Masih Untungkah Usaha Sapi Perah di Arjasari

Petikhasil.id, ARJASARI — Pertanyaan ini makin sering muncul ketika anak muda mulai melirik peternakan. Masih untungkah usaha sapi perah di kampung. Di Arjasari, jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Usaha ini tetap menjanjikan, tetapi tidak pernah benar-benar ringan. Ada hari ketika susu mengalir banyak dan harga terasa masuk akal. Ada juga masa saat sapi masuk fase kering kandang, produksi berhenti, tetapi biaya pakan dan gaji pekerja tetap berjalan.

Di kandang Kelompok Ternak Sukasari, gambaran itu terasa nyata. Jefri Tir Purmadi, ketua kelompok, menyebut usaha sapi perah tidak selalu untung, tetapi juga tidak selalu rugi. Menurutnya, fase paling menantang justru datang saat sapi belum atau tidak sedang berproduksi. Pada masa itu, hijauan, konsentrat, dan kebutuhan kandang tetap harus masuk. Namun pemasukan dari susu belum tentu ada.

Baca Lainya: Usaha Sapi Perah di Arjasari Masih Menjanjikan untuk Anak Muda | Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat

Produksi susu bisa besar saat sapi sedang bagus

Meski begitu, usaha sapi perah tetap punya daya tarik ekonomi yang kuat. Dari sekitar 100 populasi ternak, kelompok ini memiliki sekitar 40 indukan yang sedang diproduksi. Rata-rata produksi harian berada di kisaran 15 liter per ekor. Saat sapi masuk puncak produksi, angkanya bisa naik hingga sekitar 25 liter per ekor per hari. Bagi peternak, titik inilah yang membuat sapi perah tetap terlihat menjanjikan.

Di tingkat kandang, Jefri juga menyebut harga susu yang ia terima kini berada di kisaran Rp7.500 per liter. Ia bahkan menceritakan bahwa dulu harga sempat berada di angka sekitar Rp4.500 per liter, lalu naik bertahap menjadi Rp5.000, Rp5.500, hingga akhirnya mencapai Rp7.500. Kenaikan itu membuat banyak peternak merasa sektor susu masih punya masa depan, selama kualitas dan volume tetap terjaga.

Pakan tetap jadi pengeluaran terbesar

Kalau ditanya kenapa usaha ini tidak bisa dihitung kasar begitu saja, jawabannya ada di biaya harian. Dalam transcript liputan, Jefri menjelaskan bahwa pengeluaran terbesar datang dari pakan dan tenaga kerja. Sapi tidak cukup diberi satu jenis makanan. Di kandangnya, pakan terdiri dari konsentrat, ampas tahu, hijauan, dan dedak. Untuk satu ekor sapi, total pakan tambahan bisa mencapai sekitar 10 kilogram sekali pemberian, dan diberikan tiga kali sehari. Artinya, biaya makan menjadi beban yang selalu hadir setiap hari.

Di luar itu, ada biaya pekerja. Delapan orang membantu kegiatan di kandang, dan sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar. Ini membuat usaha sapi perah bukan hanya soal penghasilan pemilik kandang, tetapi juga menyangkut nafkah warga sekitar yang ikut bekerja di dalamnya. Saat produksi turun, tekanan biaya tentu makin terasa. Namun saat produksi bagus, kandang seperti ini ikut menggerakkan ekonomi kampung.

Risiko terbesar bukan hanya harga

Banyak orang mengira tantangan peternak hanya soal harga susu. Padahal, risiko terbesar justru sering datang dari hal lain. Jefri menyebut kematian ternak sebagai ancaman paling berat, terutama bagi peternak kecil yang hanya memiliki satu atau dua ekor sapi. Ketika satu ekor mati, yang hilang bukan hanya aset, tetapi juga sumber pendapatan harian.

Selain kematian, ada pula ancaman penyakit seperti demam tiga hari dan kekhawatiran terhadap PMK. Belum lagi kesulitan saat pemerahan jika sapi sedang galak, stres, atau tidak mau mengeluarkan susu. Semua itu membuat usaha sapi perah tidak bisa dibaca sekadar dari harga jual susu. Ia adalah kombinasi antara perawatan, keberuntungan, siklus biologis ternak, dan kemampuan bertahan dalam masa sulit.

Pasar susu masih memberi harapan

Meski tantangannya besar, pasar susu di Arjasari masih memberi ruang optimisme. Jefri mengatakan susu hasil kandangnya dan peternak sekitar masih terserap. Dalam sehari, kandang dan penampungan yang ia kelola bisa menghimpun sekitar 4 ton susu. Hasil itu disalurkan ke pabrik dan penjualan lain yang membutuhkan susu segar. Dari sini terlihat bahwa permintaan masih ada, asalkan kualitas tetap dijaga.

Penyuluh pertanian setempat juga memberi sinyal yang sejalan. Ia menilai harga susu sapi masih berpotensi terus naik selama peternak mampu menjaga kualitas dan kuantitas produksi. Dalam wawancara, ia bahkan menyebut permintaan datang bukan hanya dari konsumen umum, tetapi juga dari kebutuhan yang lebih besar, sehingga tantangan utamanya kembali ke mutu dan kontinuitas.

Baca Lainya: Usaha Sapi Perah di Arjasari Masih Menjanjikan untuk Anak Muda | Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat

Masih untung, tetapi tidak instan

Kalau ditarik ke pertanyaan awal, usaha sapi perah di Arjasari masih bisa untung. Namun keuntungan itu tidak datang dengan mudah. Peternak harus bangun subuh, merawat sapi dengan disiplin, menanggung biaya pakan yang besar, dan siap menghadapi risiko saat produksi turun. Mereka juga harus sabar menunggu siklus sapi sampai kembali ke fase menghasilkan.

Karena itu, usaha sapi perah lebih tepat dibaca sebagai usaha yang menjanjikan bagi mereka yang siap tekun. Ia bukan jalan cepat kaya, tetapi juga bukan pekerjaan yang pantas diremehkan. Dari kandang-kandang di Arjasari, terlihat bahwa susu masih bisa menjadi sumber hidup yang nyata. Hanya saja, di balik satu liter susu, ada biaya, tenaga, dan kesabaran yang tidak kecil. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *