Petikhasil.id, KABUPATEN BANDUNG — Banyak kebun lahir dari rencana besar. Namun ada juga yang tumbuh dari rasa penasaran yang sederhana. Di Ciharalang, kisah itu datang dari Dadi Faizal. Dari satu pohon anggur yang semula hanya ia coba tanam karena penasaran, kini lahir kebun dengan puluhan tanaman produktif yang menarik perhatian banyak orang.
Sebelum anggur datang, lahan yang dimiliki Dadi lebih dulu diisi tanaman yang biasa ditemui di kampung, seperti singkong dan pisang. Tanaman itu tetap berguna, tetapi dari sisi ekonomi tidak memberi banyak harapan. Di titik itulah Dadi mulai melihat bahwa lahannya bisa diarahkan ke sesuatu yang lain, sesuatu yang mungkin belum lazim, tetapi punya nilai lebih tinggi.
Baca Lainya: Tanaman Anggur, Hiasan Estetik yang Bisa Ditanam di Rumah atau Kafe dan Tetap Berbuah Manis | Dari Pekarangan ke Produksi, Cara Menanam dan Merawat Ciplukan
Semua bermula dari satu pohon
Kepada Petik Hasil, Dadi bercerita bahwa ketertarikannya pada anggur muncul saat ia melihat satu pohon anggur tumbuh di sekitar lingkungannya. Tanaman itu langsung mencuri perhatian. Bagi Dadi, anggur punya kesan yang berbeda dibanding tanaman buah lain.
“Anggur itu punya kesan premium. Beda dengan pohon buah lain, ada daya tarik tersendiri,” ujarnya.
Dari rasa ingin tahu itu, ia mulai mencoba menanam satu pohon. Hasilnya di luar dugaan. Anggur ternyata bisa tumbuh dan beradaptasi dengan baik di lingkungan setempat. Dari situ, keyakinannya mulai tumbuh. Ia lalu menambah jumlah tanaman menjadi 20 pohon. Kini, kebunnya berkembang menjadi sekitar 60 pohon dengan berbagai varietas.
Perjalanan itu memperlihatkan satu hal penting. Kadang peluang besar di pertanian tidak selalu datang dari komoditas yang sejak awal dianggap besar. Ia bisa lahir dari keberanian mencoba sesuatu yang belum umum, lalu merawatnya dengan sabar sampai pasar datang sendiri.
Banyak varietas, banyak karakter
Di Kebun Anggur Ciharalang, Dadi menanam beragam jenis anggur. Di antaranya ada Gospi, Jupiter, hingga Taldun. Bagi orang luar, semua mungkin terlihat sama-sama anggur. Namun bagi petani, tiap varietas punya watak sendiri.
Menurut Dadi, varietas seperti Gospi cocok untuk pemula karena lebih mudah berbuah dan rasanya manis. Sementara Taldun punya karakter yang lebih unik. Rasanya renyah, bahkan mengingatkan pada apel, tetapi tidak semudah varietas lain dalam menghasilkan buah yang banyak.
Dari situ terlihat bahwa bertani anggur bukan sekadar menanam lalu menunggu panen. Ada proses mengenali karakter tanaman, memilih varietas yang cocok, dan menyesuaikan harapan dengan kondisi kebun. Inilah bagian dari pertanian yang sering luput dilihat orang. Di balik buah yang tampak cantik, selalu ada proses belajar yang panjang.
Perawatan tidak sesulit bayangan orang
Salah satu hal yang kerap membuat orang ragu menanam anggur adalah anggapan bahwa perawatannya rumit. Dadi justru melihat sebaliknya. Menurut dia, anggur termasuk tanaman yang cukup mudah dirawat selama petani paham ritmenya.
“Perawatan itu cukup seminggu sekali. Sehari-hari hanya perlu disiram,” katanya.
Pemupukan pun tidak harus dilakukan setiap hari. Menurut Dadi, cukup sekali dalam seminggu dengan dosis yang tepat. Bahkan, biaya perawatan hingga panen pun bisa kurang dari Rp1 juta. Bagi calon petani atau anak muda yang ingin mencoba, angka ini memberi gambaran bahwa memulai kebun anggur tidak selalu butuh modal yang terlalu besar.
Meski begitu, bukan berarti tanpa tantangan. Dadi menuturkan bahwa hama tetap menjadi ancaman utama. Salah satu yang paling merepotkan adalah penggerek batang. Jika terlambat ditangani, hama ini bisa membuat tanaman mati mendadak. Karena itu, ketelatenan tetap jadi kunci. Tanaman memang bisa tumbuh, tetapi petani tetap harus hadir untuk menjaganya.
Panen, peluang, dan kebun yang mulai ramai
Dengan perawatan yang tepat, satu pohon anggur bisa menghasilkan sedikitnya 10 kilogram buah. Dalam kondisi yang lebih baik, hasil panen bahkan bisa melampaui angka itu. Dari sisi usaha, jumlah ini tentu cukup menjanjikan, apalagi jika dikelola serius dan terus diperluas.
Namun bagi Dadi, kebun ini tidak semata-mata soal keuntungan. Ia juga ingin menjadikannya ruang yang lebih terbuka. Pengunjung boleh datang, melihat kebun, bahkan mencicipi anggur langsung dari pohonnya.
“Silakan petik dan coba dulu, tidak harus beli,” ujarnya.
Pendekatan ini justru membuat kebunnya terasa lebih hidup. Orang datang bukan hanya untuk membeli hasil panen, tetapi juga untuk merasakan pengalaman berada di kebun anggur. Banyak pengunjung mengenal tempat itu dari TikTok dan Instagram. Sebagian lain datang karena cerita dari mulut ke mulut. Tanpa promosi besar, kebun ini tetap ramai karena pengalaman yang dibawa pulang pengunjung menjadi promosi itu sendiri.
Di titik ini, kebun anggur Dadi mulai bergerak ke arah yang lebih luas. Ia bukan hanya kebun produksi, tetapi juga ruang edukasi kecil dan potensi agrowisata yang tumbuh dari bawah.
Peluang baru bagi petani muda
Yang juga menarik dari kisah ini adalah pesan yang terus dibawa Dadi. Ia ingin lebih banyak orang, terutama anak muda, berani melihat pertanian sebagai jalan hidup yang layak. Menurut dia, anggur bisa menjadi peluang baru yang menjanjikan.
Tanaman ini tidak harus menunggu lahan besar. Anggur juga bisa dibudidayakan di rumah dengan polybag. Artinya, orang bisa mulai dari skala kecil, dari halaman sendiri, lalu belajar sedikit demi sedikit.
“Jangan malu jadi petani. Justru ini peluang besar ke depan,” ujarnya.
Kalimat itu terasa penting di tengah situasi ketika banyak anak muda justru semakin jauh dari dunia tani. Padahal, kisah seperti Dadi menunjukkan bahwa pertanian tidak selalu identik dengan kerja yang buntu. Dengan kreativitas, keberanian mencoba komoditas baru, dan kemampuan membaca pasar, lahan kecil pun bisa tumbuh menjadi sumber harapan.
Baca Lainya: Tanaman Anggur, Hiasan Estetik yang Bisa Ditanam di Rumah atau Kafe dan Tetap Berbuah Manis | Dari Pekarangan ke Produksi, Cara Menanam dan Merawat Ciplukan
Ke depan, Dadi berharap Ciharalang bisa dikenal sebagai sentra, bahkan destinasi wisata anggur lokal. Ia membayangkan bukan hanya satu kebun yang tumbuh, tetapi banyak kebun yang saling mendukung. Jika itu terjadi, manfaat ekonominya tentu tidak berhenti di pemilik kebun. Warga sekitar juga bisa ikut merasakan dampaknya, mulai dari parkir, penjualan makanan, sampai jasa-jasa lain yang tumbuh di sekitarnya.
Pada akhirnya, kisah Dadi Faizal memperlihatkan bahwa pertanian sering kali berubah bukan karena sesuatu yang besar datang lebih dulu, melainkan karena seseorang berani memulai dari hal kecil. Dari satu pohon anggur, lahir puluhan tanaman produktif, ruang belajar, peluang usaha, dan harapan baru bagi kampungnya. Di sana, kebun tidak lagi hanya tempat menanam buah. Ia juga menjadi bukti bahwa masa depan pertanian bisa tumbuh dari rasa penasaran yang dirawat dengan tekun. (Yga)






