Petikhasil.id, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) mempercepat pengurangan impor bahan baku pupuk, khususnya sulfur dari Timur Tengah. Perusahaan mengambil langkah ini untuk menjaga stabilitas produksi di tengah risiko geopolitik global.
Ketergantungan Impor Mulai Ditekan
Direktur Operasi Dwi Satryo Annurogo menyebut kebutuhan bahan baku pupuk NPK mencapai sekitar 3 juta ton per tahun. Sekitar 32,9% pasokan masih berasal dari kawasan Timur Tengah.
Ia menilai komposisi tersebut membuat rantai pasok rentan terhadap gangguan eksternal.
Baca Juga:Peluang Ekspor Pupuk Indonesia Terbuka Saat Pasar Global Terganggu
Sulfur Jadi Titik Kritis
Dwi menegaskan sulfur memegang peran penting dalam proses produksi pupuk karena industri mengolahnya menjadi asam sulfat. Gangguan pasokan sulfur langsung menekan kelancaran produksi.
Ia juga menyoroti konflik di sekitar Selat Hormuz yang meningkatkan risiko distribusi bahan baku tersebut.
Perusahaan Alihkan Strategi Pasokan
Pupuk Indonesia mengalihkan sebagian kebutuhan dari sulfur ke asam sulfat. Perusahaan mengamankan pasokan dari sumber domestik untuk menjaga kontinuitas produksi.
Pupuk Indonesia menjalin kontrak dengan PT Bripod Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional Tbk guna memperkuat pasokan.
Langkah ini membantu perusahaan menekan ketergantungan impor sekaligus menjaga efisiensi operasional.
Diversifikasi Perkuat Ketahanan
Perusahaan juga membuka opsi pasokan dari negara lain seperti Kanada. Namun, Dwi menilai persaingan global semakin ketat karena banyak negara memburu bahan baku yang sama.
Pupuk Indonesia tetap menjaga fleksibilitas dengan mengombinasikan pasokan domestik dan global.
Pupuk Jadi Kunci Produktivitas
Dwi menegaskan sektor pertanian sangat bergantung pada pupuk. Ia menyebut sekitar 62% produktivitas tanaman ditentukan oleh penggunaan pupuk.
Karena itu, perusahaan mempercepat diversifikasi bahan baku agar produksi tetap stabil.
Strategi Jangka Panjang
Pupuk Indonesia memperkuat strategi substitusi dan diversifikasi untuk mengurangi risiko gangguan pasokan. Perusahaan ingin memastikan produksi tetap berjalan stabil di tengah dinamika global.
Langkah ini sekaligus memperkuat ketahanan industri pupuk nasional dan mendukung sektor pertanian secara berkelanjutan. (PtrA)






