Kenapa Petani Jeruk Tiongkok Memasang Jembatan Bambu untuk Semut Rangrang? Rahasia Biokontrol Tertua di Dunia

Pasukan Predator Alami Berpatroli di Dahan Pohon Buah

Petikhasil.id, MAGETAN — Di kebun jeruk pamelo lereng Gunung Lawu kawasan Sukomoro, Kabupaten Magetan, buah-buah jeruk yang sedang ranum kerap dihiasi bercak cokelat kehitaman dan kulit buah yang mengeras kusam. Biang keroknya adalah kumbang moncong perusak buah dan kepik pengisap buah jeruk (Rhynchocoris poseidon). Petani kerap menyemprotkan insektisida kimia berbau menyengat ke tajuk pohon, namun hama-hama berkulit keras ini sering kali terbang menghindar lalu kembali menyerang saat kabut racun telah sirna.

Perilaku menyemprot racun kimia pada pohon buah ini dipandang aneh oleh para pekebun jeruk tradisional di Delta Sungai Mekong, Vietnam, serta perkebunan kuno di wilayah selatan Tiongkok.

Sejak abad ketiga masehi—tercatat dalam kitab agrikultur Dinasti Jin petani Tiongkok telah mempraktikkan bentuk pengendalian hama terpadu tertua di muka bumi: memelihara koloni semut rangrang atau semut penganyam (Oecophylla smaragdina).

Petani tidak meracuni kebun; mereka justru membentangkan jembatan tali rami atau bilah bambu antarpohon jeruk agar pasukan semut dapat berpatroli bebas ke seluruh penjuru kebun.

Baca Lainya: Menjaga Warisan dari Lereng Cikuray, Perjuangan Petani Muda Menghidupkan Kembali Jeruk Garut | Ternyata Jeruk Dekopon Jepang Punya Jejak dari Garut? Fakta dan Mitos di Baliknya

Pasukan pemburu agresif dengan senjata asam format

Semut rangrang adalah serangga sosial arboreal dengan tingkat agresivitas teritorial yang sangat tinggi. Berbeda dari semut tanah biasa, semut rangrang hidup seratus persen di atas kanopi pepohonan, membangun sarang sutra elok dari anyaman daun-daun hidup yang direkatkan oleh benang sutra larva mereka.

Setiap pohon jeruk yang dihuni oleh koloni semut rangrang dijaga oleh puluhan ribu prajurit semut yang berpatroli aktif selama dua puluh empat jam penuh di seluruh ranting, bunga, dan buah.

Ketika kepik pengisap buah, ulat pengerat daun, atau kumbang perusak mendarat di dahan jeruk, semut pekerja segera membunyikan sinyal alarm kimiawi feromon. Dalam hitungan detik, puluhan semut prajurit mengepung mangsa tersebut.

Semut rangrang menjepit kaki dan sayap hama dengan rahang mandibulanya yang kuat, merentangkan tubuh hama hingga terkunci tak berdaya. Bersamaan dengan gigitannya, semut menyemprotkan asam format (formic acid) konsentrasi tinggi dari ujung perutnya langsung ke mata dan persendian tubuh hama.

Hama berukuran puluhan kali lebih besar dari semut akan lumpuh lemas dan diseret beramai-ramai ke dalam sarang sebagai pasokan protein koloni.

Jembatan bambu pemersatu koloni antarpohon

Kunci keberhasilan memelihara semut rangrang di kebun buah terletak pada pemahaman batas teritorial koloni. Jika dua koloni semut rangrang dari sarang ratu yang berbeda bertemu di satu pohon, kedua kubu akan saling bertempur hingga mati massal.

Petani di Tiongkok dan Vietnam mengantisipasi hal ini dengan teknik pemasangan jembatan antardahan (canopy bridging).

Setelah satu koloni besar semut rangrang berhasil mapan di satu pohon induk yang sehat, petani memasang bilah bambu tipis atau tali sabut kelapa yang menghubungkan dahan pohon tersebut dengan pohon-pohon jeruk di sampingnya.

Bilah bambu ini menjadi jalan tol udara bagi para semut patroli untuk memperluas daerah jelajah mereka ke seluruh blok perkebunan tanpa perlu turun ke tanah yang penuh predator.

Seluruh pohon yang terhubung oleh jembatan bambu ini berada di bawah perlindungan satu koloni kekaisaran semut yang sama, menciptakan zona aman bebas hama tanpa pertempuran antarsarang.

Baca Lainya: Menjaga Warisan dari Lereng Cikuray, Perjuangan Petani Muda Menghidupkan Kembali Jeruk Garut | Ternyata Jeruk Dekopon Jepang Punya Jejak dari Garut? Fakta dan Mitos di Baliknya

Menghasilkan buah jeruk berkulit mulus tanpa racun

Pohon jeruk yang dijaga oleh koloni semut rangrang terbukti bebas dari serangan hama penggerek buah, ulat daun, hingga kutu sisik.

Petani cukup memberi makanan tambahan berupa sisa usus ikan atau bangkai ayam rebus yang digantung di dekat sarang saat musim pembungaan pohon tiba agar semut tidak mengganggu lebah penyerbuk.

Hasil panen buah jeruk yang diperoleh memiliki kulit yang mulus bersih, bebas dari noda gerek serangga, dan seratus persen bebas dari cemaran residu pestisida kimia yang membahayakan kesehatan manusia.

Kearifan berusia seribu tujuh ratus tahun ini menyadarkan kita bahwa teknologi pertanian terbaik sering kali bukan berupa formula kimia sintetis mutakhir di dalam tabung pabrik.

Baca Juga: Kenapa Melepas Kawanan Anak Bebek di Petak Padi Menggantikan Herbisida dan Insektisida? Sains Sawah Aigamo Jepang

Dengan menyelaraskan diri pada naluri purba seekor serangga pohon, alam sanggup menyediakan penjaga kebun yang paling setia dan tangguh tanpa meminta bayaran sepeser pun. (AK)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *