Petikhasil.id, BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat membidik produksi padi yang lebih tinggi pada 2026 meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau berlangsung lebih panjang dan lebih kering.
Target tersebut menjadi tantangan bagi Jawa Barat sebagai salah satu lumbung padi nasional. Namun, pemerintah memilih bergerak lebih awal dengan memperkuat ketersediaan benih dan sumber air bagi petani.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat Dadan Hidayat mengatakan produksi padi sawah dan ladang pada 2026 berpotensi melampaui capaian tahun sebelumnya yang mencapai 10,226 juta ton gabah kering giling (GKG).
Menurut dia, pemerintah tidak ingin musim kemarau menekan produktivitas petani. Karena itu, DTPH Jawa Barat menjalankan sejumlah program antisipasi sebelum puncak kemarau tiba.
Baca Juga : Harga Gabah Tinggi, Produksi Turun | Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Terdesak
Benih Tahan Kekeringan Jadi Strategi Utama
DTPH Jawa Barat mendorong petani menggunakan varietas padi yang mampu bertahan pada kondisi lahan kering.
Pemerintah merekomendasikan sejumlah varietas seperti Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpago 12 Agritan, Inpago 13 Fortiz, Inpari 32, hingga beberapa varietas lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi setempat.
Selain memberikan rekomendasi, DTPH Jawa Barat juga menyalurkan bantuan benih bersertifikat kepada petani.
“Kami menyiapkan bantuan benih padi hibrida untuk lahan seluas 21.825 hektare dan benih jagung hibrida untuk 1.000 hektare,” kata Dadan, Senin (22/6/2026).
Pemerintah mengarahkan bantuan tersebut kepada petani yang menghadapi kekeringan. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan bagi petani yang melakukan percepatan tanam di wilayah yang masih memiliki sumber air.
Melalui langkah itu, pemerintah berharap petani tetap menjaga produktivitas meski curah hujan menurun.
Pemprov Perkuat Pasokan Air Pertanian
Selain memperkuat penggunaan benih unggul, pemerintah juga meningkatkan dukungan sarana pengairan.
Dadan meminta petani memanfaatkan pompa air yang tersedia agar tanaman tetap memperoleh pasokan air selama musim kemarau.
Pada saat yang sama, Pemprov Jawa Barat mempercepat pembangunan saluran distribusi air dari sumber terdekat menuju lahan pertanian.
Pemerintah juga memperbaiki jaringan irigasi tersier di berbagai sentra produksi pangan. Langkah tersebut bertujuan menjaga ketersediaan air selama musim tanam berlangsung.
“Kami mengimbau petani menggunakan air secara efisien agar kebutuhan tanaman tetap terpenuhi,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memetakan wilayah yang berisiko mengalami kekeringan lebih awal.
Embung dan Sumur Perkuat Ketahanan Air
Pemprov Jawa Barat juga membangun embung, sumur dangkal, dan sumur dalam untuk memperkuat cadangan air pertanian.
Selain itu, pemerintah memperluas program pompanisasi dan irigasi perpompaan di sejumlah wilayah sentra produksi pangan.
Program tersebut membantu petani memperoleh akses air ketika curah hujan menurun dan debit irigasi berkurang.
Karena itu, petani memiliki lebih banyak pilihan sumber air saat musim kemarau berlangsung.
Baca Juga : Harga Gabah Tinggi, Produksi Turun | Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Terdesak
Produktivitas Petani Menjadi Prioritas
Bagi petani, musim kemarau tidak hanya meningkatkan risiko kekurangan air. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya produksi dan mengurangi hasil panen.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan produksi. Pemerintah juga berupaya menjaga keberlanjutan usaha tani agar petani tetap memperoleh hasil yang optimal.
Jika petani memperoleh pasokan air yang cukup dan menggunakan benih yang sesuai, produktivitas padi Jawa Barat berpeluang meningkat meski kemarau berlangsung lebih panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada kondisi cuaca. Kesiapan petani, dukungan infrastruktur air, serta ketersediaan benih unggul akan menjadi faktor utama yang menjaga produksi gabah Jawa Barat sepanjang 2026. (PtrA)






