Petikhasil.id, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mengantisipasi kenaikan harga daging sapi di dalam negeri seiring gejolak global akibat konflik di Timur Tengah.
Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) menilai lonjakan harga minyak dunia dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi, sehingga mendorong harga daging sapi domestik.
Kenaikan Harga Dipicu Biaya Energi
Kesmavet menjelaskan Indonesia masih mengandalkan pasokan daging sapi, baik daging beku maupun sapi hidup, dari Australia. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar biaya logistik dan produksi.
“Kenaikan harga minyak dunia dapat memengaruhi harga daging sapi secara tidak langsung,” ujarnya.
Impor Tidak Terdampak Langsung
Kementan memastikan konflik di Timur Tengah tidak mengganggu jalur impor daging sapi Indonesia. Pasokan utama berasal dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Jepang, dan Brasil.
Distribusi dari negara-negara tersebut tidak melewati kawasan konflik, sehingga arus logistik tetap berjalan normal.
Baca Juga:RI Masih Impor Sapi untuk Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri
Harga Global Mulai Naik
Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan indeks harga daging dunia naik 1,0% secara bulanan pada Maret 2026.
Kenaikan ini terutama terjadi pada daging sapi, dipicu keterbatasan pasokan ekspor dari Brasil.
Harga Domestik Berpotensi Tembus Rp180 Ribu
Ketua Jaringan Pemotong dan Pengusaha Daging Indonesia (Jappdi), Asnawi, memproyeksikan harga daging sapi di pasar domestik dapat mencapai Rp160.000–Rp180.000 per kilogram.
Ia menyebut kenaikan dipicu oleh meningkatnya permintaan serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, tren kenaikan sudah berlangsung sebelum eskalasi konflik global.
Ketergantungan Impor Jadi Risiko
Asnawi menilai struktur pasokan nasional masih rentan karena bergantung pada impor.
Dengan konsumsi sekitar 2,7 kilogram per kapita dan jumlah penduduk 284 juta jiwa, kebutuhan daging sapi nasional mencapai sekitar 766.800 ton per tahun.
Produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 40%–45% kebutuhan, sehingga pemerintah harus menutup kekurangan melalui impor sapi hidup dan daging beku.
Persaingan Global Makin Ketat
Permintaan dari negara besar seperti China dan Amerika Serikat memperketat pasokan global.
China meningkatkan impor daging kerbau dari India untuk menggantikan pasokan daging babi. Sementara itu, Amerika Serikat aktif membeli di pasar global karena tekanan produksi domestik.
Kondisi ini mendorong kenaikan harga sapi hidup asal Australia hingga mendekati US$4 per kilogram.
Dampak ke Harga Konsumen
Kenaikan harga sapi hidup tersebut setara sekitar Rp68.500 per kilogram dengan asumsi kurs Rp17.125 per dolar AS.
Setelah proses pemotongan menjadi karkas, pelaku usaha memperkirakan harga daging mencapai sekitar Rp137.000 per kilogram.
Harga tersebut kemudian mendorong harga eceran di pasar domestik ke kisaran Rp160.000–Rp180.000 per kilogram.
Tekanan dari Hulu ke Hilir
Kenaikan biaya energi, ketergantungan impor, dan persaingan global menunjukkan tekanan terjadi dari hulu hingga hilir sektor pangan.
Kondisi ini memperbesar risiko kenaikan harga daging sapi di dalam negeri dalam beberapa waktu ke depan.(PtrA)






