Peluang Cuan Passive Income dari Tren Co-Living

Petikhasil.id, JAKARTA – Permintaan hunian komunal alias co-living di Tanah Air semakin menjanjikan, membuka peluang tersendiri bagi para pemilik properti yang berminat mengejar pendapatan pasif lewat aset indekos elite.

Cove Indonesia sebagai salah satu manajemen properti co-living ternama, mengungkap minat konsumen itu membawa pihaknya kini telah mengoperasikan sekitar 200 properti dengan kisaran 6.000 kamar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Bali.

Country Director of Investment Cove, Rizky Kusumo menambahkan tahun ini pihaknya pun terus berekspansi dan melakukan upgrade beberapa aset dalam portofolio, hingga targetnya mencapai 8.000 kamar pada akhir 2026. 

“Tren ini juga alasan kami berani berekspansi ke wilayah potensial di Malang, Yogyakarta, Semarang, dan beberapa daerah di Pulau Lombok,” ungkap Rizky dalam diskusi bersama media, dikutip Kamis (12/3/2026).

Rizky mengungkap tren co-living turut membuka mata para pemilik tanah di kota besar Indonesia untuk coba bekerja sama dengan Cove untuk membangun dari nol.

Sekadar info, Cove sebelumnya lebih banyak melakukan renovasi aset indekos atau apartemen yang sudah jadi, atau melakukan konversi dari aset properti non-hospitality.

“Tren partner yang kerja sama dari aset berupa tanah kosong dari nol mulai marak, bahkan mayoritas membanding-bandingkan dengan membuka lapangan padel. Saat ini kami sudah ada dua contoh yang dibangun dari awal, yakni di Cipete dan Cikini,” jelasnya. 

Lantas, bagaimana peluang cuan membangun hunian dengan konsep co-living ke depan?

Rizky mengungkap bahwa co-living semakin diminati pelajar, pekerja baru, maupun profesional muda di Indonesia. Porsi penyewa Cove sekitar 80% bekerja, sisanya mahasiswa.

Demi mendapatkan keutamaan konsep co-living, mereka biasanya tipe yang mengincar adanya privasi dan kenyamanan, namun tetap memiliki ruang publik dan tempat bersosialisasi yang elegan.

Sebagai info, konsep co-living cenderung mengutamakan hunian dengan perabotan lengkap (fully furnished), WiFi, layanan pembersihan, dan fasilitas bersama seperti dapur, ruang tamu, dan coworking space dalam satu atap.

“Pada daerah prime area, biasanya punya jabatan asisten manajer ke atas, mengincar hunian dengan sewa sekitar Rp4 juta. Tak jarang juga statusnya pasutri. Tapi kalau daerah mahasiswa, biasanya tipe sewa yang Rp2 juta. Semuanya prefer mayoritas bayar bulanan yang lebih fleksibel,” ujarnya.

Oleh karena itu, Rizky melihat bahwa membangun co-living secara jangka panjang cenderung lebih menjanjikan ketimbang membangun bisnis fasilitas olahraga, sebab merupakan kebutuhan primer dan tak bergantung dengan tren sesaat.

Bagi para pemilik properti yang berminat menjadi calon partner, Rizky menekankan jangan ragu untuk berdiskusi dengan Cove, sebab pihaknya telah memiliki tim analisis, pengembangan, bahkan desain. 

“Terpenting kenalan dulu, mengobrol, kemudian kami akan lihat apakah lokasinya cocok untuk co-living. Setelah itu asesmen, bisa dibikin berapa lantai, berapa kamar, dan lain sebagainya,” tutupnya.

Senior Marketing Manager Cove, Chitra Rufina Praditha menambahkan ada tren konsumen cenderung ingin hunian fleksibel yang dekat dengan akses transportasi umum. 

Oleh karena itu, partner Cove begitu terdiversifikasi, mulai dari perorangan yang punya aset di dekat stasiun, sampai korporasi besar sekaliber Taspen properti, Lippo Karawaci, hingga KAI. 

“Ada tren pemilik aset rumah di dekat MRT atau LRT ingin bekerja sama dengan Cove buat mendapat passive income demi persiapan pensiun,” ungkapnya.

Chitra menjelaskan ada dua pilihan yang bisa diambil calon partner, yaitu mengambil waralaba saja dan mengoperasikan sendiri, atau menyerahkan manajemen secara penuh.

“Kalau under management, terima beres, bahkan sampai hiring house keeper dan lain-lain. Nanti revenue sharing saja yang berbeda. Tapi keduanya tetap kami punya standar, setiap properti Cove akan kami upgrade ruang publiknya menjadi lebih kekinian dan elegan sesuai ciri khas kami,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *