Kenapa Benih Padi Ditembak Radiasi Nuklir Agar Tahan Rebah? Meluruskan Prasangka Mutasi Tanaman di Balik Piring Nasi Kita

Petikhasil.id, KARAWANG — Bau lumpur aluvial basah bercampur aroma khas jerami tercium pekat saat angin barat bertiup melintasi hamparan persawahan Desa Lemahabang, Kabupaten Karawang. Hujan lebat semalam suntuk sempat membuat para pemilik lahan cemas. Biasanya, sawah yang padinya sudah menguning lebat akan porak-poranda jika diterpa angin kencang bercampur air hujan. Batang-batang padi yang terlalu jangkung kerap patah dari pangkalnya, membuat rumpun tanaman rebah tenggelam ke dalam genangan lumpur dan membusuk sebelum sempat disabit.

Namun di petak sawah milik Aepudin (51), pemandangan itu tidak terjadi. Rumpun-rumpun padinya tetap berdiri tegak setinggi pinggang orang dewasa. Batangnya tampak kokoh menyangga malai gabah yang melengkung padat berisi bulir-bulir bernas.

“Dulu kalau pakai bibit lokal tua, tingginya bisa sedada. Kena angin sedikit saja langsung roboh rata dengan tanah. Kalau padi yang ini batangnya pendek berotot, disapu hujan angin kemarin malam pun tetap tegak,” tutur Aepudin sambil mematahkan sebatang jerami untuk memperlihatkan rongga batangnya yang tebal.

Padi yang ditanam Aepudin adalah varietas Sidenuk. Di balik namanya yang terdengar sederhana, varietas ini menyimpan sejarah ilmiah yang kerap memicu salah paham bagi masyarakat perkotaan. Sidenuk adalah akronim dari Sintanur Dedikasi Nuklir, sejenis padi unggul yang lahir dari kamar radiasi nuklir.

Baca Lainya: PM-AAS Janjikan Panen Padi 12,4 Ton per Hektare, tetapi Sawah Petani Bukan Ruang Uji yang Seragam | Pemkab Kuningan targetkan surplus padi 120.000 ton di 2025

Bukan racun radioaktif, melainkan ketukan halus pada untaian DNA

Mendengar kata nuklir dan mutasi, sebagian orang spontan membayangkan monster tanaman beracun atau beras yang memancarkan pendar radioaktif berbahaya. Prasangka semacam ini muncul akibat salah kaprah menyamakan radiasi pemuliaan tanaman dengan limbah kecelakaan reaktor atom.

Di fasilitas Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) yang kini berada di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Pasar Jumat, Jakarta Selatan, proses ini berlangsung murni secara fisika gelombang. Ribuan butir benih padi kering dimasukkan ke dalam ruang iradiasi berpelindung timbal tebal bernama Gammacell-220. Di dalam ruangan tersebut, benih-benih disinari oleh gelombang elektromagnetik sinar gamma yang dipancarkan oleh radioisotop Cobalt-60 ($^{60}Co$) selama durasi beberapa menit.

Sinar gamma adalah foton berenergi sangat tinggi. Ketika berkas sinar ini menembus cangkang gabah dan menyentuh inti sel embrio tanaman, energi radiasinya merobek atau mengubah susunan ikatan hidrogen pada pasangan basa nitrogen DNA.

Peristiwa ini sama sekali tidak meninggalkan residu partikel radioaktif pada biji tanaman. Prosesnya persis seperti sepotong tulang manusia yang difoto menggunakan sinar-X di rumah sakit: jaringan tubuh terpapar radiasi sesaat untuk tujuan tertentu, tetapi pasien yang keluar dari ruangan rontgen tidak pernah berubah menjadi radioaktif.

Teknik ini juga berbeda mendasar dari rekayasa genetika tanaman transgenik (Genetically Modified Organism atau GMO). Pemuliaan mutasi (mutation breeding) tidak menyisipkan gen asing dari bakteri, hewan, atau virus ke dalam tanaman. Radiasi gamma hanya memicu perombakan acak pada susunan gen asli tanaman itu sendiri, mempercepat proses seleksi alam yang biasanya membutuhkan waktu ribuan tahun jika mengandalkan mutasi alami akibat radiasi kosmik bumi.

Menyingkat batang padi agar tidak patah diterjang angin musim

Sebelum disinari radiasi gamma, varietas induknya yakni padi Sintanur dan Diah Suci dikenal memiliki cita rasa nasi yang sangat pulen dan beraroma wangi daun pandan alami. Namun varietas induk tersebut memiliki kelemahan agronomi yang fatal di mata petani batangnya terlalu tinggi (mencapai 130 sentimeter) dan masa hidupnya lambat (butuh waktu hampir lima bulan sebelum bisa dipanen).

Kelemahan inilah yang disasar oleh para periset pemuliaan tanaman. Dari puluhan ribu benih hasil radiasi gamma yang disemai di petak uji coba, peneliti menyaring mutan-mutan yang mengalami perubahan sifat fisik secara positif.

Pada varietas Sidenuk, mutasi berhasil mematikan gen dominan yang mengatur perpanjangan ruas batang (internode). Hasilnya, tinggi tanaman terpangkas menjadi rata-rata 100 sentimeter. Dinding sel sklerenkim pada pangkal batang tersusun lebih padat dengan kandungan lignin yang kokoh, membuat tanaman memiliki daya tahan rebah yang sangat tinggi.

Perubahan genetik mikro ini juga memangkas umur panen secara drastis dari 135 hari menjadi hanya 103 hari setelah sebar. Waktu tanam yang lebih singkat berarti petani menghemat air irigasi, mengurangi risiko serangan hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens), dan sanggup memanen hingga 9,1 ton gabah kering panen per hektare.

Kedelai berukuran dua kali lipat dari ruang radiasi Pasar Jumat

Jejak keberhasilan mutasi buatan ini tidak berhenti pada komoditas beras. Di sektor pangan lainnya, pemuliaan radiasi sinar gamma melahirkan varietas kedelai superbesar bernama Mutiara 1.

Selama puluhan tahun, perajin tahu dan tempe di sentra-sentra produksi Jawa Barat dan Jawa Tengah mengeluhkan ukuran biji kedelai lokal yang relatif kecil, dengan bobot hanya berkisar 10 hingga 13 gram per seratus biji. Keterbatasan fisik ini memaksa industri pengolahan tempe bergantung pada kedelai impor asal Amerika Serikat yang berbiji besar.

Melalui perlakuan radiasi gamma dosis tertentu pada benih kedelai lokal, para pemulia tanaman di Pasar Jumat berhasil melipatgandakan bobot biji tanaman tersebut. Varietas Mutiara 1 mampu menghasilkan biji kedelai dengan bobot rata-rata 23,2 gram per seratus biji, melampaui ukuran kedelai impor, dengan kadar protein mencapai 42 persen dan potensi panen tembus 4,2 ton per hektare.

Dinding sel biji kedelai mutan ini menghasilkan pori kotiledon yang lebih renggang ketika direndam air, mempercepat penetrasi enzim jamur Rhizopus oligosporus saat proses fermentasi tempe berlangsung di rumah-rumah perajin.

Baca Lainya: PM-AAS Janjikan Panen Padi 12,4 Ton per Hektare, tetapi Sawah Petani Bukan Ruang Uji yang Seragam | Pemkab Kuningan targetkan surplus padi 120.000 ton di 2025

Piring makan yang diselamatkan oleh perubahan mikroskopis

Ketika sepiring nasi pulen yang mengepul disajikan di atas meja makan, jarang ada orang yang menyadari bahwa butiran beras putih tersebut pernah melewati benturan foton nuklir berkekuatan tinggi di laboratorium penelitian. Mutasi tanaman bukanlah kutukan sains fiksi, melainkan siasat biologis manusia untuk mengejar laju perubahan iklim dan ledakan populasi.

Di pematang sawah Lemahabang, Kang Aepudin meraup segenggam gabah Sidenuk yang baru dipetiknya. Butirannya padat dan keras, tanda pembentukan pati amilosa dan amilopektin berlangsung sempurna di dalam jaringan endosperma.

Bagi petani yang menggantungkan hidupnya pada kemurahan langit, kemajuan teknologi bukanlah tentang istilah-istilah rumit di ruang seminar. Teknologi adalah ketika tanaman mereka tidak rebah ke dalam lumpur saat badai datang menerpa di tengah malam, memastikan periuk nasi di dapur rumah tetap terisi esok hari. (Agk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *