Petikhasil.id, BANDUNG — Bagi sebagian masyarakat Jawa Barat, tutut bukan makanan asing. Keong kecil bercangkang gelap ini biasa hadir dalam mangkuk berisi kuah kuning yang gurih dan pedas. Cara makannya pun khas: daging tutut disedot langsung dari cangkangnya atau dikeluarkan menggunakan tusuk kecil.
Di balik kesederhanaannya, tutut menyimpan cerita yang lebih besar. Hewan air tawar ini hidup dekat dengan sawah, sungai, rawa, dan danau. Ia tidak hanya menjadi pangan tradisional, tetapi juga memiliki peran dalam ekosistem serta peluang ekonomi yang selama ini belum banyak mendapat perhatian.
Tutut Jawa memiliki nama ilmiah Filopaludina javanica. Program Studi Akuakultur Universitas Negeri Surabaya mencatat hewan ini banyak ditemukan di perairan tawar berlumpur dan telah lama dimanfaatkan sebagai pangan oleh masyarakat, terutama di Pulau Jawa dan Madura.
Baca Lainya: Ikan Gabus dari Rawa, Sawah, hingga Parit, Fakta Unik Ikan Lokal yang Tangguh | 40 Ribu Titik Budidaya Ikan Darat Bisa Jadi Mesin Ekonomi Desa, Asal Tidak Berhenti di Kolam
Tutut berbeda dengan keong mas yang menjadi hama padi
Tutut sering disamakan dengan keong mas karena keduanya dapat ditemukan di lingkungan persawahan. Padahal, keduanya merupakan spesies yang berbeda dan memiliki perilaku yang berbeda pula.
Keong mas memiliki nama ilmiah Pomacea canaliculata. Kementerian Pertanian memasukkannya sebagai salah satu hama penting tanaman padi karena hewan ini memakan tanaman muda dan dapat merusak pertanaman pada fase awal. Tutut Jawa berbeda. Spesies Filopaludina javanica lebih banyak memakan bahan organik dan mikroalga yang terdapat di dasar perairan.
Perbedaan tersebut penting, terutama ketika masyarakat melihat banyak keong di sawah. Tidak semua keong yang hidup di lahan pertanian otomatis menjadi hama.
Dalam ekosistem perairan, tutut berperan sebagai detritivor. Hewan ini memakan sisa bahan organik dan mikroalga sehingga ikut membantu proses dekomposisi. Keberadaannya juga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan perairan.
Dari sawah, tutut menjadi sumber protein masyarakat
Nilai tutut tidak berhenti pada ekosistem. Dagingnya juga memiliki kandungan gizi yang cukup menarik sebagai pangan lokal.
Universitas Negeri Surabaya mencatat daging tutut mengandung sekitar 11–13 gram protein dalam setiap 100 gram berat basah. Tutut juga mengandung mineral seperti kalsium dan fosfor serta memiliki kadar lemak yang relatif rendah.
Bagi masyarakat desa, sumber protein seperti ini memiliki nilai tersendiri. Tutut tumbuh dekat dengan lingkungan tempat mereka hidup dan sudah lama menjadi bagian dari kebiasaan makan lokal.
Inilah salah satu kekuatan pangan tradisional yang sering terlupakan. Pangan bergizi tidak selalu datang dari bahan yang mahal atau harus menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke meja makan.
Tutut menjadi contoh bagaimana lingkungan sekitar sebenarnya menyimpan sumber pangan yang dapat dimanfaatkan. Namun pemanfaatannya tetap perlu memperhatikan kondisi habitat dan cara pengolahan yang baik.
Bisa dimakan, tetapi asal perairannya tidak boleh diabaikan
Kemampuan tutut hidup di dasar perairan juga membawa satu catatan penting. Hewan ini dapat berinteraksi langsung dengan sedimen dan berbagai zat yang terdapat di lingkungan tempat hidupnya.
Penelitian Universitas Padjadjaran di Waduk Cirata menemukan tutut yang hidup di kawasan tersebut mengandung timbal atau Pb sebesar 0,05 mg/kg. Dalam penelitian itu, kadar pada tubuh tutut masih berada di bawah ambang yang digunakan peneliti. Namun sampel air di lokasi penelitian sudah menunjukkan pencemaran timbal.
Temuan tersebut tidak berarti semua tutut berbahaya untuk dikonsumsi. Justru penelitian itu menunjukkan pentingnya mengetahui asal tutut sebelum menjadikannya bahan pangan.
Tutut yang berasal dari perairan dengan limbah industri, domestik, pertanian, atau sumber pencemar lain memiliki risiko berbeda dengan tutut dari lingkungan yang terjaga. Karena itu, kualitas perairan menjadi bagian penting dalam pemanfaatan pangan lokal ini.
Masyarakat sebaiknya tidak hanya menilai tutut dari ukuran atau kondisi cangkangnya. Lingkungan tempat hewan tersebut hidup juga perlu mendapat perhatian.
Tutut ternyata punya peluang lebih jauh dari sekadar makanan
Selama ini nilai ekonomi tutut lebih banyak muncul dari penjualan sebagai makanan tradisional. Di sejumlah daerah, masyarakat mengolahnya menjadi tutut kuah, pepes, hingga berbagai makanan olahan.
Namun penelitian mulai membuka kemungkinan pemanfaatan yang lebih luas. Tutut juga berpotensi menjadi bahan pakan dalam usaha budidaya ikan.
Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia pada 2025 menguji tepung tutut sebagai campuran pakan ikan patin. Kajian tersebut berangkat dari kandungan protein tutut yang cukup tinggi dan kebutuhan pembudidaya untuk mencari sumber protein alternatif bagi pakan ikan.
Penelitian lain pada lobster air tawar juga menunjukkan daging Filopaludina javanica dapat digunakan sebagai pakan. Dalam pengujian tersebut, perlakuan tertentu menghasilkan tingkat kelangsungan hidup lobster hingga 91,7 persen.
Temuan seperti ini membuat posisi tutut menjadi semakin menarik. Hewan yang selama ini hanya dipandang sebagai pangan tradisional ternyata juga memiliki potensi dalam rantai usaha perikanan.
Baca Lainya: Ikan Gabus dari Rawa, Sawah, hingga Parit, Fakta Unik Ikan Lokal yang Tangguh | 40 Ribu Titik Budidaya Ikan Darat Bisa Jadi Mesin Ekonomi Desa, Asal Tidak Berhenti di Kolam
Pangan lokal sering berharga setelah kita melihatnya lebih dekat
Tutut mungkin tidak pernah memiliki citra semewah udang, kepiting, atau kerang laut. Ia hidup di lumpur, ditemukan di sawah, dan dijual dalam makanan sederhana. Namun justru dari sana terlihat hubungan yang kuat antara pangan dan lingkungan.
Sawah tidak hanya menghasilkan padi. Lingkungan perairannya juga menjadi tempat hidup berbagai organisme yang memiliki fungsi ekologis dan nilai ekonomi.
Potensi tersebut tetap membutuhkan pengelolaan yang hati-hati. Pengambilan dari alam tidak boleh mengabaikan keberlanjutan populasi. Kualitas air juga perlu dijaga karena kondisi lingkungan akhirnya menentukan kualitas pangan yang dihasilkan.
Tutut mengingatkan bahwa kekayaan pangan tidak selalu berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Kadang ia berada di pinggir sawah, tersembunyi di antara lumpur dan air, lalu baru terlihat nilainya ketika masyarakat mau mengenalnya lebih jauh. (Vry)






