Petikhasil.id, BANDUNG — Penipuan daring kini tidak hanya menyasar pengguna internet di kota. Petani juga mulai masuk ke lingkaran sasaran. Modusnya pun makin rapi. Pelaku memakai nama bantuan pemerintah, pupuk subsidi, alsintan, hingga bantuan ternak untuk memancing korban.
Masalah ini perlu dibaca serius. Pertanian memang makin dekat dengan teknologi. Informasi bantuan, penjualan hasil, dan komunikasi usaha tani kini banyak bergerak lewat ponsel. Namun di saat yang sama, ruang digital juga membuka celah bagi penipuan.
Bantuan palsu kini memakai wajah pertanian
Pelaku penipuan paham satu hal penting. Mereka tahu bantuan pemerintah selalu menarik perhatian. Karena itu, mereka memakai bahasa yang akrab di telinga petani. Mereka membuat tautan palsu. Mereka mengaku membuka pendaftaran bantuan alat pertanian, pupuk subsidi, bibit, atau ternak.
Cara ini berbahaya karena terlihat meyakinkan. Korban merasa sedang mengejar peluang. Padahal mereka sedang diarahkan masuk ke jebakan. Saat data pribadi diberikan, risikonya bisa meluas.
Masalahnya, wajah penipuan sekarang tidak selalu tampak mencurigakan. Justru banyak yang tampil rapi, singkat, dan mirip pengumuman resmi. Di situlah petani bisa mudah terkecoh.
Petani dan warga desa masih lebih rentan
Kerentanan ini tidak muncul begitu saja. Banyak warga desa masih menghadapi keterbatasan literasi digital dan literasi keuangan. Mereka mulai memakai gawai untuk mencari informasi, tetapi belum semuanya terbiasa memeriksa sumber informasi secara detail.
Bagi petani, situasi ini cukup rumit. Di satu sisi, mereka didorong untuk melek teknologi. Di sisi lain, mereka harus masuk ke ruang digital yang tidak selalu aman. Saat tautan palsu dan informasi resmi terlihat hampir sama, risiko salah klik menjadi lebih besar.
Karena itu, penipuan daring bukan lagi sekadar isu internet. Ia sudah menjadi isu pertanian juga. Sebab yang disasar bukan hanya uang, tetapi juga harapan petani terhadap bantuan dan dukungan usaha.
Kewaspadaan digital kini jadi bagian dari ketahanan petani
Dulu, tantangan petani lebih sering dibahas dari sisi cuaca, pupuk, harga hasil panen, atau irigasi. Sekarang ada satu tantangan baru yang tidak kalah penting, yaitu keamanan digital. Petani perlu belajar memeriksa sumber informasi. Mereka juga perlu tahu mana akun resmi, mana situs resmi, dan mana tautan yang patut dicurigai.
Kewaspadaan ini penting karena ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan pertanian. Informasi pasar, bantuan, pelatihan, sampai promosi hasil tani kini banyak bergerak melalui telepon genggam. Kalau petani tidak dibekali kemampuan memilah informasi, mereka bisa masuk ke jebakan yang terlihat seperti peluang.
Karena itu, perlindungan untuk petani hari ini tidak cukup hanya lewat subsidi atau bantuan sarana produksi. Perlindungan juga harus hadir lewat edukasi digital yang sederhana dan mudah dipahami. Penyuluh, dinas, komunitas tani, dan keluarga punya peran penting untuk saling mengingatkan.
Pada akhirnya, digitalisasi memang membuka jalan baru bagi pertanian. Namun tidak semua jalan itu aman. Sebagian jalan justru dipasangi perangkap. Sawah dan kebun memang tetap berada di tanah, tetapi ancamannya kini bisa datang dari tautan yang muncul di layar ponsel. (Vry)






