Petikhasil.id, CIREBON — Produksi mangga di Kabupaten Cirebon mengalami penurunan tajam pada 2025. Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mencatat produksi mangga hanya mencapai 37.922 ton, turun sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 44.776 ton.
Penurunan ini menjadi perhatian karena mangga merupakan salah satu komoditas hortikultura andalan Cirebon. Bagi banyak petani, hasil panen mangga tidak hanya menjadi sumber pendapatan musiman, tetapi juga penopang ekonomi keluarga.
Baca Juga: Perkebunan Sawit di Cirebon Ganti jadi Mangga Gincu
Produksi Turun Hampir 7.000 Ton
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya menilai penurunan tersebut bukan sekadar fluktuasi tahunan yang lazim terjadi pada tanaman buah.
Menurut dia, petani menghadapi berbagai tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Cuaca yang sulit diprediksi, serangan hama dan penyakit tanaman, serta persoalan teknis budidaya ikut menekan produktivitas kebun mangga.
“Penurunan ini tidak bisa dilihat sebagai siklus biasa. Ada indikasi tekanan, baik dari faktor cuaca, serangan hama penyakit, maupun aspek teknis budidaya di tingkat petani,” kata Deni.
Data Dinas Pertanian menunjukkan produksi mangga Cirebon mencapai 43.351 ton pada 2022. Angka tersebut turun tipis menjadi 43.099 ton pada 2023. Produksi kemudian naik menjadi 44.776 ton pada 2024 sebelum akhirnya merosot menjadi 37.922 ton pada 2025.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, produksi mangga berkurang sekitar 6.854 ton.
Budidaya Belum Seragam
Deni menjelaskan banyak petani masih menerapkan pola budidaya yang berbeda-beda. Sebagian petani belum menjalankan pemangkasan, pemupukan, dan sanitasi kebun secara konsisten.
Kondisi tersebut membuat produktivitas pohon mangga tidak merata. Hasil panen antarwilayah bahkan bisa berbeda cukup jauh meski berada dalam satu musim yang sama.
“Standar budidaya belum seragam. Ini berdampak langsung pada jumlah dan kualitas produksi,” ujarnya.
Selain memengaruhi volume panen, perbedaan teknik budidaya juga berpengaruh terhadap kualitas buah yang masuk ke pasar.
Cuaca Makin Sulit Diprediksi
Perubahan cuaca juga menjadi tantangan besar bagi petani mangga. Curah hujan yang tidak menentu sering mengganggu proses pembungaan dan pembentukan buah.
Di sisi lain, musim kemarau yang berlangsung lebih panjang membuat tanaman mengalami stres dan menurunkan potensi produksi.
Akibatnya, petani menghadapi risiko gagal panen atau penurunan hasil yang lebih besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Pascapanen Masih Jadi Titik Lemah
Persoalan mangga di Cirebon tidak berhenti saat panen. Petani juga menghadapi kendala pada tahap pascapanen.
Kerusakan buah saat proses pengumpulan dan distribusi masih cukup tinggi. Banyak petani belum memiliki akses ke fasilitas penyimpanan dingin yang mampu menjaga kualitas buah lebih lama.
Karena khawatir buah cepat rusak, petani biasanya langsung menjual hasil panen dalam waktu singkat.
“Ketika panen raya, petani cenderung menjual cepat karena tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai. Ini membuat harga mudah jatuh,” kata Deni.
Kondisi tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah ketika pasokan mangga melimpah di pasar.
Industri Olahan Belum Menyerap Optimal
Deni menilai pengembangan industri olahan mangga masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dipercepat.
Saat ini, pasar segar masih menjadi tujuan utama penjualan mangga. Sementara itu, buah yang tidak memenuhi standar pasar premium belum seluruhnya terserap industri pengolahan.
Padahal, produk seperti jus mangga, puree, selai, hingga mangga kering memiliki peluang pasar yang cukup besar.
Menurut Deni, penguatan industri hilir dapat membantu menyerap hasil panen saat produksi melimpah sekaligus menjaga harga di tingkat petani.
Harapan Petani Tidak Hanya Soal Panen
Bagi petani mangga Cirebon, persoalan utama bukan sekadar meningkatkan produksi. Mereka juga membutuhkan sistem yang mampu menjaga kualitas, memperpanjang umur simpan buah, dan memperkuat posisi tawar saat panen raya.
Ketika budidaya semakin baik, fasilitas pascapanen tersedia, dan industri pengolahan berkembang, manfaatnya tidak hanya terlihat pada kenaikan produksi. Nilai tambah juga bisa kembali ke kebun-kebun mangga yang selama ini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga petani di Cirebon. (PtrA)






