Petikhasil.id, PANGALENGAN – Di lereng Pangalengan yang berhawa sejuk, deretan pohon alpukat Hass tumbuh di lahan seluas lima hektare. Pohon-pohon itu belum genap berumur tiga tahun ketika mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan. Di baliknya, ada cerita alih komoditas, keberanian mengambil risiko, dan harapan regenerasi petani muda.
Yuda dari Perkebunan Asta Alam menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa kebun ini dulunya bukan alpukat. Lahan tersebut sebelumnya ditanami Lemon California yang sudah berumur tujuh hingga delapan tahun. Produksinya mulai menurun dan kualitasnya tidak lagi optimal.
“Kami mencari alternatif. Setelah cari informasi, alpukat Hass disebut sebagai varietas premium dan populer di dunia. Dari situ kami mantap menanam Hass,” ujar Yuda.
Baca Lainya: Alpukat Premium dari Lembang: Perjalanan Nabila Farm Jadi Pusat Bibit Alpukat Indonesia | Potensi Besar Alpukat di Indonesia dan Tantangan Petani Lokal
Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi alpukat nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan. Jawa Barat menjadi salah satu sentra produksi utama hortikultura, termasuk alpukat, karena kondisi agroklimat yang mendukung. Pangalengan sendiri dikenal sebagai wilayah dataran tinggi dengan tanah subur dan suhu ideal bagi komoditas buah.
Mengapa Memilih Alpukat Hass
Yuda menjelaskan kepada Petik Hasil bahwa keunggulan alpukat Hass terletak pada tekstur dan kandungan gizinya. Saat matang, kulitnya berubah dari hijau menjadi hitam pekat dan teksturnya empuk saat ditekan.
“Kalau dibelah itu creamy dan lebih dominan gurih. Kandungan lemak tak jenuh tunggalnya tinggi, makanya banyak dipakai untuk minyak alpukat di luar negeri,” ujarnya.
Kulitnya yang tebal dan bergelombang juga menjadi nilai tambah. Ketahanan fisik buah membuatnya relatif aman untuk distribusi jarak jauh. Berbeda dengan alpukat kulit tipis yang lebih cepat matang dan berisiko rusak selama perjalanan.
Harga jualnya pun lebih tinggi dibanding varietas lain. Untuk pasar ekspor, Yuda menyebut kisaran harga bisa mencapai Rp70.000 hingga Rp100.000 per kilogram, tergantung kualitas dan permintaan.
Tiga Tahun Menunggu dan Sembilan Bulan dari Bunga ke Panen
Menanam alpukat Hass bukan proses instan. Dari bibit setinggi sekitar satu meter hingga berbuah membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Setelah berbunga, buah memerlukan waktu sembilan bulan hingga siap panen.
Abdi Pasumarna, pemilik kebun, menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa masa tunggu inilah yang menjadi ujian kesabaran.
“Kekhawatiran itu selalu ada. Dari bibit sampai berbunga, lalu berbuah. Biaya sudah keluar banyak, takut hasilnya tidak maksimal,” katanya.
Perawatan dilakukan secara rutin. Pemupukan kandang diberikan dua kali setahun, ditambah pupuk kimia dengan perhitungan unsur NPK yang disesuaikan fase pertumbuhan. Saat berbuah, kadar kalium ditingkatkan untuk mendukung kualitas buah.
Hama utama yang diwaspadai adalah penggerek batang. Jika tidak ditangani, pohon bisa layu dan mati. Penyemprotan dilakukan secara berkala namun tetap bijak agar tidak merusak kualitas buah.
Dari Tengkulak ke Konsumen Langsung
Berbeda dengan pengalaman saat menanam lemon, kini distribusi alpukat dilakukan langsung ke konsumen. Yuda mengaku belajar dari pengalaman harga yang jatuh ketika bergantung pada tengkulak.
“Kami inisiatif jual langsung. Edukasi konsumen juga penting karena banyak yang belum tahu alpukat Hass itu seperti apa,” katanya kepada Petik Hasil.
Buah dipetik dalam kondisi matang fisiologis namun masih keras. Proses pematangan memerlukan waktu sekitar 10 hingga 14 hari setelah panen. Tantangan terbesar justru pada edukasi pasar yang terbiasa membeli alpukat dalam kondisi sudah matang.
Distribusi sudah menjangkau berbagai kota, bahkan hingga Medan. Buah dipetik hari ini dan dikirim keesokan harinya untuk menjaga kualitas.
Tantangan Alam dan Pencurian
Kebun yang berada di lahan miring menghadapi tantangan cuaca dan risiko longsor. Pohon alpukat dengan akar yang kuat membantu menjaga struktur tanah. Namun faktor cuaca tetap menjadi variabel yang tidak bisa dikendalikan.
“Kalau musim hujan terus saat pembesaran buah, hasilnya bisa kurang maksimal,” ujar Yuda.
Selain cuaca, pencurian hasil panen juga menjadi kekhawatiran. Mereka bahkan melakukan ronda sore untuk memastikan keamanan kebun.
Harapan untuk Generasi Muda
Yuda bukan berlatar belakang pertanian. Ia bekerja lebih dari 10 tahun di bidang teknologi informasi sebelum akhirnya membantu orang tuanya mengembangkan kebun.
“Saya ingin anak muda jangan gengsi jadi petani. Potensinya besar. Pertanian itu masa depan,” katanya kepada Petik Hasil.
Baca Lainya: Alpukat Premium dari Lembang: Perjalanan Nabila Farm Jadi Pusat Bibit Alpukat Indonesia | Potensi Besar Alpukat di Indonesia dan Tantangan Petani Lokal
Menurut data Kementerian Pertanian, regenerasi petani menjadi isu penting karena mayoritas petani Indonesia berusia di atas 45 tahun. Inisiatif anak muda masuk ke sektor hortikultura bernilai tinggi seperti alpukat Hass menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertanian nasional.
Di Pangalengan, alpukat Hass bukan sekadar komoditas. Ia menjadi simbol perubahan, keberanian beralih varietas, dan harapan bahwa bertani bisa tetap relevan di era modern. (Vry)






