Petikhasil.id, CIANJUR — Di salah satu kios sarana produksi pertanian kawasan Cipanas, Cianjur, seorang petani sayur mengamati deretan botol plastik berkilau di rak pajangan. Label pada botol-botol tersebut menjanjikan jutaan koloni mikroba pengurai, bakteri pemacu pertumbuhan, dan jamur pelindung akar. Harganya tidak murah. Untuk lahan seluas setengah hektare, petani kerap harus menyisihkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap musim tanam hanya demi menebus cairan starter bakteri kemasan industri.
Ketergantungan belanja mikroba dalam botol tertutup ini justru menjadi tanda tanya besar di Korea Selatan. Melalui gerakan pertanian berbiaya ultra-rendah yang dikenal sebagai Jadam (Jayonul Damun Saramdul), puluhan ribu petani di Semenanjung Korea membuktikan bahwa membeli bibit bakteri dari pabrik adalah langkah mubazir yang membebani kas kebun.
Gagasan dasar yang dirumuskan oleh ahli agronomi organik Youngsang Cho ini sangat membumi: mikroorganisme terkuat di muka bumi bukanlah mikroba hasil rekayasa laboratorium yang dikurung dalam botol plastik berbulan-bulan, melainkan organisme tanah lokal yang sudah beradaptasi ribuan tahun di bawah rimbun hutan sekitar kebun.
Berburu koloni tangguh di bawah rumpun bambu
Langkah awal pembuatan larutan mikroba ala petani Korea ini tidak melibatkan alat ukur laboratorium yang rumit. Petani cukup berjalan kaki ke hutan terdekat, pinggir sungai, atau rumpun bambu liar di batas desa.
Di bawah timbunan daun bambu yang membusuk, terdapat lapisan serasah berwarna abu-abu keputihan yang menebarkan aroma humus basah segar. Lapisan ini adalah miselium jamur dan koloni bakteri liar indigen (indigenous microorganisms).
Bakteri dan jamur yang hidup di serasah bambu telah teruji lolos seleksi alam. Mereka mampu bertahan dari beku salju musim dingin hingga terik matahari musim panas tanpa kehilangan vitalitas sel.
Petani hanya perlu mengambil satu genggam serasah sarat mikroba ini, lalu memasukkannya ke dalam kantong kain kasa halus serupa kantong celup teh. Inilah inokulum gratis yang kualitasnya jauh melampaui mikroba dorman di dalam botol pabrikan.
Sebutir kentang rebus pengganti tetes tebu impor
Untuk membangunkan dan melipatgandakan mikroba hutan tersebut, petani tidak memerlukan molase atau tetes tebu pabrik gula yang kerap sulit didapat di pelosok desa. Pakan utama mikroba ini diganti dengan bahan yang ada di dapur: kentang atau ubi jalar rebus.
Sebutir kentang seberat seratus gram dilumatkan hingga halus di dalam air bersama sejumput kecil garam laut mentah (sea salt). Pati matang dari kentang menyediakan karbohidrat rantai pendek yang mudah dicerna oleh enzim amilase bakteri.
Garam laut mentah menyumbang lebih dari delapan puluh jenis mineral mikro alami—mulai dari magnesium, seng, boron, hingga kalsium—yang menyerupai komposisi cairan seluler tanaman.
Kantong berisi tanah hutan dan lumat kentang itu kemudian diremas di dalam drum berisi lima ratus liter air sumur bersih. Tanpa aerator listrik bertenaga besar, campuran dibiarkan berfermentasi di suhu ruang terbuka.
Buih mendidih di permukaan drum fermentasi
Dalam waktu dua puluh empat hingga empat puluh delapan jam, perubahan visual yang dramatis mulai tampak di permukaan drum. Gelembung-gelembung gas karbon dioksida naik ke permukaan, membentuk kubah buih tebal menyerupai air yang mendidih pelan.
Buih tebal ini adalah tanda puncak ledakan populasi (exponential growth phase). Bakteri perombak selulosa, pelarut fosfat, dan pengikat nitrogen liar seperti Bacillus subtilis dan Pseudomonas berkembang biak dari ribuan menjadi triliunan individu per mililiter cairan.
Cairan keruh beraroma tape segar ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Petani Korea segera mengocorkannya ke tanah bedengan saat buih berada di titik tertinggi, tepat ketika dinding sel mikroba sedang berada pada puncak keaktifannya.
Begitu masuk ke lapisan perakaran (rizosfer), pasukan renik ini segera melapisi rambut akar tanaman budidaya. Koloni mikroba lokal merombak residu pupuk yang mengendap di tanah, memproduksi antibiotik alami pelindung akar, serta menguraikan partikel tanah liat yang padat menjadi gembur.
Bagi petani hortikultura di tanah air, inovasi murah dari Korea ini memberikan tamparan telak. Kesuburan kebun sering kali tidak terletak pada kemampuan petani membeli teknologi impor berkemasan mewah, melainkan pada kemauan untuk menunduk dan mengambil kembali segenggam tanah hutan yang selama ini terinjak di belakang rumah. (Vry)







