Kentang, Komoditas yang Menguntungkan? Hitung Dulu Modal dan Luas Lahannya

Petikhasil.id, BANDUNG — Kentang terlihat seperti komoditas yang menarik untuk dibudidayakan. Pasarnya luas, mulai dari rumah tangga, restoran, industri makanan, hingga usaha olahan. Di dataran tinggi Jawa Barat, tanaman ini juga sudah lama menjadi sumber penghasilan petani.

Lalu, apakah kentang benar-benar komoditas yang menguntungkan?

Jawabannya bisa iya. Namun keuntungan kentang datang bersama kebutuhan modal yang tidak kecil. Penelitian di Kabupaten Garut bahkan menunjukkan satu hektare lahan kentang membutuhkan biaya produksi lebih dari Rp100 juta dalam satu musim tanam.

Di sisi lain, produktivitas yang baik dapat menghasilkan pendapatan yang menarik. Panen kentang di Pasirwangi, Garut, pada Mei 2026 mencapai produktivitas 28,4 ton per hektare setelah mendapat pendampingan dan penerapan teknologi budidaya. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata sebelumnya yang berada sekitar 20 ton per hektare.

Jadi, keuntungan kentang bukan hanya soal berapa ton yang bisa dipanen. Petani harus menghitung modal, kualitas hasil, luas lahan, harga jual, dan kemampuan pasar menyerap produksi.

Baca Lainya: Ubi Yakon Si Manis Renyah dari Dataran Tinggi yang Mulai Dilirik Pasar Sehat | Panen Kentang Kerinci Meningkat, Kementan Perkuat Hilirisasi untuk Dongkrak Pendapatan Petani

Kentang bisa memberi keuntungan puluhan juta per musim

Penelitian yang melibatkan 218 petani kentang di Kecamatan Cisurupan dan Cikajang, Kabupaten Garut, memberi gambaran cukup jelas mengenai ekonomi komoditas ini. Studi yang terbit pada 2025 tersebut menggunakan data primer petani dan menghitung biaya serta penerimaan dalam satu musim tanam.

Rata-rata petani dalam penelitian itu mengelola lahan sekitar 0,54 hektare. Mereka mengeluarkan biaya produksi sekitar Rp59,2 juta dalam satu musim. Dari lahan tersebut, petani memperoleh penerimaan sekitar Rp85,1 juta dan keuntungan sekitar Rp25,9 juta.

Jika perhitungan dikonversi menjadi satu hektare, biaya produksinya mencapai sekitar Rp114,7 juta. Penerimaan diperkirakan sekitar Rp158,8 juta sehingga keuntungan berada di kisaran Rp44 juta dalam satu musim tanam.

Angka tersebut menunjukkan kentang memang bisa menghasilkan keuntungan. Namun petani harus menyediakan modal besar sebelum satu rupiah pun kembali dari hasil panen.

Masalah terbesar justru ada pada biaya produksi

Penelitian yang sama menemukan sekitar 86,34 persen biaya usaha tani kentang berasal dari input produksi. Komponen ini mencakup benih, pupuk, pestisida, nutrisi, dan berbagai kebutuhan budidaya lainnya. Tenaga kerja mengambil porsi sekitar 11,42 persen dari total biaya.

Artinya, petani sangat bergantung pada harga input. Ketika harga benih atau pupuk naik, kebutuhan modal ikut membesar. Risiko menjadi semakin berat jika kenaikan biaya tersebut tidak diikuti harga jual kentang.

Benih menjadi salah satu persoalan penting dalam budidaya kentang. Publikasi Kementerian Pertanian mencatat harga umbi benih yang tinggi dan keterbatasan benih bermutu masih menjadi kendala produksi. Padahal, kualitas benih sangat menentukan produktivitas tanaman.

Di sinilah kentang berbeda dari tanaman yang bisa dimulai dengan modal relatif kecil. Potensi untungnya memang menarik, tetapi kesalahan budidaya juga dapat menghasilkan kerugian besar karena petani sudah mengeluarkan banyak biaya sejak awal.

Produktivitas tinggi bisa mengubah hitungan keuntungan

Kabar baiknya, produktivitas kentang masih bisa ditingkatkan. Pada Mei 2026, petani Koperasi Horti Agro Makmur di Pasirwangi, Garut, memanen kentang dengan produktivitas 28,4 ton per hektare.

BRMP Jawa Barat menyebut produktivitas tersebut meningkat sekitar 42 persen dibandingkan rata-rata petani setempat yang sebelumnya berada pada kisaran 20 ton per hektare. Tanaman dipanen pada usia 107 hari dan sebagian besar hasil masuk kategori kualitas premium.

