Dari Alamendah Buah Tin Fraistin Tumbuh dari Kebun Keluarga

Petikhasil.id, CIWIDEY — Di Jalan Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, sebuah kebun buah tin tumbuh dari cerita yang sederhana. Bukan dari modal besar, bukan pula dari rencana usaha yang matang sejak awal. Semuanya bermula dari rasa penasaran seorang petani yang melihat tanaman tin sebagai sesuatu yang unik, lalu mencoba menanamnya di sela kebun sayur.

Di lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi itu, keluarga ini kini mengelola sekitar 2.500 pohon dan bibit tin. Dalam sekali panen, hasil yang didapat rata-rata berkisar 20 sampai 30 kilogram, dengan harga jual sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Dari kebun inilah, buah tin yang dulu hanya ditanam iseng pelan-pelan berubah menjadi sumber penghidupan.

Baca Lainya: Strawberry Mini Ciwidey Makin Diminati Wisatawan dan Pasar Modern | Dari Jeruk hingga Alpukat, Petani Ciwidey Kini Fokus ke Melon

Berawal dari satu pohon di galengan

Cerita awal kebun ini datang dari Bapa Tarsana, 55 tahun, petani yang pertama kali mengenalkan budidaya buah tin di keluarganya. Ia mengungkapkan bahwa pada awalnya ia sama sekali tidak membayangkan tanaman itu akan berkembang sejauh sekarang.

Menurut Bapa Tarsana, bibit pertama buah tin ia dapat dari tetangga. Saat itu ia hanya tertarik karena bentuk buahnya terlihat unik. Tanaman itu kemudian ia letakkan di galengan, di sela lahan yang sebelumnya lebih banyak ditanami sayuran dan bawang.

“Awalnya mah iseng. Lihat buahnya unik, terus kepikiran ditanam,” ungkap Bapa Tarsana kepada Petik Hasil, Selasa (21/04/2026).

Dari satu pohon itu, ia mulai melihat harapan. Setelah buahnya matang dan dicoba, rasanya dinilai menjanjikan. Ia lalu mencoba memperbanyak tanaman dengan cara stek dan cangkok. Prosesnya tentu tidak instan. Ia harus menunggu cukup lama sampai tanaman benar-benar menunjukkan hasil. Sekitar dua tahun kemudian, ketika buah mulai banyak muncul, barulah muncul gagasan untuk menjualnya.

Dari situlah kebun tin keluarga ini mulai menemukan arahnya. Apa yang semula hanya rasa penasaran, berubah menjadi kegiatan budidaya yang digarap lebih serius.

Hama kecil yang jadi ancaman besar

Namun seperti banyak kebun lain, jalan budidaya tidak selalu mulus. Bapa Tarsana mengungkapkan bahwa ancaman paling berat bagi tanaman tin justru datang dari penggerek batang. Dalam kesehariannya, ia menyebut hama itu sebagai “ku’uk”, yakni larva yang masuk ke batang dan perlahan merusak tanaman dari dalam.

Menurutnya, jika tanaman sudah terserang penggerek batang, lama-kelamaan pohon bisa mati. Ancaman lain memang ada, seperti burung kutilang yang suka memakan buah saat mendekati panen. Tetapi bagi Bapa Tarsana, serangan burung masih tidak seberapa dibanding kerusakan yang ditimbulkan penggerek batang.

Karena itu, pekerjaan di kebun tidak berhenti pada urusan menanam dan memanen. Ia juga terus belajar bagaimana mencegah serangan hama dan menjaga tanaman tetap sehat. Pengalaman itulah yang membuat budidaya buah tin baginya bukan sekadar soal hasil, tetapi juga soal ketelatenan.

Selain menanam pohon tin, Bapa Tarsana juga menerapkan pola tumpang sari di kebunnya. Di sela kebun tin, ia tetap menanam komoditas lain seperti bawang daun dan buah bit. Cara itu membuat lahan tetap produktif, sekaligus memberi tambahan nilai ekonomi sambil menunggu buah tin dipanen.

Pembibitan belum selalu mudah

Tantangan lain datang dari urusan pembibitan. Bapa Tarsana menuturkan bahwa bibit buah tin banyak ia kembangkan dengan metode stek. Namun hasilnya belum selalu memuaskan. Tingkat keberhasilannya, menurut dia, masih sekitar 50 banding 50.

Ada bibit yang tumbuh baik, tetapi tidak sedikit yang layu dan membusuk, terutama saat musim hujan. Air yang terlalu banyak membuat batang muda lebih rentan rusak. Dari situ, ia mencari cara sederhana untuk mengurangi kegagalan. Salah satunya dengan membuat tudung plastik di petak bibit agar hujan tidak langsung mengenai tanaman muda.

Cara-cara seperti itu memperlihatkan bahwa kebun ini tumbuh dari pengalaman lapangan. Tidak semua berasal dari teori, tetapi dari proses mencoba, gagal, lalu memperbaiki.

Dari kebun keluarga menjadi usaha bersama

Jika Bapa Tarsana menjadi sosok yang memulai, maka Galih Raka Siwi, 41 tahun, menjadi orang yang mendorong usaha ini ke skala yang lebih besar. Galih mengungkapkan bahwa ia melihat buah tin bukan hanya sebagai tanaman unik, tetapi sebagai komoditas yang bisa memberi nilai ekonomi lebih tinggi untuk keluarga.

Galih kemudian mengajak saudara-saudaranya ikut menanam. Dari sana, kebun tin tidak lagi berdiri sebagai usaha satu orang, melainkan menjadi usaha keluarga yang bergerak bersama. Ia juga mulai membangun merek dagang Fraistin untuk memperkenalkan hasil kebun mereka ke pasar yang lebih luas.

Pada tahap awal, pemasaran buah tin sempat menjangkau berbagai pulau di Indonesia. Namun seiring permintaan yang terus datang, hasil kebun belum mampu mengimbangi semua pesanan. Karena itu, untuk sementara mereka memilih fokus memasok pasar di Kota Bandung dan DKI Jakarta.

“Awalnya sempat kirim ke berbagai pulau, tapi sekarang kami fokus dulu ke Bandung sama Jakarta, karena permintaan besar belum sebanding dengan hasil di kebun,” ungkap Galih kepada Petik Hasil.

Selain penjualan langsung, Galih juga memasarkan buah tin melalui berbagai platform online seperti TikTok, Shopee, Instagram, dan beberapa kanal e-commerce lain. Menurutnya, antusiasme pasar terhadap buah tin cukup tinggi. Bahkan, ia sempat menerima cerita dari pelanggan yang datang langsung karena istrinya sedang ngidam buah tin.

Galih juga menyebut pernah menerima pesanan bibit hingga sekitar 1.500 batang dari luar Pulau Jawa. Namun pengembangan bibit belum mereka seriuskan sepenuhnya karena prosesnya masih cukup sulit, sementara permintaan sudah besar. Untuk saat ini, pengiriman bibit keluar pulau tetap dilakukan jika ada pesanan, dengan ongkos kirim ditanggung oleh pembeli.

Anak muda yang memilih pulang ke kebun

Di generasi yang lebih muda, ada Renaldy Ardian, 27 tahun, lulusan S1 Sastra Sunda yang kini ikut membantu pengembangan usaha keluarga. Renaldy mengungkapkan bahwa awalnya ia hanya membantu memasarkan hasil tani kakaknya. Namun lama-kelamaan, ia merasa dunia kebun justru menjadi sesuatu yang mengasyikkan.

Meski latar pendidikannya tidak berhubungan langsung dengan pertanian, Renaldy merasa jiwa bertaninya tetap kuat karena ia lahir dan tumbuh di keluarga petani. Ia kini ikut membantu pemasaran buah tin ke berbagai tempat, mulai dari jaringan ritel dan supermarket di Kota Bandung hingga penjualan dengan sistem COD jika rutenya masih searah pengiriman.

“Jurusan saya memang sastra, tapi karena lahir di keluarga petani, saya merasa tetap punya dorongan untuk mengembangkan usaha ini lebih besar,” ungkap Renaldy kepada Petik Hasil.

Menurut Renaldy, pertanian seharusnya tidak dijauhi anak muda. Ia justru melihat kebun sebagai ruang usaha yang masih sangat mungkin dikembangkan. Ia juga menyebut pohon tin umumnya baru bisa berbuah ketika berumur sekitar dua tahun, tentu dengan penanganan dan perawatan yang tepat.

Pandangan Renaldy memberi warna lain bagi cerita kebun ini. Bahwa bertani hari ini bukan cuma soal meneruskan pekerjaan orang tua, tetapi juga soal membangun cara baru agar hasil kebun bisa punya pasar yang lebih luas.

Baca Lainya: Strawberry Mini Ciwidey Makin Diminati Wisatawan dan Pasar Modern | Dari Jeruk hingga Alpukat, Petani Ciwidey Kini Fokus ke Melon

Buah tin dan masa depan kecil dari kampung

Kebun tin di Alamendah ini mungkin belum sebesar perkebunan komersial berskala besar. Namun dari lahan yang tidak terlalu luas itu, keluarga ini berhasil menunjukkan bahwa pertanian sering kali tumbuh dari langkah kecil. Dari satu pohon yang ditanam sambil lalu, mereka belajar memperbanyak, merawat, memasarkan, lalu membangun nilai ekonomi bersama.

Di tengah derasnya anggapan bahwa anak muda semakin jauh dari kebun, cerita keluarga Bapa Tarsana, Galih Raka Siwi, dan Renaldy Ardian justru memberi arah lain. Bahwa pertanian masih bisa menjadi ruang hidup, ruang usaha, sekaligus ruang harapan. Kadang, masa depan itu memang tidak lahir dari sesuatu yang besar. Ia justru tumbuh dari satu bibit, satu galengan, dan keyakinan untuk terus merawatnya. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *