Petikhasil.id, JAKARTA — Industri kelapa sawit tetap menjadi penopang utama ekonomi Indonesia di tengah berbagai gejolak global. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat sektor ini terus menghasilkan devisa besar dan menyerap jutaan tenaga kerja.
Kontributor Devisa dan Lapangan Kerja
Ketua Umum Eddy Martono menegaskan industri sawit berperan besar dalam perekonomian nasional selama lebih dari empat dekade. Industri ini menopang kehidupan sekitar 16,2 juta kepala keluarga, termasuk petani dan pekerja.
Ia menyebut sektor sawit konsisten menghasilkan devisa dan membantu ekonomi bertahan saat krisis, mulai dari 1998, 2008, hingga pandemi Covid-19.
Baca Juga:Wilmar dan Astra Agro Bayar Denda Sawit, Total Capai Rp7,39 Triliun
Kinerja Ekspor Tetap Kuat
Gapki mencatat ekspor sawit mencapai puncak pada 2022 dengan nilai sekitar US$39 miliar atau setara Rp600 triliun. Nilai tersebut sempat turun akibat fluktuasi harga global, namun kembali meningkat menjadi US$35,9 miliar pada 2025.
Eddy menilai tren ini menunjukkan daya tahan industri sawit dalam menjaga neraca perdagangan tetap positif.
Biodiesel Hemat Devisa
Program mandatori biodiesel ikut memperkuat kontribusi sektor ini. Implementasi B35 hingga B40 mampu menghemat devisa secara signifikan.
Penghematan tercatat mencapai Rp120 triliun pada 2023, meningkat menjadi Rp124 triliun pada 2024, dan mencapai Rp133 triliun pada 2025.
Tantangan Produksi dan Produktivitas
Eddy mengakui industri sawit menghadapi stagnasi produksi dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, permintaan domestik untuk biodiesel dan pangan terus meningkat.
Ia mendorong percepatan program peremajaan sawit rakyat (PSR) serta pemanfaatan teknologi dan riset untuk meningkatkan produktivitas.
Kepastian Lahan Jadi Kunci
Gapki menilai kepastian hukum lahan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan industri. Eddy meminta pemerintah mempercepat penyelesaian status lahan sawit yang masuk kawasan hutan.
Menurutnya, kepastian hukum akan mendorong investasi dan memperkuat daya saing industri sawit nasional.
Inovasi dan Penguatan Produksi
Gapki terus mendorong inovasi untuk meningkatkan produktivitas. Organisasi ini mengembangkan bibit unggul melalui sumber daya genetik serta menghadirkan serangga penyerbuk dari Tanzania.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi secara berkelanjutan.
Tekanan Global Kian Meningkat
Industri sawit juga menghadapi tekanan eksternal. Kebijakan Uni Eropa melalui regulasi deforestasi (EUDR) serta kenaikan biaya produksi akibat konflik geopolitik menjadi tantangan utama.
Harga pupuk naik hingga 30%, sementara biaya bahan bakar hampir dua kali lipat. Kondisi ini mendorong kenaikan biaya di seluruh rantai produksi.
Biaya Logistik dan Ekspor Tertekan
Gapki mencatat biaya logistik ekspor meningkat tajam, terutama ke Eropa. Perubahan rute pelayaran dan kenaikan premi asuransi hingga 50% menekan daya saing.
Selain itu, ekspor ke Timur Tengah berpotensi menurun, meski kawasan tersebut sebelumnya menyerap sekitar 3 juta ton sawit Indonesia.
Sawit Tetap Strategis
Eddy menegaskan industri sawit tetap menjadi sektor strategis yang menopang ekonomi nasional. Ia menilai penguatan produktivitas, kepastian hukum, dan efisiensi biaya menjadi kunci menjaga daya saing di pasar global. (PtrA)






