Petikhasil.id, SUMEDANG — Tahu sudah lama akrab di meja makan orang Indonesia. Ia sederhana, murah, dan mudah dijumpai. Namun di tangan Nurkholis (46), tahu tidak berhenti sebagai lauk harian yang biasa. Dari Sumedang, ia mencoba membawa tahu ke arah yang berbeda lewat Tahu Omega, produk yang ia kembangkan dari kedelai lokal, kacang sacha inchi, susu kambing, dan koagulan yang menurutnya lebih ramah bagi lambung serta lingkungan.
Nurkholis menjalankan usaha itu di bawah nama Omega Food sejak 2024. Kepada Petik Hasil, Jumat (24/4/2026), ia menuturkan bahwa Tahu Omega lahir dari pertemuan antara hasil panen petani, keterbatasan serapan pasar, dan keinginan untuk menaikkan kelas tahu yang selama ini terlalu biasa dipandang orang. Dari situlah ia mulai memikirkan bagaimana tahu bisa menjadi pangan fungsional yang tetap praktis, tetap dekat dengan kebiasaan makan masyarakat, tetapi punya nilai lebih.
Baca Lainya: Tahu Susu Jombang yang Ramai Diburu dan Menyambung Nilai dari Desa | Sumedang Tawarkan Investasi 47 Hektare Lahan Pertanian Kedelai
Berawal dari amanah petani
Cerita Tahu Omega justru tidak bermula dari tahu. Nurkholis bercerita kepada Petik Hasil bahwa ia sempat mendapat amanah dari para petani yang sebelumnya diberi bibit sacha inchi. Setelah mereka menanamnya, tanaman itu ternyata bisa beradaptasi dengan baik. Saat masa panen datang, hasilnya kemudian diserahkan kepadanya.
Di situlah ia mulai berpikir keras. Menurutnya, sacha inchi selama ini lebih banyak diperuntukkan sebagai bahan baku minyak. Masalahnya, serapan pasar untuk produk itu masih terbatas. Jika hasil panen hanya berhenti di sana, petani tentu tidak mendapat jalan yang lebih luas. Dari kebingungan itulah, Nurkholis mulai melakukan riset.
Ia lalu mencari cara agar hasil panen itu bisa masuk ke produk yang lebih akrab di masyarakat. Pilihannya jatuh pada tahu. Bagi dia, tahu adalah makanan sehari-hari yang sudah dikenal luas. Karena itu, jika tahu bisa diberi nilai baru, maka peluang pasarnya juga bisa lebih terbuka.
Menaikkan level tahu yang sudah akrab di masyarakat
Kepada Petik Hasil, Nurkholis menjelaskan bahwa Tahu Omega ia buat dari bahan baku yang ia sebut sebagai superfood. Komposisinya meliputi kedelai lokal, kacang sacha inchi sebagai sumber omega nabati, susu kambing, dan nigari atau nigarin sebagai koagulan.

Menurutnya, Tahu Omega bukan sekadar tahu yang dimodifikasi. Ia ingin menaikkan level tahu yang sudah sangat umum di masyarakat. Bagi Nurkholis, tahu adalah “makanan sejuta umat”, tetapi banyak orang belum melihat potensinya sebagai pangan yang bisa lebih bernilai.
Ia juga menyoroti cara produksi tahu yang menurutnya masih sering bermasalah. Kepada Petik Hasil, ia mengatakan bahwa sebagian tahu di pasaran masih diproduksi di tempat yang kurang higienis. Selain itu, ia menilai sebagian produsen masih memakai penggumpal berbasis cuka yang kurang baik bagi lambung dan limbahnya bisa berdampak buruk pada tanah. Karena itu, ia memilih memakai nigari sebagai koagulan pengganti.
Pilihan itu ingin ia dorong sebagai bagian dari pendekatan yang lebih sehat dan lebih ramah lingkungan. Dengan cara ini, tahu tetap menjadi makanan yang sederhana, tetapi prosesnya ia upayakan lebih baik.
Tahu yang ingin masuk ke ruang pangan fungsional
Dari hasil riset itu, lahirlah Tahu Omega. Kepada Petik Hasil, Nurkholis menuturkan bahwa produk ini telah melalui pengujian laboratorium dan dinyatakan mengandung omega. Dari sana, ia menyebut Tahu Omega sebagai tahu pertama yang mengandung omega.
Dalam konteks editorial, penjelasan ini paling aman dibaca sebagai hasil penuturan inovator produk. Namun arah besarnya tetap menarik. Nurkholis ingin membawa tahu masuk ke ruang pangan fungsional, tanpa membuatnya terasa jauh dari kebiasaan makan orang Indonesia.
Harapan itu tidak berdiri tanpa konteks. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa omega-3 merupakan asam lemak esensial yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan otak, pembentukan sel, serta fungsi normal organ tubuh. Kemenkes juga menyebut omega-3 berperan penting dalam tumbuh kembang sel neuron, terutama pada masa pertumbuhan. Karena itu, gagasan menghadirkan pangan sehari-hari yang lebih dekat dengan sumber omega memang punya relevansi dengan kebutuhan gizi masyarakat.
Menyambungkan petani, peternak, dan kebutuhan anak Indonesia
Yang membuat Tahu Omega menarik bukan hanya soal formulanya. Produk ini juga mencoba menyambungkan banyak pihak dalam rantai pangan lokal. Ada kedelai lokal, ada sacha inchi dari petani, ada susu kambing yang membuka ruang bagi peternak, lalu semua itu bertemu di satu produk yang akrab di meja makan.
Kepada Petik Hasil, Nurkholis mengatakan bahwa dua hal besar mendorongnya mengembangkan produk ini. Pertama, ia ingin membantu membangkitkan kembali kedelai lokal. Kedua, ia ingin menghadirkan makanan praktis bagi anak-anak Indonesia, terutama untuk sarapan sebelum belajar.

Menurutnya, anak-anak membutuhkan pangan yang mudah dikonsumsi, tetapi tetap bernilai. Ia melihat tahu bisa masuk ke ruang itu. Jika produk seperti ini tumbuh, petani dan peternak lokal juga ikut punya peluang untuk tersenyum.
Pesan itu ia sampaikan dengan sederhana kepada Petik Hasil. “Mari berdayakan petani dan peternak lokal,” ujarnya.
Tantangan pasar dan bahan baku
Meski idenya menarik, jalan yang ditempuh Nurkholis tidak selalu mulus. Ia mengakui bahwa tantangan utama usahanya saat ini datang dari dua hal yang sangat mendasar. Pertama, pengetahuan pasar terhadap produk masih terbatas. Banyak orang belum benar-benar memahami apa itu Tahu Omega dan apa bedanya dengan tahu biasa. Kedua, pasokan kedelai lokal yang ia butuhkan belum selalu stabil.
Masalah kedelai ini memang bukan hal kecil. Indonesia masih sangat bergantung pada impor kedelai. BPS mencatat impor kedelai Indonesia pada 2024 mencapai 2.475.560,8 ton. Angka ini menunjukkan bahwa pelaku usaha yang ingin bertumpu pada kedelai lokal memang masih menghadapi tantangan pasokan yang nyata.
Karena itu, bagi Nurkholis, membangun Tahu Omega bukan hanya soal membuat produk baru. Ia juga harus mengedukasi pasar dan menjaga agar bahan baku tetap tersedia. Untuk menjangkau konsumen, ia bekerja sama dengan jalur pemasaran modern fresh market. Langkah ini menunjukkan bahwa produk lokal hari ini tidak cukup hanya mengandalkan cerita, tetapi juga perlu jalur distribusi yang tepat.
Harapan yang lebih besar dari sekadar omzet
Saat ditanya soal harapan, Nurkholis tidak langsung bicara soal angka penjualan. Kepada Petik Hasil, ia justru menekankan keinginan menghadirkan solusi pangan fungsional yang praktis. Ia berharap produk ini bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi, terutama yang berkaitan dengan perkembangan otak anak-anak Indonesia.
Bagi dia, usaha ini juga harus memberi manfaat yang lebih luas. Jika Tahu Omega terus membesar, maka petani dan peternak lokal juga harus ikut bangkit. Kalimat itu terasa penting karena menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha tidak ia lihat semata sebagai urusan merek, tetapi juga sebagai jalan untuk memperkuat rantai pangan di hulunya.
Baca Lainya: Tahu Susu Jombang yang Ramai Diburu dan Menyambung Nilai dari Desa | Sumedang Tawarkan Investasi 47 Hektare Lahan Pertanian Kedelai
Pada akhirnya, kisah Tahu Omega dari Sumedang memperlihatkan satu hal yang sering menjadi kekuatan inovasi pangan lokal. Ia tidak lahir dari keadaan yang serba sempurna. Ia justru tumbuh dari kebingungan melihat hasil panen yang serapannya terbatas. Dari sana, Nurkholis memilih riset, mencoba mengolah, lalu mempertemukan hasil tani dan ternak ke dalam satu produk yang tetap dekat dengan masyarakat.
Tahu tetaplah tahu. Namun di tangan orang yang mau berpikir lebih jauh, tahu bisa menjadi jalan baru untuk mengangkat bahan baku lokal, memperluas senyum petani dan peternak, dan menghadirkan makanan praktis yang lebih bernilai bagi anak-anak Indonesia. (Vry)






