Petikhasil.id, Garut — Produksi kopi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami lonjakan signifikan pada 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total produksi kopi mencapai 6.246 ton atau naik 1.504 ton dibandingkan produksi 2024 yang tercatat 4.742 ton.
Kenaikan tersebut setara dengan pertumbuhan 31,7% dalam satu tahun.
Kepala BPS Kabupaten Garut, Sidik Edi Sutopo, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan sektor perkebunan kopi masih menjadi salah satu penopang penting ekonomi pertanian daerah.
“Produksi kopi tahun 2025 memang mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Ini terlihat dari kontribusi sejumlah kecamatan sentra yang mengalami peningkatan produksi,” ujar Sidik, dikutip Sabtu (7/3/2026).
Cikajang Jadi Sentra Produksi Terbesar
Data BPS mencatat Kecamatan Cikajang menjadi penyumbang produksi kopi terbesar pada 2025 dengan total 869 ton, meningkat dari 543 ton pada 2024. Posisi kedua ditempati Pakenjeng sebesar 864 ton, naik dari 760 ton.
Sementara itu, Kecamatan Cisurupan menempati posisi ketiga dengan produksi 618 ton, meningkat dari 409 ton pada tahun sebelumnya.
Selain tiga kecamatan tersebut, beberapa wilayah lain juga mencatat peningkatan produksi cukup tajam. Kecamatan Samarang misalnya naik dari 236 ton menjadi 309 ton. Pasirwangi meningkat dari 246 ton menjadi 338 ton.
Kenaikan paling mencolok terjadi di Banjarwangi yang melonjak dari 44 ton menjadi 174 ton. Produksi kopi di Cigedug juga hampir dua kali lipat dari 118 ton menjadi 237 ton.
Dipengaruhi Luas Tanaman dan Produktivitas
Sidik menjelaskan peningkatan produksi kopi dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya bertambahnya luas tanaman menghasilkan serta meningkatnya produktivitas kebun rakyat.
“Peningkatan produksi biasanya terkait dengan tanaman yang sudah memasuki usia produktif optimal dan perbaikan pola budidaya. Faktor cuaca yang relatif mendukung juga berpengaruh,” katanya.
Meski demikian, tidak semua kecamatan mengalami tren peningkatan produksi. Beberapa wilayah justru mencatat penurunan.
Kecamatan Cisewu misalnya turun dari 240 ton menjadi 204 ton. Cikelet menurun dari 62 ton menjadi 40 ton. Karangpawitan juga turun dari 36 ton menjadi 20 ton, sementara Wanaraja turun dari 39 ton menjadi 34 ton.
Menurut Sidik, fluktuasi tersebut merupakan hal yang lazim dalam sektor perkebunan karena sangat dipengaruhi kondisi agroklimat dan perawatan tanaman.
“Perkebunan kopi sangat dipengaruhi faktor curah hujan, serangan hama, serta siklus produksi tanaman. Karena itu, pergerakan produksi antarwilayah bisa berbeda,” ujarnya.
Potensi Nilai Ekonomi Ratusan Miliar
Secara struktur, produksi kopi Garut masih terkonsentrasi di wilayah dataran tinggi bagian selatan dan tengah. Kecamatan seperti Cikajang, Pakenjeng, Cisurupan, Pamulihan, dan Pasirwangi menjadi basis utama produksi karena memiliki ketinggian serta karakter tanah yang sesuai untuk pengembangan kopi, khususnya jenis arabika.
Jika dihitung secara ekonomi, kenaikan produksi tersebut berpotensi meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat petani. Dengan asumsi harga rata-rata kopi biji kering sekitar Rp60.000 per kilogram, total produksi 6.246 ton setara dengan potensi nilai lebih dari Rp374 miliar dalam satu tahun.
Sidik menegaskan data produksi tersebut dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penguatan sektor perkebunan.
“Data statistik ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan, termasuk pengembangan hilirisasi dan peningkatan kesejahteraan petani kopi,” ujarnya.






