Sering Berakhir di Tempat Sampah, Kulit Bawang Merah Ternyata Menyimpan Hormon Penumbuh Akar

Senyawa Kuersetin dan Hormon Auksin di Lapisan Kulit Kering Memacu Pembelahan Sel Akar

Petikhasil.id, BREBES — Setiap pagi di dapur rumah tangga hingga gudang-gudang sortir bawang di Brebes, Jawa Tengah, lembaran kulit kering bawang merah (Allium cepa) yang terkelupas selalu disapu langsung ke dalam keranjang sampah. Lapisan tipis bertekstur mirip kertas dengan warna ungu tembaga itu dianggap tidak lebih dari limbah kupasan bumbu dapur.

Namun di tangan para penangkar bibit tanaman buah dan penghobi tanaman hias pekarangan, serpihan kulit kering tersebut justru dikumpulkan layaknya bubuk berharga. Cukup direndam di dalam air bersih selama satu malam, cairan berwarna teh kemerahan yang keluar dari kulit bawang merah mampu memicu tumbuhnya serabut akar baru pada batang stek yang sulit berakar.

Perisai terluar umbi yang memadatkan senyawa pelindung

Mengapa justru bagian kulit yang sudah mengering menyimpan zat aktif paling pekat dibandingkan daging umbinya? Secara anatomi botani, umbi bawang merah sebenarnya adalah tumpukan pangkal daun yang membengkak di dalam tanah.

Baca Juga: Kenapa Gosong Pasir Tandus di Tengah Sungai Bisa Menjadi Lumbung Labu Manis? Siasat Sandbar Cropping Asia Selatan

Ketika umbi membesar di lahan lempung, dua lapisan terluarnya sengaja mengeringkan diri untuk membentuk mantel pelindung. Karena posisi kulit ini bersentuhan langsung dengan jamur, bakteri, dan serangga tanah, tanaman memusatkan senyawa pertahanan kimianya di lapisan tipis tersebut.

Di dalam jaringan sel kulit bawang merah yang tampak mati itu, terkunci flavonoid kuersetin berkonsentrasi tinggi, senyawa organosulfur alisin, mineral kalium, zat besi, serta jejak fitohormon alami dari kelompok auksin dan giberelin.

Kerja ganda merangsang kalus sekaligus mencegah busuk batang

Saat ranting tanaman seperti jambu air, mawar, tin, atau melati dipotong untuk distek, bagian pangkal batang yang terluka menghadapi dua tantangan besar. Batang harus segera membelah sel kambiumnya untuk membentuk akar baru sebelum cadangan air di dalamnya habis, sekaligus menahan serangan bakteri pembusuk yang mengincar luka potongan.

Air rendaman kulit bawang merah menjawab kedua masalah itu secara bersamaan. Hormon auksin yang larut ke dalam air meresap melalui pori-pori pembuluh batang bawah, memberi aba-aba pada sel meristem untuk membentuk jaringan kalus putih yang segera memecah menjadi calon akar (primordia akar).

Pada saat yang sama, senyawa alisin dan kuersetin bekerja sebagai antiseptik nabati yang menyelimuti permukaan potongan batang. Jaringan stek tetap segar dan terbebas dari lendir pembusukan meski direndam berjam-jam sebelum ditancapkan ke media tanam.

Takaran rendaman satu malam tanpa perlu dimasak

Cara mengekstrak nutrisi dari kulit bawang merah tidak membutuhkan perebusan di atas kompor, karena suhu mendidih justru akan merusak struktur hormon auksin dan senyawa organosulfur yang peka terhadap panas. Cukup masukkan satu genggam penuh kulit bawang merah kering ke dalam botol berisi satu liter air suhu ruang.

Tutup wadah dan biarkan terendam di tempat teduh selama 12 hingga 24 jam hingga air berubah warna menjadi cokelat keemasan yang jernih. Saring ampas kulitnya, lalu gunakan air tersebut untuk merendam pangkal batang stek selama tiga jam atau siramkan langsung ke persemaian benih cabai dan tomat.

Baca Juga: Kenapa Pagar Plastik Bening dan Bubu Kawat Melumpuhkan Koloni Tikus Sawah? Sains Trap Barrier System Asia Tenggara

Satu hal yang patut diperhatikan: jangan menyimpan air rendaman ini lebih dari dua hari di wadah tertutup. Menggunakan larutan yang masih segar di hari pertama memastikan akar tanaman mendapatkan pasokan hormon murni sebelum bakteri pembusuk mengubahnya menjadi cairan asam yang berbau menyengat. (AK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *