Benarkah Ikan Gabus Membantu Penyembuhan Luka Operasi

Petikhasil.id, JAKARTA — Di banyak keluarga Indonesia, ikan gabus sering hadir ketika ada anggota keluarga yang baru selesai operasi atau baru melahirkan. Reputasinya sudah lama beredar dari dapur ke dapur. Gabus dipercaya membantu tubuh lebih cepat pulih dan luka lebih cepat menutup. Pertanyaannya, apakah itu hanya mitos, atau memang ada dasar ilmiahnya. Jawabannya ternyata tidak hitam-putih. Ada dasar ilmiah yang cukup menarik, tetapi tetap tidak bisa dibaca secara berlebihan.

Reputasi gabus tidak lahir dari ruang kosong

Tinjauan sistematis yang terbit pada 2025 di Narra J menyebut Channa striata memang telah lama dikonsumsi di Asia Tenggara untuk membantu pemulihan setelah operasi dan persalinan. Review itu merangkum 22 studi, yang terdiri dari analisis komposisi gizi, penelitian praklinis, dan uji klinis. Dari telaah itu, daging atau ekstrak gabus dilaporkan mengandung albumin, asam amino esensial dan non-esensial, asam lemak, serta mineral seperti zinc dan tembaga yang berhubungan dengan perbaikan jaringan.

Baca Lainya: Ini Dia 5 Ikan Invasif yang Justru Dibudidayakan di Indonesia | Menilik Potensi Perikanan sebagai Magnet Baru Investasi

Temuan yang sama juga menyoroti mekanisme yang mungkin bekerja. Studi-studi praklinis yang dikaji menunjukkan adanya peningkatan proliferasi fibroblas, epitelisasi, kekuatan jaringan, dan pembentukan kolagen. Pada tingkat teori penyembuhan luka, ini masuk akal karena tubuh memang membutuhkan protein, asam amino, dan mineral tertentu untuk membangun jaringan baru.

Ada penelitian pada pasien pascaoperasi

Bukti yang paling sering dikutip datang dari penelitian klinis pada pasien pascaoperasi bedah saraf. Artikel tahun 2019 yang tercatat di portal Universitas Hasanuddin melibatkan 37 pasien dan meneliti pemberian kapsul ekstrak gabus selama tiga minggu setelah operasi. Hasilnya menunjukkan kadar albumin serum pasien meningkat secara bermakna setelah perlakuan. Peneliti menyimpulkan gabus dapat meningkatkan kadar albumin pada pasien setelah operasi.

Albumin sendiri penting karena berhubungan dengan status gizi dan proses pemulihan jaringan. Karena itu, wajar bila gabus kemudian dikenal sebagai pangan yang membantu masa pemulihan. Namun dari sini juga terlihat bahwa penelitian yang ada banyak menyoroti dukungan terhadap kondisi tubuh, bukan membuktikan bahwa gabus bekerja seperti obat tunggal yang langsung “menyembuhkan” luka.

Fakta, tetapi bukan obat ajaib

Di sinilah garis pembeda antara fakta dan mitos perlu dijaga. Fakta ilmiahnya ada. Review 2025 menyebut gabus menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam penyembuhan luka karena profil nutrisinya dan jalur kerjanya yang berkaitan dengan sintesis kolagen, angiogenesis, dan imunomodulasi. Namun review yang sama juga memberi catatan penting: jumlah uji klinis pada manusia masih terbatas, sehingga diperlukan studi yang lebih besar dan lebih baik desainnya untuk memastikan efektivitas klinisnya secara lebih kuat.

Artinya, kalau ada yang bilang “gabus membantu pemulihan luka operasi,” itu masih masuk akal. Tetapi kalau ada yang bilang “cukup makan gabus, luka pasti sembuh,” itu sudah melompat terlalu jauh. Luka operasi tetap butuh perawatan medis, kebersihan luka, kontrol infeksi, serta pengawasan dokter. Gabus lebih tepat dipahami sebagai pangan pendukung yang kaya protein dan nutrien tertentu, bukan pengganti pengobatan. Ini adalah inferensi yang paling masuk akal dari jenis bukti yang tersedia saat ini.

Kenapa masyarakat tetap mempercayainya

Kepercayaan masyarakat pada gabus tetap kuat karena pengalaman sehari-hari sering bertemu dengan logika gizi. Saat orang habis operasi lalu diberi gabus, tubuh mereka memang mendapat tambahan protein dan zat gizi yang dibutuhkan untuk pemulihan. Dari situ muncul pengalaman berulang yang kemudian diwariskan menjadi kebiasaan. Dalam banyak kasus, kebiasaan itu tidak sepenuhnya bertentangan dengan sains. Hanya saja, bahasa keseharian sering menyederhanakannya menjadi “ikan gabus itu obat luka,” padahal yang lebih tepat adalah “ikan gabus bisa membantu pemulihan tubuh setelah operasi.”

Dari mitos dapur ke nilai ekonomi ikan lokal

Hal menarik lain, reputasi gabus juga memberi nilai ekonomi tambahan pada ikan ini. Gabus tidak dibeli hanya sebagai lauk, tetapi juga sebagai ikan yang dipercaya baik untuk pemulihan. Itu membuat posisinya di pasar berbeda dari sekadar ikan air tawar biasa. Di sinilah gabus menjadi contoh bagaimana pangan lokal bisa bergerak di persimpangan antara budaya, pengalaman keluarga, dan sains.

Baca Lainya: Ini Dia 5 Ikan Invasif yang Justru Dibudidayakan di Indonesia | Menilik Potensi Perikanan sebagai Magnet Baru Investasi

Pada akhirnya, pertanyaan tentang gabus dan luka operasi tidak perlu dijawab dengan saling meniadakan. Ia bukan mitos kosong, karena ada dasar ilmiah yang mendukung potensi nutrisinya. Namun ia juga bukan obat ajaib yang bisa berdiri sendiri. Gabus lebih tepat dipahami sebagai sumber protein dan nutrien yang dapat mendukung pemulihan, selama tetap dibarengi perawatan medis yang benar. Justru dari keseimbangan membaca fakta inilah reputasi gabus menjadi lebih jujur dan lebih masuk akal. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *