagai peneduh dan penghias jalan kini menjadi bagian dari lanskap yang masih dinikmati masyarakat.

Melestarikan pohon-pohon tua yang sehat bukan hanya menjaga kenangan masa lalu. Upaya tersebut juga dapat mempertahankan keteduhan dan karakter lingkungan yang sulit digantikan dalam waktu singkat. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *