Petikhasil.id, JAKARTA — Harga gabah dan harga beras selalu saling berkaitan. Saat petani mendapat harga gabah yang baik, mereka lebih semangat menanam. Namun saat harga beras terlalu tinggi, masyarakat langsung merasakannya di dapur rumah tangga.
Karena itu, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan kebutuhan konsumen.
Memasuki semester II tahun 2026, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan strategi untuk menjaga harga gabah tetap menguntungkan petani, tanpa membuat harga beras terlalu berat bagi masyarakat.
Produksi padi mulai menurun setelah masa panen raya pada April hingga Juni. Kondisi ini mengikuti pola musiman yang biasa terjadi setelah lonjakan panen pada Februari dan Maret.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan penurunan produksi ini masih dalam batas normal dan belum mengganggu pasokan nasional.
“Stok beras nasional masih cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga semester II tahun ini,” ujarnya dikutip Rabu (13/5/2026).
Baca Juga: Stok Beras RI Capai Rekor 5 Juta Ton
Cadangan Beras Menjadi Penyangga
Pemerintah mengandalkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebagai bantalan utama untuk menjaga stabilitas harga.
Pada April 2026, Perum Bulog mencatat stok CBP mencapai 5 juta ton. Jumlah ini cukup untuk menjaga distribusi dan menahan gejolak harga beras di pasar.
Selain menjaga stok, pemerintah juga mendorong percepatan tanam, memperluas areal tanam, menyalurkan benih dan pupuk, serta memperkuat mekanisasi pertanian agar produksi musim berikutnya tetap terjaga.
Bapanas juga masih memiliki ruang intervensi melalui penyaluran cadangan beras, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), hingga bantuan pangan jika diperlukan.
Harga Gabah Harus Tetap Menguntungkan
Di sisi petani, pemerintah ingin memastikan harga gabah tetap memberi keuntungan yang layak. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menjadi salah satu alat utama agar petani tetap bergairah menanam padi.
Jika harga gabah terus naik terlalu tinggi, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi seperti memperkuat pengadaan gabah dan beras oleh Bulog secara terukur.
Pemerintah juga mempercepat distribusi beras ke wilayah yang mengalami tekanan harga agar kenaikan tidak semakin tajam.
Selain itu, pemerintah memperketat pengawasan distribusi agar pasokan tidak tersendat dan harga tetap terkendali.
Operasi Pasar Dilakukan Secara Selektif
Bapanas juga membuka peluang untuk memperluas operasi pasar jika terjadi lonjakan harga pangan yang tidak terkendali atau ada daerah yang mengalami tekanan pasokan dan inflasi tinggi.
Namun, pemerintah tidak menjalankan intervensi secara berlebihan. Pemerintah memilih langkah yang selektif karena kondisi stok nasional masih relatif aman.
Wilayah yang memiliki harga beras di atas harga eceran tertinggi (HET) menjadi prioritas utama.
Pemerintah juga ingin memperkuat efisiensi rantai distribusi dan penggilingan agar kenaikan harga gabah di tingkat petani tidak berlipat saat sampai ke tangan konsumen.
Pada akhirnya, menjaga harga gabah dan harga beras bukan hanya soal angka produksi dan cadangan stok. Pemerintah harus menjaga semangat petani untuk terus menanam, sekaligus memastikan masyarakat tetap bisa membeli beras tanpa rasa cemas.
Ketika harga gabah terlalu rendah, petani kehilangan harapan. Saat harga beras terlalu tinggi, dapur rumah tangga ikut kehilangan ketenangan. (PtrA)






