Petikhasil.id, BANDUNG — Petani menjual sayuran dengan harga rendah, tetapi konsumen di kota tetap merasa mahal. Situasi seperti ini sering memunculkan pertanyaan sederhana: kalau harga di kebun murah, ke mana perginya selisih harga sampai produk tiba di pasar?
Jawabannya tidak selalu sesederhana “diambil tengkulak”. Di antara kebun dan meja makan terdapat proses pengumpulan, sortasi, pengemasan, angkut, penyimpanan, perdagangan grosir, hingga penjualan eceran. Setiap tahap membutuhkan biaya dan menghadapi risiko.
Namun panjangnya rantai tersebut memang menentukan berapa banyak bagian yang akhirnya diterima petani. Pemerintah sendiri mengakui tata niaga beberapa produk pertanian masih melewati terlalu banyak mata rantai perdagangan.
Harga di Kebun dan Harga di Pasar Mengukur Hal Berbeda
Harga yang diterima petani biasa disebut harga produsen atau sering dikenal sebagai farm gate price. Nilainya menggambarkan harga produk ketika masih berada dekat dengan titik produksi.
Konsumen membeli produk dalam kondisi berbeda. Sayuran sudah berpindah lokasi, melalui penyortiran, dibawa ke pasar, ditata, dan tersedia dalam jumlah kecil sesuai kebutuhan rumah tangga.
Badan Pangan Nasional bahkan memiliki sistem pencatatan berbeda untuk harga produsen dan harga konsumen. Harga produsen dihitung dari responden di tingkat penghasil, sementara harga konsumen mencerminkan harga eceran yang dibayar masyarakat.
Karena itu, membandingkan kedua angka tanpa memahami proses di tengahnya dapat menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Satu Kilogram Sayuran Membawa Banyak Biaya
Setelah meninggalkan kebun, sayuran harus dikumpulkan. Pedagang membutuhkan pekerja untuk mengangkat dan menyortir barang, keranjang atau kemasan, kendaraan, bahan bakar, serta tempat untuk menyimpan atau memperdagangkan produk.
Ada pula risiko penyusutan. Pedagang mungkin membeli 100 kilogram, tetapi belum tentu seluruhnya dapat dijual. Sebagian bisa rusak, layu, kehilangan bobot, atau tidak memenuhi kualitas yang diminta pembeli berikutnya.
Kajian Kementerian Pertanian menyebut rantai pasok yang tidak efisien sebagai salah satu penyebab kehilangan produk hortikultura. Teknologi pascapanen dan penyederhanaan rantai distribusi dinilai dapat membantu mengurangi kehilangan sekaligus memperbaiki sistem pemasaran.
Artinya, selisih harga bukan seluruhnya keuntungan bersih. Ada biaya nyata yang muncul ketika produk bergerak dari desa menuju konsumen.
Tetapi Rantai yang Terlalu Panjang Tetap Menjadi Masalah
Penjelasan mengenai biaya distribusi bukan berarti seluruh struktur perdagangan saat ini sudah ideal. Semakin banyak perpindahan tangan, semakin banyak pula margin dan biaya yang harus masuk ke harga akhir.
Kementerian Pertanian pada Agustus 2026 menyebut hasil pertanian dapat melewati sedikitnya tujuh mata rantai perdagangan sebelum sampai ke masyarakat. Rantainya dapat mencakup pedagang pengumpul, distributor, subdistributor, grosir, hingga ritel.
Pemerintah kemudian mendorong koperasi desa untuk memperpendek jalur tersebut. Gagasannya adalah membuat produk bergerak dari petani menuju koperasi dan kemudian lebih dekat kepada konsumen.
Jika berhasil, distribusi yang lebih pendek bisa melakukan dua hal sekaligus. Petani berpeluang menerima harga lebih baik, sementara konsumen tidak harus membayar terlalu mahal.
Petani Juga Membutuhkan Volume
Penjualan langsung sering terdengar sebagai solusi paling ideal. Petani menjual kepada konsumen sehingga tidak ada banyak perantara dan harga bisa lebih baik.
Namun model tersebut tidak selalu mudah diterapkan. Petani mungkin memanen satu ton sayuran dalam waktu hampir bersamaan, sedangkan konsumen membeli satu atau dua kilogram setiap kali berbelanja.
Di sinilah pedagang pengumpul sebenarnya menjalankan fungsi penting. Mereka menggabungkan produk dari beberapa petani, kemudian memindahkannya dalam volume yang cukup besar menuju pasar yang membutuhkan.
Masalah muncul ketika petani hanya memiliki satu pilihan pembeli. Tanpa informasi harga atau akses ke pasar lain, posisi tawar mereka menjadi lemah.
Karena itu, tujuan agribisnis modern tidak harus menghapus seluruh pedagang perantara. Yang lebih penting adalah membuat rantai lebih efisien dan memberi petani lebih banyak pilihan pembeli.
Distribusi Bisa Membuat Harga Naik Meski Produksi Cukup
Badan Pangan Nasional pada Februari 2026 pernah memberi contoh menarik melalui cabai rawit. Saat harga naik, Bapanas menyebut produksi nasional sebenarnya cukup, tetapi proses pemetikan dan distribusi mengalami gangguan karena hujan tinggi.
Kondisi itu menunjukkan bahwa harga pangan tidak hanya ditentukan jumlah tanaman yang tumbuh. Produk bisa tersedia di kebun, tetapi jika sulit dipanen atau dipindahkan menuju pasar, pasokan yang dirasakan konsumen tetap berkurang.
Karena itu, jalan, kendaraan, gudang, informasi harga, dan jaringan perdagangan sebenarnya merupakan bagian dari sistem pertanian. Tanaman boleh tumbuh jauh dari kota, tetapi konsumennya tetap harus bisa dijangkau.
Selisih Harga Adalah Tempat Menemukan Peluang Agribisnis
Bagi anak muda, jarak antara harga petani dan harga konsumen sebenarnya menarik untuk dipelajari. Di sanalah banyak peluang usaha muncul.
Ada peluang membuat distribusi yang lebih singkat, pusat pengumpulan hasil, penyimpanan dingin, pengiriman langsung, platform pemesanan, atau kemitraan antara petani dengan restoran dan hotel.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya mengapa harga berbeda. Pertanyaan berikutnya adalah bagian mana dari rantai tersebut yang bisa dibuat lebih efisien tanpa menghilangkan fungsi yang memang dibutuhkan.
Jika biaya distribusi bisa ditekan Rp1.000 per kilogram, nilai itu dapat dibagi menjadi harga yang lebih baik untuk petani dan harga lebih ringan bagi konsumen. Dalam volume puluhan ton, efisiensi kecil dapat berubah menjadi nilai ekonomi yang besar.
Jadi, ketika sayuran murah di kebun tetapi mahal di kota, selisihnya tidak selalu berarti ada satu pihak yang mengambil keuntungan berlebihan. Namun selisih tersebut tetap layak dibedah karena di sanalah kita dapat melihat apakah sistem pangan bekerja secara efisien dan apakah petani sudah mendapat bagian yang wajar.(Vry)







