Petikhasil.id, INDRAMAYU — Bagi pemilik pekarangan di perkotaan, melihat seorang petani mengayunkan golok ke batang pohon mangga (Mangifera indica) yang sedang tumbuh sehat tentu tampak seperti tindakan merusak. Kulit kayu yang tebal dicacah miring hingga mengelupas dan mengeluarkan tetesan getah bening yang perlahan mengering kecokelatan.
Namun di sentra perkebunan mangga Gedong Gincu dan Harumanis di kawasan Indramayu hingga Cirebon, Jawa Barat, tindakan yang tampak kejam ini justru dilakukan terhadap pohon-pohon mangga yang “malas” berbuah. Beberapa minggu setelah batang pohon dilukai dan memasuki masa kering kemarau, pucuk-pucuk ranting yang tadinya hanya rajin memproduksi daun muda mendadak pecah oleh ribuan kuntum malai bunga.
Jebakan pohon yang terlalu dimanja pupuk nitrogen
Banyak pemilik pohon mangga di halaman rumah mengeluhkan masalah yang seragam: pohonnya tumbuh sangat rimbun, daunnya hijau pekat mengilap, batangnya besar, tetapi tidak pernah sekalipun mengeluarkan bunga. Dalam ilmu fisiologi tanaman, kondisi ini terjadi karena pohon terjebak dalam fase vegetatif berkepanjangan.
Selama akar pohon terus-menerus mendapatkan pasokan air berlimpah dan pupuk kaya nitrogen, pohon merasa berada di lingkungan yang terlalu nyaman. Akar memompa air dan mineral ke atas melalui pembuluh kayu (xilem), sementara daun memasak gula karbohidrat lewat fotosintesis dan mengirimkannya kembali ke akar melalui pembuluh tapis (floem) di bagian dalam kulit kayu.
Karena seluruh energi gula langsung habis dipakai oleh akar untuk memicu tunas daun baru, cadangan karbohidrat di tajuk pohon tidak pernah cukup pekat untuk mengaktifkan hormon pembungaan. Pohon hanya sibuk memperlebar payung daunnya dari tahun ke tahun.
Memutus jalur floem untuk menaikkan rasio karbon di pucuk ranting
Di sinilah letak kecerdasan teknik pelukaan batang atau yang dikenal dalam agronomi sebagai girdling dan notching. Ketika bilah golok menyayat kulit batang mangga hingga menyentuh lapisan kambium yang licin, petani sebenarnya sedang memasang bendungan sementara pada jalur pembuluh floem.
Pembuluh xilem yang berada lebih dalam di bagian kayu keras tetap utuh, sehingga air dari tanah tetap mengalir naik menjaga daun agar tidak mati layu. Sebaliknya, jalur turunnya gula fotosintesis menuju akar terhambat tepat di atas luka sayatan golok.
Gula, pati, dan hormon auksin akhirnya menumpuk di seluruh cabang dan ranting bagian atas. Lonjakan perbandingan karbon terhadap nitrogen (C/N ratio) di pucuk ranting ini dibaca oleh sel meristem pohon sebagai sinyal darurat biologis untuk segera bereproduksi.
Alih-alih melahirkan kuncup daun hijau baru, sel-sel di ujung ranting langsung beralih merakit malai bunga demi memastikan pohon menghasilkan keturunan berupa buah dan biji.
Batas tipis antara merangsang bunga dan mematikan pohon
Meski terbukti ampuh, para pekebun berpengalaman di pantura Jawa Barat tidak pernah menyayat kulit pohon secara sembarangan. Luka golok tidak boleh mengelilingi 100 persen lingkaran batang secara terputus total, melainkan dibuat berselang-seling atau menyisakan jembatan kulit kayu yang utuh.
Jika seluruh sabuk kulit kayu dikupas habis tanpa sisa, akar di bawah tanah akan kelaparan total karena tidak mendapat kiriman gula sama sekali. Pohon memang akan berbunga sangat lebat untuk terakhir kalinya, lalu mengering mati beberapa bulan kemudian.
Sayatan yang terukur cukup sedalam tebal kulit kayu hingga terasa kerasnya kayu bagian dalam, dilakukan menjelang akhir musim hujan saat daun tua sudah dorman. Ketika luka di batang itu mulai menutup kembali membentuk jaringan kalus baru, dahan-dahan di atasnya sudah mulai merunduk menahan beban buah mangga muda yang bergelantungan. (AK)







