Petikhasil.id, KULON PROGO — Di hamparan sawah pesisir kawasan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, petani kerap menghabiskan waktu berhari-hari membungkuk di bawah terik matahari untuk mencabuti rumput liar gulma yang tumbuh subur di sela barisan rumpun padi. Untuk membasmi hama keong mas (Pomacea canaliculata) yang rakus memotong bibit padi muda dan wereng cokelat di pangkal batang, petani kerap menyemprotkan racun moluskisida dan insektisida kimia yang mematikan biota sungai.
Kerepotan menyiangi gulma dan membeli racun hama ini dihentikan total di Jepang oleh seorang petani inovatif bernama Takao Furuno melalui sistem budidaya terpadu sawah bebek atau metode aigamo (aigamo duck-rice farming).
Alih-alih menggunakan herbisida atau mesin penyiang bermotor, Furuno melepas kawanan anak bebek silangan jenis aigamo ke dalam petak sawah yang digenang air tipis satu hingga dua pekan setelah bibit padi ditanam.
Sistem ini membuktikan bahwa naluri alami seekor unggas air sanggup menggantikan seluruh fungsi herbisida, insektisida, sekaligus pupuk kimia pabrik secara harmonis.
Cakar bebek yang mengaduk lumpur dan memotong gulma
Naluri alamiah anak bebek saat berenang di air dangkal adalah mengayunkan kedua kakinya yang berselaput (webbed feet) dan menyurukkan paruhnya ke dalam lumpur dasar sawah untuk mencari pakan renik.
Gerakan mengayun cakar bebek yang terus-menerus ini mengaduk lapisan lumpur atas sawah secara tiada henti.
Adukan cakar bebek mencabuti kecambah-kecambah rumput liar gulma (Echinochloa crus-galli) dan rumput teki saat benih gulma baru mulai bertunas di lumpur. Gulma yang tercabut mengapung ke permukaan air dan langsung dimakan oleh bebek sebagai sayuran segar.
Lumpur sawah yang terus-menerus teraduk oleh kaki bebek menjadi keruh pekat. Kekeruhan air lumpur ini menghalangi penetrasi sinar matahari ke dasar sawah, mencegah biji-biji gulma liar yang tertidur di dalam lumpur untuk berfotosintesis dan berkecambah.
Sawah tetap bersih mulus dari rumput liar sepanjang musim tanpa setetes pun cairan herbisida kimia.
Menelan keong mas dan menyenggol serangga wereng
Bagi anak bebek berumur dua hingga delapan pekan, keong mas muda dan telur keong mas yang menempel di pelepah padi adalah sumber protein kalsium yang paling lezat.
Anak bebek berenang lincah di antara barisan tanaman padi, mematuki dan menelan ratusan butir keong mas muda sebelum keong tersebut sempat memakan tunas anakan padi.
Saat bebek-bebek berenang menyusuri lorong sempit antarrumpun padi, tubuh mereka yang berbulu tebal bersentuhan dan menyenggol batang-batang padi secara berulang-ulang (thigmomorphogenesis).
Senggolan fisik ini mengguncang batang padi, menyebabkan serangga wereng cokelat dan ulat penggerek yang hinggap di pangkal batang jatuh berhamburan ke permukaan air, yang seketika disambar dan dimakan oleh bebek.
Guncangan mekanis dari tubuh bebek ini juga merangsang tanaman padi untuk memproduksi hormon etilen alami yang mempertebal dinding sel batang bagian bawah, menjadikan rumpun padi tumbuh lebih kekar, kokoh, dan tahan terhadap rebah akibat terpaan angin badai.
Mengoksigenasi perakaran dan menebar pupuk kascing air
Adukan kaki bebek di dalam air sawah melarutkan gas oksigen dari udara bebas masuk ke dalam lapisan lumpur perakaran padi (aerasi perakaran).
Rambut-rambut akar tanaman padi yang semula kekurangan oksigen di tanah tergenang kini menerima pasokan oksigen segar yang berlimpah, memacu pertumbuhan akar baru yang berwarna putih bersih dan sehat.
Sepanjang hari berenang di sawah, kawanan bebek mengeluarkan kotoran segar secara merata di seluruh petak lahan. Kotoran bebek kaya akan unsur hara nitrogen organik, fosfor, dan kalium yang langsung larut ke dalam air sawah, memberi makan tanaman padi secara gratis.
Setelah tanaman padi mulai berbunga dan bulir gabah mulai berisi malai (sekitar umur enam puluh hari), kawanan bebek diangkat keluar dari sawah agar tidak mematuki bulir gabah yang mulai menguning.
Bebek-bebek yang telah tumbuh gemuk dan sehat dapat dijual ke pasar daging sebagai sumber pendapatan tunai tambahan yang sangat menguntungkan bagi keluarga petani.
Bagi sentra-sentra persawahan di Nusantara seperti Kulon Progo, Tabanan Bali, hingga Cianjur, metode sawah bebek aigamo membuktikan keindahan integrasi biologis di alam.
Pertanian organik tidak menuntut biaya operasional yang mahal, melainkan kecerdasan membiarkan makhluk hidup bekerja sama: padi memberi naungan dan pakan, sementara bebek menyediakan tenaga penyiang, pembasmi hama, dan pupuk alami bagi sawah pusaka. (AK)








1 komentar