Jangan Takut Beternak Pesan Enjang untuk Pemuda Desa di Tengah Kebutuhan Telur Nasional

Petikhasil.id, SOREANG — Di sebuah kandang sederhana di kawasan Soreang Kabupaten Bandung, suara ayam petelur bersahutan sejak pagi. Bagi sebagian orang, suara itu biasa. Bagi Enjang Suhendar, suara itu adalah harapan.

Enjang menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa beternak ayam petelur bukan pekerjaan yang harus ditakuti, apalagi oleh pemuda desa. Menurutnya, justru di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat, usaha telur memiliki masa depan yang jelas.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa telur ayam ras merupakan salah satu sumber protein hewani paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Konsumsi telur nasional terus meningkat setiap tahun seiring pertumbuhan penduduk dan kesadaran gizi. Artinya, pasar telur bukan pasar musiman.

Baca Lainya: OPINI: Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, serta Isu Rente Ekonomi | Dari Bisnis Pestisida ke Peternakan Ayam, Perjalanan Ken Farm Cirebon yang Inspiratif

Enjang melihat fakta sederhana ini sebagai peluang. Ia mengatakan kepada Petik Hasil bahwa selama telur masih dimakan setiap hari, peluang usaha tetap terbuka. Baginya, risiko terbesar bukan pada pasar, melainkan pada keberanian memulai.

Saat ini ia mengelola 600 ekor ayam petelur. Produksinya memang belum maksimal karena ayam baru memasuki masa awal bertelur. Namun grafiknya terus naik. Dari 56 butir meningkat menjadi 68 butir dalam beberapa hari.

Menurut Enjang, konsistensi perawatan menjadi kunci utama. Ia memeriksa ayam setiap hari. Ayam yang sakit langsung dipisahkan. Pakan diberikan dengan takaran yang disiplin. Air minum tidak boleh kosong. Vitamin dan vaksin mengikuti jadwal.

Telur sebagai pangan strategis dan peluang desa

Kementerian Pertanian mencatat bahwa subsektor peternakan unggas menyumbang bagian besar dalam penyediaan protein hewani nasional. Telur ayam ras menjadi komoditas strategis karena harganya relatif terjangkau dibanding daging sapi atau ikan laut.

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur bahkan terdorong oleh program intervensi gizi pemerintah. Hal ini ikut menjaga stabilitas permintaan di tingkat peternak.

Enjang menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa kondisi harga saat ini cukup memberi ruang napas. Harga telur di kandang berkisar Rp28.000 hingga Rp29.000 per kilogram. Ia mengakui harga pakan memang naik, tetapi harga telur juga ikut terdorong.

Menurutnya, usaha ayam petelur memiliki siklus produksi yang jelas. Ayam mulai bertelur sekitar usia 20 minggu dan bisa produktif hingga satu setengah tahun. Setelah itu dilakukan pergantian atau afkir.

Ia tidak memulai usaha ini secara gegabah. Sebelum membeli bibit, ia memastikan kandang siap. Kini kandang menggunakan sistem rangka yang lebih kuat dan tahan lama dibanding bambu.

Mental dan disiplin lebih penting dari modal besar

Enjang menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada teknis kandang, melainkan mental. Ia mengatakan kepada Petik Hasil bahwa banyak pemuda ragu sebelum mencoba. Padahal ilmu sudah sangat mudah diakses.

Ia menyarankan agar calon peternak melihat langsung kandang orang lain. Belajar dari praktik. Ngeguru sebelum memulai. Setelah itu baru mengambil keputusan.

Menurutnya, beternak ayam tidak rumit jika disiplin. Rutinitasnya jelas. Bersih sebelum masuk kandang. Beri pakan dua kali sehari dengan komposisi seimbang. Bersihkan kotoran dua kali seminggu. Pantau kesehatan harian.

Ia juga mengingatkan bahwa ayam sangat sensitif terhadap perubahan. Jika pakan terlambat atau kualitas turun, produksi ikut turun. Karena itu konsistensi adalah harga mati.

Data BPS menunjukkan sektor pertanian dan peternakan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar nasional. Ini berarti ruang usaha di desa masih sangat relevan. Enjang melihat fakta ini sebagai peluang bagi generasi muda yang tidak ingin merantau tanpa kepastian.

Ia menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa peternak bukan pilihan terakhir. Peternak adalah profesi yang bisa direncanakan. Dengan manajemen baik, arus kas bisa diprediksi karena produksi telur harian relatif stabil.

Enjang juga membuka diri bagi siapa pun yang ingin belajar. Ia mengatakan bahwa ilmu tidak boleh disimpan sendiri. Jika ada pemuda yang ingin bertanya, ia siap berbagi pengalaman.

Baca Lainya: OPINI: Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, serta Isu Rente Ekonomi | Dari Bisnis Pestisida ke Peternakan Ayam, Perjalanan Ken Farm Cirebon yang Inspiratif

Baginya, desa tidak kekurangan peluang. Yang kurang hanya keberanian memulai.

Di tengah kebutuhan protein nasional yang terus meningkat, usaha ayam petelur menjadi salah satu jalur realistis bagi pemuda desa. Telur bukan komoditas tren. Ia adalah kebutuhan harian.

Enjang percaya, selama ayam sehat dan disiplin terjaga, masa depan bisa ditatap dengan lebih tenang. Dan bagi pemuda yang masih ragu, pesannya sederhana.

Jangan takut beternak. Karena masa depan tidak selalu harus dicari jauh dari kandang sendiri. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *