Pulau Jawa Dipenuhi Mangga, Petani Untung atau Justru Buntung?

Petikhasil.id, BANDUNG — Musim panen mangga membawa pemandangan yang akrab di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Buah berwarna hijau kekuningan hingga jingga memenuhi lapak pedagang, dijual di tepi jalan, sampai dikirim ke berbagai kota. Bagi konsumen, kondisi ini menjadi kesempatan untuk menikmati mangga dengan harga lebih terjangkau. Namun, bagi petani, panen melimpah belum tentu berarti keuntungan ikut membesar.

Fenomena tersebut terlihat di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Oktober 2026. Sejumlah petani mangga memasuki masa panen raya ketika buah dari berbagai kebun mulai membanjiri pasar. Pasokan yang meningkat ikut menekan harga beberapa kelas mangga, meskipun permintaan dari luar daerah masih terbuka.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa produksi mangga Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 3,30 juta ton. Mangga menjadi salah satu komoditas buah dengan kontribusi besar terhadap produksi hortikultura nasional. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat termasuk sentra produksi utama yang membuat Pulau Jawa memiliki peran penting dalam pasokan mangga nasional.

Besarnya produksi memang menjadi peluang ekonomi. Namun, ketika banyak petani memanen buah pada waktu yang berdekatan, persoalan baru muncul: apakah pasar mampu menyerap seluruh hasil panen dengan harga yang menguntungkan?

Baca lainya: Produksi Mangga Cirebon Turun Tajam | Perkebunan Sawit di Cirebon Ganti jadi Mangga Gincu

Panen Melimpah, Harga Mangga Bisa Turun

Contoh nyata terlihat di Kecamatan Rembang dan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Dalam laporan yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Pasuruan pada 12 Oktober 2026, petani mangga alpukat atau Gadung Klonal 21, Ladi Khairullah, menyebut harga mangga kualitas A yang sebelumnya berkisar Rp50.000–Rp70.000 per kilogram pada Agustus hingga September turun menjadi sekitar Rp30.000 per kilogram saat panen raya. Sementara itu, harga kualitas B turun dari sekitar Rp40.000–Rp50.000 menjadi Rp15.000 per kilogram.

Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana peningkatan pasokan dapat menekan harga di tingkat penjualan. Ketika banyak kebun menghasilkan buah secara bersamaan, pedagang dan pembeli memiliki lebih banyak pilihan. Buah yang tidak segera terserap pasar juga berisiko mengalami penurunan kualitas karena mangga termasuk komoditas yang mudah matang dan tidak dapat disimpan terlalu lama tanpa penanganan yang tepat.

Meski demikian, kondisi setiap petani tidak selalu sama. Petani yang sudah memiliki pelanggan tetap, mampu mengirim buah ke luar daerah, dan menghasilkan mangga berkualitas tinggi masih berpeluang memperoleh pendapatan yang baik. Dalam laporan yang sama, Ladi tetap menerima pesanan dari berbagai kota, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sejumlah wilayah lain.

Artinya, panen raya tidak otomatis membuat semua petani merugi. Dampaknya bergantung pada harga jual, volume panen, kualitas buah, biaya produksi, serta kemampuan petani menjangkau pasar.

Persoalan muncul ketika penurunan harga tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. Petani tetap harus membayar tenaga kerja, pupuk, pengendalian hama, pemangkasan, panen, penyortiran, dan pengangkutan. Jika harga jual hanya sedikit di atas biaya tersebut, pendapatan bersih bisa menyusut meskipun jumlah buah yang dipanen meningkat.

Agar Panen Raya Tidak Berujung Kerugian

Salah satu cara meningkatkan nilai jual mangga adalah melakukan penyortiran berdasarkan ukuran, tingkat kematangan, penampilan, dan kondisi buah. Praktik ini memungkinkan petani menjual buah kualitas premium dengan harga berbeda dari buah yang ukurannya lebih kecil atau memiliki cacat pada kulit.

Petani juga dapat memperluas saluran pemasaran. Penjualan langsung ke konsumen, kerja sama dengan toko buah, pemasok restoran, dan pengiriman ke kota lain bisa mengurangi ketergantungan pada satu jalur distribusi. Namun, perluasan pasar harus mempertimbangkan ongkos kirim, kemasan, risiko kerusakan, dan kepastian pembayaran.

Peluang lain adalah mengolah mangga yang tidak memenuhi standar penjualan buah segar menjadi produk seperti puree, jus, manisan, atau bahan baku makanan. Pengolahan dapat memperpanjang pemanfaatan hasil panen, tetapi membutuhkan perhitungan biaya, standar keamanan pangan, peralatan, serta akses pasar. Tidak semua buah yang rusak cocok untuk diolah, terutama jika kerusakannya sudah membuat buah tidak aman dikonsumsi.

Koordinasi antarpetani juga penting. Informasi mengenai perkiraan waktu panen dan volume produksi dapat membantu kelompok tani merencanakan distribusi agar pasokan tidak menumpuk di satu tempat. Di sisi lain, dukungan fasilitas penyimpanan, pengemasan, transportasi, dan pengolahan dapat membantu mengurangi kehilangan hasil setelah panen.

Pada akhirnya, melimpahnya mangga di Pulau Jawa merupakan peluang sekaligus tantangan. Konsumen dapat menikmati buah dengan harga lebih terjangkau, sedangkan petani berpeluang memperoleh pendapatan besar jika hasil panen terserap pasar dengan harga yang memadai.

Baca lainya: Produksi Mangga Cirebon Turun Tajam | Perkebunan Sawit di Cirebon Ganti jadi Mangga Gincu

Namun, banyaknya buah tidak selalu sejalan dengan besarnya keuntungan. Ukuran keberhasilan usaha tani bukan hanya berapa kilogram mangga yang dipanen, melainkan berapa nilai penjualan yang tersisa setelah seluruh biaya produksi dan distribusi dibayar.

Panen raya baru benar-benar menjadi berkah ketika buah terserap pasar, kualitas tetap terjaga, dan petani memperoleh harga yang layak. Tanpa pengelolaan pascapanen dan pemasaran yang baik, hasil kebun yang melimpah justru dapat berubah menjadi tekanan ekonomi bagi petani. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *