Petikhasil.id, BANDUNG — Musim kemarau tahun ini tidak lagi datang sebagai prakiraan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan El Nino 2026 telah aktif dan masuk kategori kuat. Fenomena tersebut berpotensi membuat kemarau berlangsung lebih kering dan lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus di sekitar 48,84 persen wilayah musim. Sebagian wilayah lain akan mencapai puncaknya pada September. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran lahan, serta berkurangnya pasokan air untuk rumah tangga dan pertanian.
Untuk menjaga produksi pangan, Kementerian Pertanian menyiapkan 56 ribu unit pompa air pada tahun anggaran 2026. Pemerintah akan memprioritaskan sentra padi yang mengalami kekeringan tetapi masih memiliki sumber air dari sungai, waduk, embung, atau saluran irigasi.
Baca Lainya: Inflasi Pangan 2026 Terancam El Nino | Harga beras di Cirebon melonjak akibat El Nino
Pompa memberi waktu, tetapi tidak menciptakan air
Pompanisasi dapat membantu petani mengalirkan air dari sumber terdekat menuju sawah. Langkah ini penting ketika hujan mulai jarang turun dan saluran irigasi tidak lagi menjangkau seluruh lahan.
Namun pompa bukan mesin pembuat air. Alat itu hanya bekerja ketika sungai, embung, waduk, atau sumber air permukaan masih memiliki cadangan yang cukup. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada jumlah unit yang dibagikan.
Pemerintah daerah perlu memetakan sumber air sebelum memasang pompa. Petugas juga harus mengukur jarak, kapasitas aliran, dan luas sawah yang bisa dilayani. Tanpa pemetaan yang tepat, pompa berisiko datang ke lokasi yang tidak memiliki cukup air untuk dialirkan.
Kementan sendiri menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu mengidentifikasi sumber air yang masih dapat dimanfaatkan. Dari 56 ribu unit yang disiapkan, sekitar 11 ribu pompa telah sampai kepada penerima. Sebanyak 20 ribu unit lain masih menjalani proses penyaluran berdasarkan usulan daerah.
Distribusi cepat harus diikuti pengelolaan yang jelas
Pembagian pompa bukan akhir dari pekerjaan. Kelompok tani juga perlu mengatur jadwal pemakaian, biaya operasional, perawatan, dan pembagian air secara adil.
Jika satu pompa melayani beberapa hamparan, petani perlu menyepakati giliran penggunaan. Mereka juga harus menentukan siapa yang bertanggung jawab saat mesin rusak. Hal sederhana seperti bahan bakar, kabel, pipa, dan suku cadang dapat menentukan apakah alat benar-benar bekerja saat petani membutuhkannya.
Kementan membuka pengajuan pompa melalui penyuluh pertanian atau dinas pertanian kabupaten dan kota. Kelompok tani, gabungan kelompok tani, usaha pelayanan jasa alat dan mesin pertanian, serta lembaga ekonomi petani dapat menerima bantuan setelah pemerintah memverifikasi kebutuhan dan kondisi wilayahnya.
Mekanisme tersebut perlu berjalan terbuka. Petani harus mengetahui alasan suatu wilayah mendapat prioritas, sementara wilayah lain harus menunggu. Transparansi penting agar bantuan mengikuti tingkat risiko, bukan sekadar kelengkapan administrasi.
Kekeringan harus mengubah cara kita mengelola air
El Nino memberi pesan yang lebih besar daripada sekadar kebutuhan pompa. Indonesia perlu memperlakukan air sebagai bagian utama dari perencanaan pangan.
Pompa dapat menjadi solusi cepat. Namun pertanian juga membutuhkan embung yang terawat, saluran irigasi yang berfungsi, perlindungan daerah resapan, serta informasi iklim yang sampai kepada petani sebelum masa tanam dimulai.
BMKG menyebut pemerintah perlu menjaga cadangan air melalui pengelolaan waduk dan langkah mitigasi lain. Informasi cuaca juga perlu menjadi dasar pengaturan air untuk pertanian, energi, dan kebutuhan masyarakat.
Petani pun perlu menyesuaikan keputusan budidaya. Mereka dapat memilih varietas berumur pendek, mengatur jadwal tanam, memakai mulsa, dan mengurangi kehilangan air. Penyuluh harus membantu menerjemahkan prakiraan iklim menjadi langkah yang mudah dilakukan di lahan.
Baca Lainya: Inflasi Pangan 2026 Terancam El Nino | Harga beras di Cirebon melonjak akibat El Nino
Pada akhirnya, 56 ribu pompa dapat memberi tambahan waktu bagi sawah yang mulai kering. Namun mesin saja tidak akan menyelesaikan persoalan air. Petani membutuhkan sumber yang terjaga, distribusi yang adil, dan pengelolaan yang berjalan jauh setelah bantuan selesai diserahkan. (Vry)
Frasa SEO
El Nino 2026 dan pertanian
56 ribu pompa pertanian
pompanisasi sawah
dampak kekeringan bagi petani
mitigasi kemarau pertanian
Meta description
Tag
El Nino 2026, pompanisasi, kekeringan, irigasi, petani padi, ketahanan pangan, Petik Hasil