Kualitas hasil sangat penting karena kentang tidak dijual dengan harga yang sama. Dalam penelitian petani Garut, harga berbeda berdasarkan grade. Kentang Grade A berada sekitar Rp11.333 per kilogram, sedangkan Grade C hanya sekitar Rp6.533 per kilogram pada periode survei.

Perbedaannya hampir dua kali lipat. Karena itu, mengejar jumlah ton saja belum cukup. Petani juga harus menghasilkan ukuran dan kualitas yang sesuai dengan permintaan pasar.

Panen 25 ton dengan banyak kentang berkualitas rendah belum tentu menghasilkan keuntungan lebih baik dibandingkan panen sedikit lebih kecil dengan dominasi grade premium.

Baca Lainya: Ubi Yakon Si Manis Renyah dari Dataran Tinggi yang Mulai Dilirik Pasar Sehat | Panen Kentang Kerinci Meningkat, Kementan Perkuat Hilirisasi untuk Dongkrak Pendapatan Petani

Untung satu musim belum tentu cukup untuk kebutuhan satu tahun

Ada temuan menarik lain dari penelitian di Garut. Keuntungan rata-rata Rp25,9 juta dari lahan 0,54 hektare terlihat cukup besar jika dilihat sebagai angka satu musim.

Namun penelitian kemudian membaginya sebagai penghasilan sepanjang tahun. Nilainya setara sekitar Rp2,16 juta per bulan. Sementara kebutuhan rumah tangga petani dalam penelitian tersebut rata-rata mencapai Rp2,69 juta per bulan.

Dengan perhitungan itu, usaha kentang dari lahan rata-rata 0,54 hektare hanya mampu memenuhi sekitar 80,1 persen kebutuhan rumah tangga petani. Banyak petani akhirnya memiliki pekerjaan tambahan, mulai dari menjual jasa, beternak, berdagang, hingga menjadi buruh.

Fakta ini membuat istilah “komoditas menguntungkan” perlu dibaca lebih hati-hati. Usaha bisa menghasilkan laba, tetapi laba tersebut belum tentu cukup untuk menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarga.

Luas lahan menjadi faktor penting. Dalam penelitian tersebut, 63,13 persen petani menguasai lahan kurang dari setengah hektare. Kondisi ini membuat petani kecil lebih sulit memperoleh efisiensi dari skala usaha.

Pasar menjadi penentu setelah tanaman berhasil tumbuh

Kentang memiliki pasar yang luas, tetapi pasar juga memiliki standar. Kentang untuk konsumsi rumah tangga berbeda dengan kentang yang dibutuhkan industri keripik atau kentang goreng. Ukuran, kandungan bahan kering, bentuk, dan varietas bisa menentukan siapa yang mau membeli.

Karena itu, keputusan menanam sebaiknya dimulai dari pasar, bukan hanya dari kebiasaan. Petani perlu mengetahui varietas yang dibutuhkan pembeli, target ukuran, waktu panen, dan kisaran harga sebelum menentukan luas tanam.

Kontrak dengan restoran, industri pengolahan, koperasi, atau pedagang dapat membantu mengurangi ketidakpastian. Petani juga memiliki peluang meningkatkan nilai produk dengan melakukan sortasi, pengemasan, atau pengolahan.

Semakin pendek jarak antara petani dan pembeli akhir, semakin besar peluang petani mempertahankan nilai dari produk yang mereka hasilkan.

Jadi, apakah kentang komoditas yang menguntungkan?

Data menunjukkan jawabannya adalah iya, kentang dapat menghasilkan keuntungan. Studi di Garut mencatat laba sekitar Rp25,9 juta per musim pada lahan rata-rata 0,54 hektare dan sekitar Rp44 juta jika dihitung untuk satu hektare. Namun angka tersebut datang bersama biaya produksi yang sangat besar.

Produktivitas juga sangat menentukan. Panen 28,4 ton per hektare yang dicapai petani di Pasirwangi menunjukkan teknologi, benih, dan pengelolaan budidaya dapat meningkatkan hasil secara signifikan. Namun petani tetap membutuhkan pasar agar produktivitas tinggi berubah menjadi pendapatan.

Karena itu, kentang bukan komoditas yang otomatis menguntungkan hanya karena harga jualnya terlihat tinggi. Petani perlu memiliki modal, lahan yang sesuai, benih bermutu, kemampuan budidaya, serta akses pasar.

Kentang dapat menjadi usaha yang menjanjikan. Tetapi seperti banyak komoditas hortikultura, keuntungan terbaik tidak datang kepada petani yang sekadar menanam. Keuntungan datang ketika produksi, biaya, kualitas, dan pasar berhasil dikelola dalam satu perhitungan yang sama. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *