BINUS Bandung Ajak Pelaku Usaha Membaca Pasar lewat Workshop AI for Business Decision Making

Petikhasil.id, BANDUNG — Dunia usaha bergerak makin cepat. Pasar berubah, perilaku konsumen bergeser, dan risiko datang dari banyak arah. Dalam situasi seperti itu, pelaku usaha tidak bisa lagi hanya mengandalkan intuisi. Mereka perlu membaca data dengan lebih cepat dan lebih tepat.

Di titik inilah Artificial Intelligence atau AI mulai mendapat tempat. AI tidak lagi dipandang hanya sebagai alat teknologi. Kini, banyak pelaku usaha melihatnya sebagai mitra untuk membantu membaca keadaan, memahami pasar, dan mendukung keputusan bisnis.

Gagasan itu menjadi benang utama dalam workshop “AI for Business Decision Making: From Insight to Action” yang digelar BINUS Creates di BINUS @Bandung Paskal Campus, Rabu, 6 Mei 2026. Acara ini menghadirkan Kania Alma Tiara, S.M., M.Kom., dan Dr. Dany Eka Saputra, S.T., M.T. sebagai pemateri. Peserta datang dari kalangan CEO dan pengambil keputusan daerah. Sejumlah instansi yang hadir antara lain Diskominfo Jawa Barat, BPBD Jawa Barat, Jaswita, Disparbud Jawa Barat, serta beberapa perwakilan lembaga lain.

Baca Lainya: Green Jobs Fest Jakarta 2026 Buka Ruang Karier Hijau untuk Anak Muda | Green Jobs Fest 2026 Jakarta Buka Jalan Anak Muda ke Karier Hijau yang Lebih Nyata

Saat intuisi saja tidak lagi cukup

Dalam dunia bisnis, keputusan sering harus diambil dalam waktu singkat. Perusahaan perlu menentukan produk yang akan didorong, pasar yang akan dibuka, biaya yang harus ditekan, dan risiko yang perlu diantisipasi. Selama ini, banyak keputusan seperti itu lahir dari pengalaman, kebiasaan, atau intuisi pimpinan.

Namun pola itu kini makin sulit dipertahankan. Di era data, pelaku usaha perlu dasar yang lebih kuat. Mereka perlu melihat apa yang benar-benar terjadi di pasar, bukan hanya menduga.

Di situlah AI mengambil peran. Teknologi ini membantu pelaku usaha mengolah data dalam jumlah besar, lalu mengubahnya menjadi wawasan yang lebih siap dipakai. Dengan cara itu, keputusan tidak lagi terlalu bergantung pada firasat. Keputusan bisa bergerak ke arah yang lebih terukur dan lebih berbasis bukti.

GenAI mulai dilihat sebagai mitra strategis

Dalam paparannya, Kania Alma Tiara menegaskan bahwa peran AI hari ini tidak cukup lagi dilihat sebagai alat bantu teknis. Menurut dia, generative AI sudah layak dipahami sebagai rekan strategis dalam membaca pasar dan menyusun arah bisnis.

“Sudah saatnya GenAI menjadi strategic business partner yang membantu para pengambil keputusan membaca pasar dan menentukan arah bisnis yang lebih baik berdasarkan data,” ujarnya.

Pandangan ini penting karena AI tidak hanya mempercepat kerja. AI juga membantu pelaku usaha memperluas cara pandang terhadap data. Dari perilaku konsumen hingga perubahan tren pasar, semua bisa dibaca lebih cepat bila bisnis mulai memakai pendekatan yang lebih berbasis data.

AI membantu, tetapi keputusan tetap milik manusia

Dalam sesi yang sama, Dr. Dany Eka Saputra juga menegaskan bahwa AI tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu. Menurut dia, AI bisa membantu mempercepat analisis dan memberi rekomendasi, tetapi tidak bisa menggantikan tanggung jawab manusia dalam mengambil keputusan.

“GenAI dapat membantu para pengambil keputusan dalam menjalankan bisnisnya. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, karena AI tidak dapat dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

Pernyataan ini memberi penekanan penting. Di tengah antusiasme yang tinggi terhadap AI, pelaku usaha tetap perlu sadar bahwa tanggung jawab, pertimbangan etis, dan keberanian mengambil keputusan tidak bisa dipindahkan ke mesin.

Relevan untuk bisnis pangan, pertanian, dan peternakan

Percakapan seperti ini juga sangat relevan untuk sektor pertanian dan peternakan. Dunia pangan hari ini menghadapi ketidakpastian yang sama besar. Harga mudah berubah, cuaca sulit diprediksi, dan permintaan pasar bergerak cepat. Di tengah situasi itu, petani dan peternak juga harus mengambil keputusan setiap hari.

Dalam pertanian, AI bisa membantu membaca pola tanam, kebutuhan pasar, dan tren konsumsi di berbagai daerah. Pelaku usaha sayuran, hortikultura, dan pangan lokal bisa memakai data untuk menentukan waktu tanam, volume produksi, arah pasar, dan langkah antisipasi risiko.

Di sektor peternakan, peluangnya juga terbuka lebar. Data pakan, kesehatan ternak, pola produksi susu, dan perubahan permintaan bisa dibaca lebih cepat bila usaha mulai masuk ke cara kerja berbasis data. Karena itu, AI tidak hanya relevan untuk korporasi besar. AI juga bisa menjadi alat bantu bagi ekosistem pangan yang lebih luas.

Dari intuisi menuju keputusan berbasis data

Di sela pembukaan acara, Campus Director BINUS @Bandung, Johan Muliadi Kerta, menjelaskan bahwa agenda roadshow ini menjadi salah satu kickoff dari rangkaian acara yang nantinya digelar BINUS di berbagai kota di Indonesia. Menurut dia, forum seperti ini penting untuk membantu para pengambil keputusan memperluas wawasan tentang perubahan cara bisnis beroperasi.

“Agenda roadshow ini adalah salah satu kickoff dari rangkaian acara yang nantinya akan digelar di BINUS seluruh Indonesia, dalam rangka membantu menambah wawasan para decision maker mengubah cara bisnis beroperasi, dari yang tadinya mengandalkan intuisi menjadi berbasis data,” ujar Johan.

Pernyataan itu terasa penting, terutama ketika banyak pelaku usaha masih melihat AI sebagai sesuatu yang jauh, rumit, dan hanya cocok untuk perusahaan teknologi. Padahal tantangan utama bisnis hari ini justru ada pada kemampuan membaca data, memahami risiko, dan bertindak tepat waktu.

Data yang baik tetap menjadi kunci

Meski begitu, pemanfaatan AI tidak datang tanpa tantangan. Salah satu persoalan paling mendasar adalah kualitas data. Bila data yang dipakai tidak lengkap, tidak beragam, atau penuh bias, maka hasil analisis AI juga bisa meleset.

Karena itu, keberhasilan penggunaan AI sangat bergantung pada kedisiplinan pelaku usaha dalam mengumpulkan, membersihkan, dan membaca data yang mereka miliki. Workshop seperti ini menjadi penting karena AI tidak bisa hanya dikenalkan sebagai jargon yang terdengar canggih. AI perlu dipahami sebagai alat yang baru akan bekerja baik ketika data dan cara berpikir manusianya juga siap.

Bandung dan ruang baru untuk masa depan bisnis

Kehadiran para pengambil kebijakan daerah dalam workshop ini memberi sinyal bahwa percakapan tentang AI mulai masuk ke ruang keputusan yang lebih luas. Ia tidak lagi berhenti di kampus atau perusahaan teknologi. Kini, ia juga menyentuh layanan publik, pengembangan bisnis daerah, pariwisata, mitigasi bencana, hingga ekonomi lokal.

Bagi Jawa Barat, arah ini terasa relevan. Provinsi ini punya kekuatan di banyak sektor, termasuk industri kreatif, UMKM pangan, hortikultura, agrowisata, dan peternakan. Jika para pengambil keputusan di sektor-sektor ini mulai terbiasa memakai pendekatan berbasis data, maka peluang membangun sistem usaha yang lebih presisi juga akan semakin besar.

Baca Lainya: Green Jobs Fest Jakarta 2026 Buka Ruang Karier Hijau untuk Anak Muda | Green Jobs Fest 2026 Jakarta Buka Jalan Anak Muda ke Karier Hijau yang Lebih Nyata

Pada akhirnya, workshop “AI for Business Decision Making: From Insight to Action” bukan hanya forum teknis tentang teknologi. Acara ini juga menjadi penanda bahwa dunia bisnis, termasuk yang bersentuhan dengan pertanian dan peternakan, sedang bergerak ke fase baru. Keputusan yang baik tidak cukup hanya cepat. Keputusan juga harus tepat. Di tengah arus perubahan yang makin padat, kemampuan membaca data dengan benar bisa menjadi salah satu kunci agar usaha tetap bertahan, tumbuh, dan relevan. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *