Petikhasil.id, KOLAKA — Di perbukitan kebun kakao kawasan Wundulako, Kabupaten Kolaka, daun-daun pohon kakao kerap tampak menguning pucat dengan buah-buah muda yang layu sebelum membesar (cherelle wilt). Tanah kebun kakao di lereng-lereng perbukitan Sulawesi Tenggara ini telah kehilangan cadangan bahan organik akibat tergerus hujan muson bertahun-tahun. Petani mengeluhkan harga sekarung pupuk urea kimia yang terus membubung tinggi, sementara hasil panen biji kakao kering kian merosot.
Krisis kesuburan tanah di areal perkebunan tropis ini pernah dipecahkan secara berkelanjutan oleh para pakar agronomi di Institut Internasional Pertanian Tropis (IITA) di Ibadan, Nigeria, melalui sistem pertanaman lorong (alley cropping).
Alih-alih bergantung pada pasokan pupuk urea industri, mereka memanfaatkan pohon legum serbaguna yang sangat akrab di pedesaan tropis: pohon gamal atau kelor laut (Gliricidia sepium).
Petani menanam pohon gamal rapat membentuk pagar barisan lorong, lalu menanam tanaman pangan atau perkebunan di antara lorong-lorong hijau tersebut. Tanpa membeli pupuk kimia sintetis, sistem ini memproduksi tonase pupuk nitrogen segar secara mandiri sepanjang tahun.
Pabrik nitrogen cair di dalam bintil akar
Keistimewaan biologis pohon gamal berakar pada kemampuan perakarannya membentuk simbiosis mutualisme dengan bakteri tanah Rhizobium.
Bintil-bintil akar gamal aktif menyedot gas nitrogen bebas ($N_2$) dari udara di pori-pori tanah, lalu mengubahnya menjadi senyawa amonium dan asam amino organik yang kaya nutrisi.
Sistem perakaran gamal bertipe menghunjam sangat dalam ke lapisan tanah subsoil, sanggup mencapai kedalaman empat hingga lima meter.
Akar-akar dalam ini bertindak sebagai pompa hara biologis (nutrient pumping). Akar menyerap ion-ion kalsium, magnesium, dan kalium yang hanyut tercuci ke lapisan tanah dalam yang tidak bisa dijangkau oleh akar tanaman kakao atau jagung, lalu mengalirkannya naik ke atas untuk disimpan di dalam jaringan dedaunannya.
Ketika ranting dan daun gamal tumbuh rimbun, dedaunan tersebut adalah gudang penyimpanan unsur nitrogen murni dengan kadar protein kasar mencapai dua puluh dua hingga dua puluh lima persen bobot kering.
Siklus pangkas biomassa sebagai selimut mulsa hara
Dalam sistem alley cropping, pohon gamal tidak dibiarkan tumbuh liar menjulang tinggi menaungi tanaman pokok. Petani melakukan pemangkasan berkala (coppicing) setiap dua hingga tiga bulan sekali saat pohon mencapai ketinggian satu hingga satu setengah meter.
Seluruh dahan muda dan dedaunan hijau hasil pangkasan dipotong-potong lalu dihamparkan langsung di atas permukaan tanah di sepanjang lorong tanaman kakao, kopi, atau jagung.
Helaian daun gamal memiliki rasio karbon terhadap nitrogen (rasio C/N) yang sangat rendah, berkisar antara dua belas hingga lima belas banding satu.
Rasio hara yang rendah ini membuat daun gamal sangat cepat terdekomposisi oleh cacing tanah dan bakteri saprofitik. Hanya dalam kurun waktu dua hingga tiga pekan, daun-daun hijau yang dihamparkan telah hancur lumat menjadi humus hitam yang melepaskan nitrogen nitrat siap serap ke zona perakaran tanaman kakao.
Satu hektare kebun dengan sistem pagar lorong gamal sanggup menyumbangkan setara dengan dua ratus hingga tiga ratus kilogram pupuk urea murni per tahun tanpa biaya tunai sepeser pun.
Penahan erosi dan pelindung angin kencang
Selain memproduksi pupuk hijau gratis, barisan pagar hidup gamal yang ditanam melintang memotong lereng kontur bertindak sebagai benteng hidup penahan erosi tanah (living barrier).
Batang-batang gamal yang kokoh dan perakarannya yang mengikat partikel tanah liat mencegah hanyutnya lapisan tanah atas saat badai hujan lebat menerjang lereng kebun.
Dedaunan gamal yang gugur di permukaan tanah juga menjaga kelembapan mikro tanah dari sengatan terik matahari, menekan pertumbuhan gulma rumput liar, serta menurunkan suhu zona perakaran pohon kakao.
Bagi para petani kebun di pelosok Nusantara, pohon gamal sering kali hanya dianggap sebagai pohon pagar pembatas batas tanah atau peneduh jalan semata.
Sistem alley cropping membuktikan bahwa dengan ketelatenan memangkas dahan hijaunya, sebaris pohon gamal di kebun sanggup menjadi pabrik pupuk abadi yang setia menyuburkan bumi pertiwi tanpa pernah menuntut anggaran belanja kebun. (AK)








1 komentar