Harga Telur Ayam Anjlok, Peternak Rugi

Petikhasil.id, JAKARTA — Harga telur ayam anjlok dan membuat banyak peternak kesulitan. Telur selama ini menjadi sumber protein paling dekat dengan dapur masyarakat. Murah, mudah didapat, dan selalu hadir dalam kebutuhan harian keluarga.

Namun, di balik rak telur di pasar, peternak justru menghadapi tekanan besar. Harga jual terus turun, sementara biaya produksi tetap tinggi.

Saat ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak berada di kisaran Rp21.000 per kilogram. Angka ini jauh di bawah harga pokok produksi yang mencapai Rp24.000 per kilogram.

Artinya, peternak menjual telur lebih murah daripada biaya yang mereka keluarkan untuk memelihara ayam dan menghasilkan telur.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Herry Dermawan, menilai kondisi ini tidak mencerminkan pasar yang sehat. Ia menyebut adanya permainan harga oleh tengkulak atau middleman di tengah kelebihan pasokan telur.

Baca Juga: Harga Ayam Telur Tertekan Biaya

Harga Murah di Kandang, Mahal di Pasar

Menurut Herry, banyak peternak berada dalam posisi terdesak karena membutuhkan uang cepat untuk menjaga operasional usaha. Kondisi ini membuat mereka terpaksa menjual telur dengan harga murah kepada perantara.

Harga telur di kandang hanya sekitar Rp21.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur di tingkat konsumen tetap berada di kisaran Rp29.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

Selisih harga yang lebar ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan peternak. Mereka menilai keuntungan lebih banyak dinikmati rantai distribusi di tengah, bukan oleh peternak sebagai produsen utama.

Padahal, Acuan Pembelian (HAP) untuk telur ayam ras di tingkat produsen sudah berada di angka Rp26.500 per kilogram.

Ketika harga jual jauh di bawah angka tersebut, peternak kecil menjadi pihak pertama yang merasakan tekanan.

Surplus Produksi Menekan Harga

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengakui adanya surplus pasokan telur secara nasional.

Produksi telur nasional pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan nasional berada di kisaran 6 juta ton lebih.

Artinya, terdapat surplus sekitar 800.000 ton atau setara 13 persen dari kebutuhan nasional.

Produksi telur tidak bisa berhenti begitu saja. Ayam petelur tetap menghasilkan telur setiap hari sehingga pasokan terus bertambah.

Saat peternak ingin cepat menjual stok, mereka sering memilih banting harga agar telur segera keluar dari kandang. Situasi ini memicu perang harga di lapangan.

Pemerintah Siapkan Harga Minimum

Untuk menjaga stabilitas, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah intervensi.

Pemerintah akan mengeluarkan surat edaran agar harga beli telur di tingkat produsen minimal berada di angka Rp25.000 per kilogram.

Langkah ini diharapkan memberi ruang napas bagi peternak agar mereka tidak terus menjual di bawah biaya produksi.

Selain itu, pemerintah juga berencana menata peran tengkulak agar rantai distribusi menjadi lebih sehat dan harga menjadi lebih adil bagi semua pihak.

Pada akhirnya, harga telur ayam anjlok bukan hanya soal angka di pasar. Di balik setiap butir telur, ada biaya pakan yang terus naik, ada peternak yang berjuang menjaga kandang tetap hidup, dan ada harapan agar usaha kecil di desa tidak tumbang karena harga jatuh terlalu dalam. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *