Produksi Bawang Cirebon Turun

Petikhasil.id, CIREBON — Produksi bawang merah di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, turun pada 2025. Data Dinas Pertanian mencatat petani menghasilkan 30.665 ton, lebih rendah dibandingkan 32.094 ton pada 2024.

Penurunan terjadi di tengah pola produksi yang masih terkonsentrasi di sejumlah kecamatan utama seperti Pabedilan dan Losari.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, menyebut petani menghadapi kombinasi tekanan dari faktor budidaya dan eksternal.

“Cuaca, serangan hama, serta tingginya biaya produksi menekan luas tanam dan produktivitas,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Baca Juga:Bawang Merah vs Bawang Putih, Mana yang Lebih Baik untuk Daya Tahan Tubuh?

Produksi Terkonsentrasi di Sentra

Petani di Kecamatan Pabedilan mencatat produksi 7.170 ton pada 2025, turun dari 8.723 ton pada 2024. Sebaliknya, petani di Losari meningkatkan produksi dari 8.260 ton menjadi 8.562 ton.

Di wilayah lain, petani di Pabuaran menaikkan produksi dari 4.350 ton menjadi 4.930 ton. Petani di Babakan bahkan mencatat lonjakan dari 1.632 ton menjadi 2.952 ton.

Namun, penurunan di kecamatan seperti Gebang dan Waled menahan total produksi kabupaten. Ketimpangan ini menunjukkan struktur produksi belum merata.

Deni menilai ketergantungan pada beberapa sentra membuat produksi rentan.

“Gangguan di satu wilayah langsung memengaruhi total produksi,” katanya.

Biaya Produksi Tekan Petani

Petani menghadapi biaya tinggi pada hampir seluruh komponen produksi. Harga benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, hingga kebutuhan air terus menekan biaya usaha.

Kondisi ini membuat margin petani menipis, terutama saat harga bawang merah di tingkat petani turun.

Petani akhirnya menahan ekspansi tanam atau mengurangi intensitas budidaya, yang berdampak langsung pada produksi.

Pascapanen Masih Lemah

Petani juga menghadapi kendala pada tahap pascapanen. Keterbatasan fasilitas penyimpanan dan pengolahan membuat petani menjual hasil panen segera setelah panen.

Situasi ini sering terjadi saat panen raya, ketika pasokan meningkat dan harga turun.

Deni menegaskan penanganan pascapanen belum optimal. Petani masih terbatas dalam proses curing, pengeringan, dan penyimpanan.

“Susut bobot dan penurunan kualitas masih sering terjadi,” ujarnya.

Harga Mudah Berfluktuasi

Kondisi pascapanen yang lemah membuat harga bawang merah bergerak ekstrem. Saat produksi melimpah, harga turun karena tidak ada penahan stok. Sebaliknya, saat pasokan berkurang, harga melonjak cepat di pasar.

Fluktuasi ini tidak hanya memengaruhi petani, tetapi juga berdampak pada stabilitas harga pangan secara umum.

Peluang Hilirisasi Masih Terbuka

Meski menghadapi tekanan, sektor bawang merah masih memiliki peluang besar. Petani dan pelaku usaha dapat mengembangkan produk turunan seperti bawang goreng, bawang kering, hingga pasta bawang.

Produk olahan ini menawarkan nilai tambah lebih tinggi dan daya simpan lebih lama dibandingkan bawang segar.

“Selama ini petani masih menjual dalam bentuk segar. Padahal pengolahan bisa meningkatkan nilai ekonomi,” kata Deni.

Penguatan Infrastruktur Jadi Kunci

Pemerintah daerah mendorong penguatan produksi sekaligus perbaikan pascapanen. Program ini mencakup pembangunan fasilitas penyimpanan, pengeringan, dan pengolahan.

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan kerugian petani, menjaga kualitas hasil panen, serta menstabilkan harga di pasar.

Dengan perbaikan dari hulu hingga hilir, sektor bawang merah Cirebon berpeluang kembali tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *