Petikhasil.id, MAKASSAR — Fenomena El Nino kembali menjadi perbincangan. Sebagian menyebutnya “El Nino Godzilla” karena potensi kekeringannya yang ekstrem. Bagi negara agraris seperti Indonesia, ancaman ini bukan sekadar isu cuaca, tetapi ujian nyata bagi ketahanan pangan.
Namun, di tengah kekhawatiran itu, cadangan beras nasional tercatat dalam posisi kuat. Stok beras pemerintah saat ini berada di kisaran 4,2 juta ton dan diproyeksikan meningkat hingga 5 juta ton pada bulan berikutnya. Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Jika dihitung dari total cadangan di gudang pemerintah, Bulog, hingga ketersediaan di masyarakat, pasokan pangan nasional diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 10 bulan ke depan.
Baca Lainya: Harga beras di Cirebon melonjak akibat El Nino | Guru Besar IPB Wanti-wanti Produksi Beras Berpotensi Turun
Produksi di Tengah Ancaman Kekeringan
El Nino biasanya membawa curah hujan di bawah normal dan memperpanjang musim kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memproyeksikan periode kering dapat berlangsung hingga enam bulan di sejumlah wilayah sentra produksi.
Bagi petani padi, musim kering panjang berarti tantangan pada ketersediaan air irigasi dan potensi penurunan produktivitas.
Namun, produksi tidak sepenuhnya berhenti. Dengan asumsi minimal 2 juta ton produksi per bulan selama periode kering, tambahan produksi dalam tujuh bulan dapat mencapai sekitar 14 juta ton. Angka ini menjadi penopang penting dalam menjaga stabilitas pasokan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras Indonesia dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil di atas 30 juta ton beras per tahun. Konsumsi nasional sendiri berada di kisaran 2,5 hingga 2,6 juta ton per bulan.
Dengan perbandingan tersebut, kombinasi stok awal dan produksi berjalan memberikan bantalan yang cukup menghadapi tekanan iklim.
Peran Lahan dan Pola Tanam
Di lapangan, petani mulai menyesuaikan pola tanam. Periode April hingga Juli menjadi fase krusial karena bertepatan dengan masa tanam di beberapa wilayah.
Optimalisasi lahan tadah hujan, percepatan tanam, hingga penggunaan varietas yang lebih tahan kekeringan menjadi strategi yang mulai diterapkan.
Kementerian terkait juga memantau distribusi air irigasi serta kesiapan pompanisasi di daerah rawan kekeringan. Upaya ini penting agar produksi tidak tergerus signifikan saat puncak El Nino.
Cadangan sebagai Tameng Stabilitas Harga
Cadangan beras dalam jumlah besar bukan hanya soal ketersediaan fisik, tetapi juga stabilitas harga di pasar.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa saat stok pemerintah kuat, gejolak harga dapat ditekan lebih efektif. Sebaliknya, ketika cadangan menipis, harga cenderung naik dan memicu kepanikan konsumen.
Dengan stok yang diperkirakan aman hingga akhir 2026 bahkan awal 2027, tekanan jangka pendek akibat cuaca ekstrem dapat diredam.
Baca Lainya: Harga beras di Cirebon melonjak akibat El Nino | Guru Besar IPB Wanti-wanti Produksi Beras Berpotensi Turun
Ujian bagi Ketahanan Pertanian Nasional
El Nino selalu menjadi pengingat bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada faktor alam. Namun, ia juga menguji kesiapan sistem pangan nasional: dari produksi, distribusi, hingga cadangan.
Indonesia memiliki keunggulan berupa luas lahan, keberagaman sentra produksi, serta sistem cadangan pemerintah yang terus diperkuat. Tantangannya adalah menjaga produktivitas tetap stabil di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Ketahanan pangan bukan hanya soal angka stok, tetapi juga soal kemampuan petani bertahan dan beradaptasi.
Di tengah ancaman kekeringan, sawah-sawah Indonesia kembali diuji. Dan sejauh ini, cadangan yang ada memberi ruang bernapas bagi sistem pangan nasional untuk tetap berdiri kokoh. (PtrA)






