Petikhasil.id, BANDUNG — Di tengah derasnya media sosial, profesi konten kreator makin sering dilihat sebagai jalan cepat untuk mendapatkan uang. Banyak anak muda tertarik masuk ke dunia ini karena tampak dekat dengan keseharian mereka. Cukup punya ponsel, ide, lalu unggah konten. Namun kenyataannya, membangun konten yang benar-benar menghasilkan tidak sesederhana yang terlihat di layar.
Hal yang sama sebenarnya juga mulai relevan bagi dunia pertanian dan peternakan. Hari ini, petani tidak lagi hanya menjual hasil panen di pasar. Peternak juga tidak harus menunggu pengepul datang ke kandang. Lewat konten digital, hasil tani, susu segar, olahan pangan lokal, sampai pengalaman di kebun dan kandang bisa langsung dikenalkan kepada konsumen. Di sinilah media sosial pelan-pelan berubah dari sekadar tempat hiburan menjadi ruang baru untuk memperluas pasar.
Baca Lainya: Digitalisasi Pertanian Bukan Cuma Soal Alat, Tapi Kesiapan Petani | Kemenko PM Latih Ratusan Petani Mahir Digital di Al-Ittifaq
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah konten bisa menghasilkan, tetapi bagaimana pelaku usaha kecil di sektor pangan, pertanian, dan peternakan bisa memakainya dengan tepat. Konten yang baik bukan hanya soal ramai ditonton, melainkan juga soal apakah ia mampu membangun kepercayaan, membuat orang paham nilai sebuah produk, lalu akhirnya mau membeli.
Dari sawah dan kandang ke layar ponsel
Banyak produk pertanian sebenarnya punya cerita yang kuat. Sayur segar dari kebun, susu langsung dari kandang, telur kampung, buah lokal, hingga olahan pangan desa sering kali punya nilai lebih yang tidak selalu terlihat jika hanya dijual begitu saja. Konten digital bisa membantu memperlihatkan hal-hal yang selama ini tersembunyi, mulai dari proses budidaya, kebersihan produksi, sampai kerja keras di balik satu produk yang sampai ke tangan konsumen.
Karena itu, pelaku pertanian dan peternakan juga perlu mulai melihat konten sebagai bagian dari usaha. Bukan berarti semua petani harus menjadi seleb internet, tetapi mereka bisa mulai bercerita tentang produknya sendiri. Konten sederhana tentang panen pagi, proses memerah susu, menyiapkan pakan, atau mengolah hasil tani justru sering terasa lebih jujur dan lebih dekat dengan pembeli.
Di titik ini, kunci pertama yang perlu dipahami adalah kemudahan ditemukan. Konten yang baik perlu memakai judul, kata kunci, dan deskripsi yang tepat agar mudah dicari orang. Dalam dunia digital, ini dikenal sebagai SEO. Bagi petani dan peternak, prinsipnya sederhana. Jika menjual susu segar Arjasari, misalnya, maka orang harus mudah menemukan informasi itu ketika mencari susu segar, peternakan lokal, atau produk pangan dari daerah tersebut.
Konten harus direncanakan, bukan sekadar diunggah
Tantangan terbesar para kreator lokal sering kali bukan pada ide, tetapi pada cara menyusun langkah. Banyak orang rajin membuat konten, tetapi tidak menghubungkannya dengan tujuan usaha. Padahal, konten yang menghasilkan biasanya lahir dari perencanaan yang rapi. Topik harus jelas, jadwal unggahan perlu dijaga, dan arah pesannya harus konsisten.
Dalam konteks pertanian dan peternakan, konten bisa dibagi dengan sederhana. Satu hari bercerita tentang proses tanam, hari lain tentang hasil panen, lalu disambung dengan edukasi soal manfaat produk atau cerita orang-orang di balik usaha itu. Dengan pola seperti ini, audiens tidak hanya melihat barang yang dijual, tetapi juga mengenal proses dan manusianya.
Konsistensi juga sangat penting. Konten yang diunggah rutin akan lebih mudah membangun kepercayaan. Orang yang melihat akun kebun atau kandang aktif biasanya lebih yakin bahwa usaha itu benar-benar hidup. Dari situ, relasi antara pembuat konten dan pembeli mulai terbentuk. Inilah yang sering kali menjadi modal utama sebelum transaksi terjadi.
Monetisasi tidak harus menunggu viral
Chief Marketing Officer Fuomo, Brellian Gema Widayana, melihat banyak kreator lokal sebenarnya sudah punya konsistensi, tetapi belum menempatkan diri sebagai pelaku bisnis kreatif. Menurut dia, cara pandang seperti ini perlu diubah karena monetisasi tidak harus menunggu viral.
“Mereka harus mengubah cara pandang itu. Monetisasi tidak harus menunggu viral. Dengan tools yang tepat, langkah kecil pun bisa menghasilkan pendapatan nyata,” ujarnya.
Pandangan ini cukup relevan jika dibawa ke sektor pangan lokal. Banyak petani, peternak, dan pelaku UMKM pertanian sering merasa harus menunggu konten mereka besar dulu sebelum bisa menghasilkan. Padahal, jalan monetisasi bisa dimulai dari hal-hal yang lebih dekat, seperti menjual produk langsung, membuka pemesanan lewat pesan singkat, menawarkan kunjungan edukasi ke kebun atau kandang, atau menjual produk digital seperti panduan tanam dan kelas singkat berbasis pengalaman lapangan.
Chief Executive Officer Fuomo, Marcell Tee, juga menilai masalah utama kreator bukan terletak pada kreativitas atau audiens, melainkan pada sistem monetisasi yang sering kali tidak transparan. Menurut dia, kreator perlu memahami bagaimana karya mereka menghasilkan uang dan bagaimana mereka tetap memegang kendali atas pendapatannya sendiri.
Peluang baru bagi pelaku usaha desa
Bagi dunia pertanian dan peternakan, perubahan ini membuka peluang yang cukup besar. Ketika petani atau peternak mampu mengelola konten, komunitas, dan penjualan secara lebih mandiri, mereka tidak lagi hanya bergantung pada satu jalur pasar. Mereka bisa menjangkau konsumen langsung, membangun basis pelanggan sendiri, dan memperluas jangkauan tanpa harus kehilangan identitas produknya.
Di sinilah konten digital punya fungsi yang lebih dalam. Ia bukan hanya alat promosi, tetapi juga jembatan antara desa dan pasar yang lebih luas. Produk seperti madu, susu segar, buah petik sendiri, sayur organik, atau olahan pangan lokal sebenarnya sangat cocok masuk ke ruang ini karena punya cerita yang kuat dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Baca Lainya: Digitalisasi Pertanian Bukan Cuma Soal Alat, Tapi Kesiapan Petani | Kemenko PM Latih Ratusan Petani Mahir Digital di Al-Ittifaq
Pada akhirnya, menjadi kreator tidak harus selalu berarti mengejar ketenaran. Di tangan petani, peternak, dan pelaku usaha pangan, konten justru bisa menjadi alat untuk menjaga usaha tetap hidup. Selama dikelola dengan perencanaan yang baik, konsisten, dan jujur pada identitas produk, layar ponsel bisa menjadi perpanjangan dari kebun, kandang, dan dapur produksi itu sendiri. Dari sana, pertanian dan peternakan tidak hanya menjual hasil, tetapi juga menjual cerita yang membuat orang mau kembali membeli. (PtrA)






