Petikhasil.id, CIREBON – Panen menjadi tahap paling krusial dalam peternakan ayam broiler. Sebab, pada fase ini, sedikit saja kesalahan dapat menghapus keuntungan satu siklus penuh. Hal ini diungkapkan Satrio Wicaksono, pemilik Ken Farm Cirebon, yang telah bertahun-tahun mengelola peternakan ayam dengan kapasitas ratusan ribu ekor tiap siklusnya.
Menurut Satrio, panen bukan sekadar mengambil ayam yang sudah berumur cukup. Dibutuhkan strategi khusus dan pengelolaan populasi yang tepat agar ayam tumbuh merata dan tidak menimbulkan kerugian akibat kepadatan.
“Dulu peternak itu merasa harus panen ayam besar untuk dapat hasil maksimal. Tapi itu sudah tidak bisa lagi,” ungkap Satrio. “Kalau ayam terlalu padat, itu justru jadi sumber penyakit dan membuat pertumbuhan tidak optimal.”
Tidak Boleh Terlambat
Ayam broiler umumnya memiliki masa panen ideal di umur 35–38 hari, dan maksimal usia produktifnya berada di 40–45 hari. Setelah itu, pakan yang diberikan tidak lagi menghasilkan pertumbuhan bobot yang signifikan. Akibatnya biaya membengkak, sementara nilai jual stagnan atau bahkan turun.
Satrio pernah mengalami kondisi tersebut ketika harga ayam jatuh drastis di pasaran dan ayam-ayamnya tidak terserap pasar.
“Pernah ayam sampai umur 67 hari baru habis dijual. Padahal lewat dari 45 hari, pakan tidak terlalu dibutuhkan ayam tapi tetap harus diberikan. Dan itu merugikan besar,” jelasnya.
Dalam kasus tersebut, ayam yang terlalu tua memiliki tekstur daging kurang ideal, konsumsi pakan tinggi, dan risiko penyakit pun meningkat karena kepadatan tidak berkurang.
Baca lainnya: Peternak Pemula Wajib Tahu: 3 Kesalahan Umum dalam Beternak Ayam Broiler Menurut Ken Farm Cirebon
Strategi Panen Bertahap, Kunci Pertumbuhan Merata
Ken Farm menerapkan strategi gradasi panen—panen dilakukan secara bertahap untuk mengurangi kepadatan kandang. Satrio menjelaskan bahwa langkah ini membantu ayam yang tersisa tumbuh lebih cepat dan merata.
Idealnya, panen dilakukan dalam dua tahap:
- Panen ringan 60% populasi awal, untuk mengurangi kepadatan.
- Panen akhir 40% sisanya, yang biasanya telah mencapai bobot ideal.
“Kalau sudah waktunya dibuka, ya mulai kita panen perlahan-lahan. Jangan ditahan-tahan,” katanya.
Panen dini ini juga membantu pemisahan ayam yang tumbuh lebih lambat sejak awal. Dengan begitu, ayam kecil dapat dikelola terpisah dan tidak kalah bersaing berebut pakan dengan ayam yang lebih besar.
Kepadatan Kandang: Masalah yang Tidak Bisa Disepelekan
Satrio menjelaskan bahwa bobot ayam akan terhambat jika kandang terlalu padat. Ayam yang besar akan mendominasi pakan dan minum, sementara ayam kecil akan semakin tertinggal.
“Badannya semakin besar, mereka akan merebut makanan temannya,” ujarnya.
Untuk menghindari kondisi ini, Ken Farm memiliki standar kepadatan maksimal 14 ekor ayam per meter persegi. Jika melebihi batas tersebut, risiko penyakit seperti CRD dan kolibasilosis meningkat tajam.
Jika ayam terlihat:
- menumpuk di satu titik,
- kesulitan bergerak,
- cepat kelelahan, atau
- tidak mau makan,
maka itu tanda jelas bahwa panen harus segera dilakukan.
Dampak Keterlambatan Panen: Bisa Hancur dalam Sekejap
Menurut Satrio, keterlambatan panen adalah salah satu penyebab gagal panen terbesar. Panen yang tertunda membuat ayam semakin padat, memicu stres, dan meningkatkan risiko penyakit.
Jika satu penyakit menyebar, seluruh kandang bisa terdampak hanya dalam hitungan hari.
“Di fase padat itu penyakit paling gampang masuk. Sekali kena, hancur semua hasil yang sudah bagus,” katanya.
Panen telat juga membuat ayam keluar dari standar berat pasar. Untuk ayam broiler pedaging, standar bobot ideal rata-rata berada di kisaran 1,8–2 kg.
Jika bobot berlebih, pembeli seperti rumah potong sering menolak atau memberikan harga lebih rendah.
Menghadapi Fluktuasi Harga Pasar
Salah satu tantangan terbesar dalam strategi panen adalah harga pasar yang berubah-ubah. Satrio menilai setiap peternak harus memiliki fleksibilitas dalam menentukan waktu panen agar tidak terjebak pada harga rendah.
Saat harga ayam sedang turun, strategi panen bertahap menjadi sangat penting agar aliran dana tetap masuk sambil menunggu kenaikan harga.
“Peternak itu tidak boleh egois mengejar ayam besar. Kalau nilai kontraknya sekian, ya kita ikuti. Jangan dipaksakan,” ujarnya.
Baca lainnya: Teknologi Closed House Bantu Tingkatkan Produksi Ayam, Ini Rahasia Ken Farm Cirebon
Manajemen Tenaga Kerja Saat Panen
Dengan kapasitas produksi mencapai 650 ton dalam satu siklus, Ken Farm membutuhkan tenaga panen yang besar. Panen dilakukan oleh tim khusus berjumlah 20–30 orang dalam satu kegiatan panen raya.
Sedangkan tenaga tetap Ken Farm berjumlah 33 orang, termasuk mandor, teknisi, dan bagian keamanan.
“Panen itu pekerjaan cepat. Harus rapi dan teratur supaya ayam tidak stres,” jelasnya.






