Petikhasil.id, GROBOGAN — Bau asam fermentasi daun jagung basah tercium samar saat langkah kaki menembus rimbun guludan di Desa Toroh, Kabupaten Grobogan. Di bawah terik matahari Jawa Tengah yang memanggang tanah liat berdebu, ratusan batang jagung berumur tiga puluh hari tampak merana. Helaian daun mudanya tidak lagi mulus menjuntai, melainkan koyak compang-camping seperti habis ditembusi rentetan peluru timah. Di bagian kuncup yang masih menggulung rapat, gumpalan kotoran berwarna cokelat muda serupa serbuk gergaji basah menyumbat jalan masuk udara.
Ketika gulungan pucuk itu disibak dengan ujung jempol, tampaklah biang keroknya. Seekor larva ulat berukuran sekitar tiga sentimeter menggeliat pelan. Tubuhnya berwarna hijau zaitun kusam dengan garis-garis pucat di punggungnya. Pada bagian dahinya, terdapat guratan terang yang membentuk huruf Y terbalik, sementara di segmen kedelapan perutnya tersusun empat bintik hitam berbentuk bujur sangkar sempurna. Ulat ini adalah Spodoptera frugiperda, hama asal benua Amerika yang lebih dikenal sebagai fall armyworm.
Lima tahun sejak kedatangannya yang mengguncang tanah air pada awal 2019, hama ini telah mengubah total cara petani jagung Nusantara memandang kebun mereka sendiri.
Satu lubang persembunyian yang kebal semprotan
Di saung bambu tepi petak sawah tadah hujan, Suwardi (58) duduk menghela napas sembari memandang tangki semprot manual miliknya yang tergeletak di tanah. Sudah tiga kali dalam dua pekan terakhir ia menyemprotkan insektisida kontak ke tanaman jagungnya. Hasilnya nihil. Ulat-ulat itu tetap hidup segar bugar di dalam gulungan kuncup, terus menggerek jaringan muda tanpa terganggu kabut racun kimia.
“Disemprot pagi, sore ulatnya masih jalan. Racunnya tidak pernah sampai ke dalam rumahnya,” keluh Suwardi sambil mengisap rokok kreteknya dalam-dalam.
Duduk perkaranya bukan terletak pada racun murah atau dosis yang kurang pekat. Ini adalah persoalan perilaku biologis. Larva Spodoptera frugiperda memiliki insting bertahan hidup yang sangat licik dibanding ulat grayak lokal (Spodoptera litura). Segera setelah menetas dari kelompok telur berbulu halus di balik daun, larva instar pertama langsung bergerak menuju titik tumbuh (meristem apikal) jagung yang tersembunyi di pangkal gulungan daun terdalam.
Di sanalah larva membangun benteng perlindungan. Mereka memakan jaringan meristem yang kaya air dan gula sembari mengeluarkan kotoran dalam volume besar. Serbuk kotoran (frass) yang menumpuk di mulut gulungan daun berfungsi ganda: menyerap cairan pestisida yang disemprotkan dari atas sekaligus menghalangi sinar matahari langsung yang bisa membuat tubuh ulat mengalami dehidrasi. Pestisida kontak hanya membasahi daun bagian luar, sementara sang perusak tetap aman berpesta di bilik terdalam.
Ketika titik tumbuh tersebut habis dilahap, tanaman jagung kehilangan kemampuan untuk membentuk daun baru atau memanjangkan buku batangnya. Batang menjadi kerdil, pucuk membusuk, dan tongkol tidak akan pernah terbentuk.
Baca Lainya: Tantangan Bertani Alpukat Hass, Mulai dari Hama, Cuaca Ekstrem hingga Ancaman Pencurian | Tutut, Keong Sawah yang Sering Dianggap Sepele, Ternyata Punya Nilai Pangan dan Ekonomi
Tanda huruf Y terbalik dan kebiasaan memangsa saudara sendiri
Bagi mata orang awam, ulat grayak jagung sekilas serupa dengan ulat grayak biasa atau ulat penggerek tongkol (Helicoverpa armigera). Namun para entomolog dari Institut Pertanian Bogor (IPB University) mencatat ciri taksonomi yang tidak terbantahkan. Pada kepala larva S. frugiperda, terdapat garis jahitan epikranial berbentuk huruf Y terbalik berwarna putih kekuningan yang sangat kontras dengan kapsul kepalanya yang gelap.
Ciri penanda kedua terletak pada segmen perut kedelapan. Di punggung ruas ini terdapat empat tonjolan bintik hitam (pinakula) yang membentuk pola empat titik bujur sangkar presisi, berbeda dari ulat grayak jenis lain yang titiknya tersusun acak atau membentuk garis memanjang.
Keunikan lain dari hama ini adalah sifat kanibalismenya yang tinggi pada fase larva lanjut. Jika seekor ngengat meletakkan ratusan butir telur pada satu tanaman jagung, puluhan larva yang menetas akan saling serang dan memangsa saudaranya sendiri saat memasuki instar ketiga. Pada akhirnya, hanya akan tersisa satu atau dua larva paling dominan di setiap pucuk tanaman.
Strategi kanibalisme ini secara alami mengatur kepadatan populasi ulat agar pasokan pakan di pucuk jagung mencukupi hingga mereka siap memasuki fase kepompong di dalam tanah.
Angin monsun yang menerbangkan jutaan telur lintas pulau
Kisah invasi hama ini di Indonesia bermula pada akhir Maret 2019. Tim peneliti Departemen Proteksi Tanaman IPB University pertama kali mengonfirmasi keberadaan Spodoptera frugiperda di hamparan jagung Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Dari lembah di barat Sumatra itu, penyebaran hama berlangsung dengan kecepatan yang mencengangkan para pakar proteksi tanaman.
Hanya dalam hitungan bulan, laporan serangan serupa bermunculan di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga menyeberang ke Sumbawa dan Sulawesi Selatan.
Kecepatan invasi ini didorong oleh kemampuan terbang ngengat dewasa (imago). Ngengat betina mampu menempuh jarak terbang aktif hingga 100 kilometer dalam satu malam, memanfaatkan dorongan arus angin monsun di lapisan atmosfer bawah. Sepanjang masa hidupnya yang berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan, seekor ngengat betina sanggup memproduksi seribu hingga dua ribu butir telur.
Telur-telur tersebut diletakkan berkelompok di permukaan bawah daun, dilapisi lapisan bulu-bulu halus mirip sutra yang berasal dari ujung perut induknya. Lapisan bulu ini melindungi telur dari terik matahari dan serangan serangga pemangsa mikro seperti kepik pemangsa atau semut.
Klimaks perpindahan ini terjadi ketika musim tanam jagung serentak tiba di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Jutaan hektare tanaman muda usia rentan menjadi bentangan karpet hijau tanpa batas bagi kawanan ngengat untuk bertelur tanpa henti.
Menghentikan ketergantungan pada racun kimia di pematang
Di tengah keputusasaan menyemprot bahan kimia sintetis yang kian mahal, sejumlah kelompok tani di Grobogan mulai beralih ke pendekatan ekologis yang lebih masuk akal. Petani tidak lagi membasahi seluruh tajuk tanaman dengan insektisida kimia berspektrum luas yang justru membunuh musuh alami seperti kumbang kubah (coccinellid) dan laba-laba pemburu.
Sebagian petani mulai memanfaatkan abu sekam padi atau serbuk pasir halus yang dicampur kapur pertanian, lalu ditaburkan langsung sejumput demi sejumput ke dalam corong gulungan daun jagung. Butiran silika tajam dari abu sekam ini menggores kutikula lunak tubuh ulat, memicu dehidrasi fatal pada larva muda tanpa mencemari tanah.
Di laboratorium riset, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perguruan tinggi terus memperbanyak agens hayati lokal seperti parasitoid telur Trichogramma spp. serta jamur entomopatogen Beauveria bassiana dan Metarhizium rileyi. Ketika spora jamur Metarhizium menempel pada tubuh ulat, hifa jamur akan menembus kulit luar larva dan berkembang biak di dalam cairan hemolimfa, melumpuhkan ulat dari dalam hingga tubuhnya mengeras kaku diselimuti miselium hijau pucat.
Lima tahun hidup berdampingan dengan ulat grayak jagung menyadarkan petani di desa-desa bahwa alam selalu memiliki cara untuk menguji ketelitian manusia. Ulat dari seberang samudera itu membuktikan bahwa kekuatan racun kimiawi di dalam tangki semprot akan selalu kalah cerdik dibanding naluri seekor serangga yang bersembunyi di balik selembar daun muda. (Agn)







