Satu Pohon Bisa Hasilkan 10 Buah, Teknik Machida Buka Peluang Melon di Lahan Sempit

Petikhasil.id, BANDUNG — Setelah dikenal sebagai petani melon dari Ciwidey yang tiga kali gagal sebelum sukses, Yusef atau Kang Iyus kini melangkah ke fase baru. Ia tidak hanya menanam, tetapi juga menjadi konsultan budidaya melon di kawasan Buahbatu, Kota Bandung.

Di sebuah kebun milik mitranya, Kang Iyus sedang mengembangkan teknik yang ia sebut sebagai sistem Machida. Sistem ini menggunakan media air dengan ruang perakaran lebih luas dibanding metode konvensional.

Kang Iyus menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa melalui sistem ini, satu pohon melon bisa menghasilkan 5 hingga 10 buah dengan bobot yang relatif seragam.

“Keunggulannya ada di akar. Akar lebih leluasa karena tempatnya lebih luas. Nutrisi lebih stabil, jadi buah bisa lebih banyak dan ukurannya seragam,” ujarnya.

Baca Lainya: Kisah Yusef (Iyus), Petani Melon dari Ciwidey yang Tiga Kali Gagal Sebelum Sukses | Melon Premium, Pasar Premium: Siapkah Indonesia Bersaing?

Sweet Lavender dan Korean Chamoe Jadi Andalan

Di kebun Buahbatu tersebut, dua varietas yang ditanam adalah Sweet Lavender dan Korean Chamoe.

Sweet Lavender dikenal memiliki warna kulit menarik dan rasa manis aromatik. Sementara Korean Chamoe adalah melon khas Korea dengan bentuk lonjong, daging renyah, dan rasa segar.

Menurut Kang Iyus, varietas sangat menentukan keberhasilan sistem Machida karena karakter pertumbuhan akar harus sesuai dengan sistem media air.

Namun ia juga menegaskan, untuk skala produksi besar, sistem fertigasi tetap yang paling efisien.

“Kalau untuk produksi massal tetap sistem fertigasi yang terbaik. Lebih hemat biaya dan lebih efisien,” jelasnya.

Sistem Machida dan Peluang Urban Farming

Meski bukan yang paling efisien untuk produksi skala luas, Kang Iyus melihat sistem Machida punya potensi besar untuk urban farming dan pertanian lahan sempit.

Sistem ini lebih bersih, terkontrol, dan tidak membutuhkan lahan luas. Konsep ini cocok diterapkan di wilayah perkotaan seperti Bandung yang ruang tanamnya terbatas.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan luas lahan pertanian di perkotaan terus tergerus akibat alih fungsi lahan. Sensus Pertanian 2023 juga mencatat penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian dibandingkan satu dekade sebelumnya, salah satunya karena keterbatasan lahan.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) mendorong pemanfaatan lahan sempit untuk produksi pangan keluarga dan urban farming. Program ini dijalankan melalui kelompok wanita tani dan komunitas masyarakat kota.

Kementerian Pertanian juga mengembangkan konsep pertanian perkotaan berbasis hidroponik, vertikultur, dan sistem tanam modern yang hemat ruang. Sistem Machida yang dikembangkan Kang Iyus memiliki irisan kuat dengan semangat tersebut.

Artinya, inovasi seperti ini tidak berdiri sendiri. Ia sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas dan kota.

Bertani Itu Keren dan Modern

Di balik eksperimen teknik ini, Kang Iyus membawa misi regenerasi. Ia ingin anak muda melihat pertanian sebagai bidang yang modern, profesional, dan penuh peluang.

“Saya ingin anak muda tahu kalau bertani itu keren. Sekarang enggak harus kotor. Sistemnya bisa bersih, terkontrol, dan pakai teknologi,” ujarnya kepada Petik Hasil.

Ia bahkan menyatakan siap berbagi ilmu kepada generasi muda yang ingin belajar. Menurutnya, pertanian hari ini bukan sekadar mencangkul, tetapi memahami nutrisi, manajemen produksi, dan pasar.

Baca Lainya: Kisah Yusef (Iyus), Petani Melon dari Ciwidey yang Tiga Kali Gagal Sebelum Sukses | Melon Premium, Pasar Premium: Siapkah Indonesia Bersaing?

Dengan pendekatan urban farming dan teknik modern seperti Machida, bertani bisa dilakukan di lahan sempit, di tengah kota, tanpa kehilangan nilai ekonominya.

Dari Ciwidey ke Buahbatu, perjalanan Kang Iyus menunjukkan bahwa inovasi lahir dari pengalaman gagal yang tidak berhenti di tengah jalan. Dan mungkin, di tangan generasi muda, kebun melon bukan lagi sekadar lahan tanam, melainkan simbol pertanian masa depan yang lebih adaptif dan berkelas. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *