70 Persen Keberhasilan Ternak Ayam Ditentukan Sekam, Ini Penjelasan Ken Farm Cirebon

Petikhasil.id, Cirebon – Siapa sangka, kunci sukses dalam beternak ayam broiler bukan hanya pada pakan atau teknologi kandang. Menurut Satrio Wicaksono, pemilik Ken Farm Cirebon, faktor terpenting justru ada pada sekam yang menjadi alas kandang ayam.

“Sekam itu kalau menurut saya 70 persen ayam berhasil dari keberhasilan sekam,” ungkap Satrio saat ditemui di kandangnya.

Sekam berfungsi menjaga suhu dan kelembaban lantai kandang, serta mencegah bakteri dan penyakit mudah berkembang. Kondisi yang nyaman dan kering membantu ayam tumbuh sehat serta cepat mencapai bobot ideal.

Baca lainnya: Bisnis Olahan Durian, Dari Kue Kering Sampai Es Lumer, Ini Ide Usaha yang Laku Sepanjang Tahun

Sekam Basah Jadi Sumber Penyakit

Satrio menjelaskan, salah satu penyakit yang kerap muncul akibat sekam basah adalah CRD (Chronic Respiratory Disease) atau penyakit pernapasan yang ditandai ayam batuk-batuk.

“CRD itu gampang masuk. Kita telat nabur sekam, sekam basah… ayam akan batuk pasti,” jelasnya.

Selain CRD, kelembaban tinggi juga bisa memicu penyakit pencernaan seperti kolibasilosis yang bisa menurunkan kualitas daging dan menghambat penjualan ayam.

Musim Hujan, Tantangan untuk Peternak

Menurut Satrio, performa ternak ayam biasanya lebih baik di musim panas. Namun saat musim hujan, sekam akan lebih cepat lembab sehingga pertumbuhan ayam pun terganggu.

“Kelembaban itu nomor satu. Karena sekam otomatis di bawah akan lembab. Jadi pertumbuhan bobot pun tidak akan nyaman,” katanya.

Karena itu, Ken Farm meningkatkan pemantauan lantai kandang pada musim hujan serta mengganti sekam lebih sering agar kondisi tetap kering.

Baca lainnya: Mitos dan Fakta Ikan Mas: Antara Keberuntungan, Larangan, dan Kenyataan Ilmiah

Biosekuriti Ketat Cegah Penyakit

Selain menjaga sekam, Ken Farm menerapkan biosekuriti ketat agar penyakit tidak mudah menyebar ke kandang.

“Setiap orang keluar masuk kandang harus disemprot. Termasuk kami semprot lingkungan agar lalat dan serangga pembawa bibit penyakit tidak berkembang,” tutur Satrio.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *