Petikhasil.id, SUKABUMI — Di kaki Gunung Halimun, Desa Adat Ciptagelar berdiri tenang dengan rumah-rumah panggung kayu yang berbaris rapi. Dari kejauhan, kabut tipis menyelimuti atap ijuk dan sawah berundak yang hijau. Bagi banyak orang, Ciptagelar bukan sekadar desa wisata, tapi ruang hidup di mana tradisi dan alam saling menjaga.
Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Ciptagelar memegang teguh falsafah ngahuma henteu meunang ngarusak leuweung bertani tanpa merusak hutan. Falsafah itu menuntun mereka menanam padi secara alami tanpa pupuk kimia atau alat modern, sekaligus menjaga ekosistem hutan Halimun agar tetap lestari.
“Padi bagi kami bukan hanya makanan, tapi bagian dari kehidupan. Kami memperlakukannya seperti keluarga,” ujar salah satu tetua adat dalam wawancara dengan media lokal beberapa waktu lalu.
Wisata Budaya yang Hidup, Bukan Sekadar Pertunjukan
Ciptagelar menawarkan pengalaman wisata budaya yang autentik. Wisatawan bisa menyaksikan langsung kegiatan warga mulai dari menumbuk padi di lumbung tradisional, membuat anyaman bambu, hingga menonton upacara Seren Taun, ritual tahunan sebagai bentuk syukur atas panen raya.
Berbeda dengan banyak desa wisata lain yang dikemas secara modern, Ciptagelar memilih mempertahankan kesederhanaan. Tidak ada tiket masuk mahal, tidak ada panggung besar, hanya masyarakat yang menjalani hidup seperti biasa. Hal inilah yang membuat banyak wisatawan merasa seolah kembali ke masa lalu yang damai.
Ekowisata yang Menjaga Alam
Desa ini menjadi contoh ekowisata berkelanjutan di Jawa Barat. Hutan di sekitar Ciptagelar masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan warga memiliki peraturan adat yang ketat tentang pelestarian alam. Mereka tidak menebang pohon sembarangan dan tidak membangun rumah dengan bahan dari hutan konservasi.
Peneliti dari Universitas Padjadjaran mencatat bahwa pola pengelolaan lahan di Ciptagelar membantu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mencegah erosi di daerah pegunungan. Dalam studi yang diterbitkan Jurnal Humaniora dan Lingkungan (2023), disebutkan bahwa konsep “leuweung larangan” (hutan terlarang) di Ciptagelar berperan besar dalam menjaga keseimbangan ekologis kawasan Halimun.
Selain itu, penggunaan listrik di desa ini juga unik. Warga membangun pembangkit listrik mikrohidro secara mandiri dari aliran sungai sekitar. Energi tersebut digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan siaran televisi komunitas lokal yang dikenal dengan nama TV Ciptagelar.
Daya Tarik yang Mendunia
Ciptagelar kini banyak dikunjungi wisatawan dari Eropa, Jepang, hingga Australia. Mereka tertarik melihat kehidupan masyarakat yang tetap bertani dan hidup selaras dengan alam tanpa meninggalkan kebahagiaan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah universitas di luar negeri bahkan menjadikan Ciptagelar sebagai contoh living culture dalam studi antropologi modern.
Meski banyak wisatawan datang, masyarakat tetap menolak pembangunan hotel besar atau restoran modern. Warga hanya menyediakan homestay sederhana bagi tamu yang ingin bermalam, agar nilai adat dan kesucian desa tetap terjaga.
Bagi banyak pengunjung, Ciptagelar bukan hanya tempat wisata, tapi ruang untuk belajar tentang keseimbangan antara tradisi dan perubahan, antara manusia dan alam.






