Kenapa Pagar Plastik Bening dan Bubu Kawat Melumpuhkan Koloni Tikus Sawah? Sains Trap Barrier System Asia Tenggara

Menjebak Koloni Pengerat di Petak Awal Sebelum Panen Rusak

Petikhasil.id, DEMAK — Di hamparan sawah irigasi kawasan Karanganyar, Kabupaten Demak, bayang-bayang kegagalan panen kerap menyelimuti petani saat tanaman padi memasuki fase bunting dan keluar malai. Di malam hari, ribuan ekor tikus sawah (Rattus argentiventer) menyerbu dari tanggul sungai dan pematang liar, memotong batang-batang padi produktif dalam pola lingkaran botak di tengah sawah. Petani kerap memasang kawat setrum beraliran listrik tegangan tinggi dari genset yang sangat berbahaya dan telah merenggut nyawa banyak petani di pedesaan.

Penggunaan kawat setrum maut dan racun rodentisida kimiawi yang merusak ekosistem ini telah digantikan secara aman dan terbukti efektif di Vietnam dan Filipina melalui sistem penghalang perangkap atau Trap Barrier System (TBS).

Dikembangkan bersama oleh para pakar proteksi tanaman di Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI), metode ini memadukan kebiasaan alami migrasi tikus dengan sepetak sawah umpan berpagar plastik dan bubu kawat satu arah.

Baca Juga: Botol dan Alkohol Bisa Menjebak Hama Kopi? Begini Cara Kerja Perangkap Broca

Petak umpan penarik kawanan tikus yang lapar

Kunci pertama dari sistem TBS adalah manipulasi kalender tanam (chronological baiting). Di tengah hamparan persawahan desa, petani memilih satu petak kecil berukuran dua puluh kali dua puluh meter untuk ditanami bibit padi tiga hingga empat pekan lebih awal dibanding sawah-sawah di sekitarnya.

Petak sawah awal ini bertindak sebagai umpan raksasa (trap crop). Ketika hamparan sawah lain masih berupa tanah lumpur olahan yang belum bertunas, petak umpan tersebut sudah rimbun menghijau dan mulai membentuk malai bunting yang beraroma harum manis karbohidrat.

Bagi kawanan tikus sawah yang baru bangun dari masa kelaparan pascapanen, aroma tanaman padi bunting awal ini adalah magnet pikat yang memancarkan sinyal makanan paling menggiurkan di seluruh penjuru desa.

Tikus-tikus dari berbagai penjuru mulai bergerak berbondong-bondong menuju satu petak sawah yang sama.

Pagar licin penuntun jalan menuju corong bubu

Namun tepat di sekeliling batas petak umpan tersebut, petani memasang benteng pagar plastik polietilena transparan setinggi enam puluh sentimeter yang ditopang oleh tiang-tiang bambu kecil. Ujung bawah lembaran plastik dibenamkan sedalam sepuluh sentimeter ke dalam lumpur sawah agar tikus tidak bisa menggali lubang terobosan di bawahnya.

Permukaan plastik yang licin dan tegak lurus mustahil dipanjat oleh cakar tikus sawah. Di luar pagar plastik, digali parit dangkal berair selebar setengah meter yang bersih dari rumput liar agar tikus merasa tidak terlindung dari pandangan pemangsa.

Ketika kawanan tikus tiba di depan pagar plastik, hewan pengerat ini tidak bisa masuk ke dalam petak padi yang wangi. Naluri alamiah tikus (thigmotaxis) mendorongnya untuk merayap menyusuri tepi dinding pagar plastik mencari celah pintu masuk.

Di setiap sisi bentangan pagar plastik, petani memasang bubu kawat perangkap satu arah (multiple-capture wire trap) yang pintunya dilengkapi katup dorong fleksibel.

Menjebak ratusan tikus hidup tanpa racun kimia

Tikus yang sedang merayap menyusuri pagar plastik melihat celah lubang bubu sebagai satu-satunya jalan tembus ke dalam petak tanaman padi. Tikus mendorong katup kawat penutup dan masuk ke dalam kurungan bubu kawat.

Begitu tikus masuk, katup kawat tertutup kembali oleh gravitasi, mengunci tikus di dalam dan mustahil mendorongnya dari arah dalam.

Keluarga tikus berikutnya yang menyusuri pagar plastik akan mengikuti bau feromon jejak kencing tikus pertama dan ikut masuk ke dalam kurungan yang sama.

Dalam satu malam operasi, satu unit bubu kawat sanggup menjebak dua puluh hingga lima puluh ekor tikus hidup.

Selama satu musim tanam, satu petak unit TBS sanggup melenyapkan ribuan ekor tikus sawah dewasa dari areal hamparan seluas sepuluh hingga lima belas hektare di sekelilingnya tanpa setetes pun racun rodentisida atau sengatan kabel listrik liar.

Tikus-tikus yang tertangkap hidup dapat dimusnahkan secara manusiawi atau dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele dan pupuk organik kaya nitrogen.

Baca Juga: Kenapa Menutup Rapat Timbunan Dedak Menghasilkan Pupuk Lebih Wangi dari Kompos Biasa? Logika Fermentasi Bokashi Jepang

Bagi lumbung-lumbung padi Nusantara yang rawan serangan hama pengerat, sistem TBS membuktikan bahwa kecerdikan membaca perilaku alami hama selalu lebih unggul dibanding jalan pintas berbahaya. Pagar plastik bening dan bubu kawat di sudut sawah terbukti menyelamatkan bulir padi sekaligus menjaga keselamatan nyawa petani di tanah air. (AK)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar