Petikhasil.id, BANDUNG— Ketika kabar PHK datang bertubi-tubi, banyak orang melihat industri, kantor, dan kota sebagai pusat kecemasan. Namun di balik semua itu, ada satu sektor yang tetap diam-diam menampung lebih banyak tenaga kerja daripada yang lain: pertanian. Badan Pusat Statistik mencatat pada Februari 2026 lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, yakni 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari total penduduk bekerja. Di saat yang sama, tingkat pengangguran terbuka tercatat 4,68 persen dengan jumlah penganggur 7,24 juta orang. Sementara itu, Satudata Kemnaker mencatat 23.470 pekerja ter-PHK pada Januari sampai Mei 2026 dalam kelompok peserta JKP.
Data itu menunjukkan satu hal yang sering luput dalam pembicaraan publik. Di tengah guncangan kerja formal, pertanian masih berdiri sebagai bantalan paling besar. Ia tidak selalu tampak glamor. Ia juga tidak selalu masuk ke mimpi kerja anak muda. Namun ketika sektor-sektor lain goyah, sawah, kebun, kandang, dan usaha tani masih menjadi tempat jutaan orang mencari nafkah.
Baca Lainya: Saat PHK Meningkat, Indonesia Butuh Pintu Kerja Cepat di Sektor Pertanian | Kita Terlalu Lama Mendidik Anak Menjadi Pencari Kerja, Bukan Pencipta Kerja
Pertanian tetap luas, tetapi pintu masuknya belum selalu dianggap menarik
Sensus Pertanian 2023 memberi gambaran yang lebih besar lagi. Indonesia memiliki 28.419.398 rumah tangga usaha pertanian. Jumlah petani milenial berusia 19–39 tahun tercatat 6.183.009 orang, atau sekitar 21,93 persen dari total petani di Indonesia. Data ini memberi dua pesan sekaligus: pertanian masih sangat besar, tetapi regenerasinya belum kuat.
Di sinilah ironi mulai terlihat. Sektor yang daya serap kerjanya paling besar justru belum cukup menarik bagi banyak anak muda. Banyak yang tetap melihat pertanian sebagai pilihan terakhir, bukan pilihan masa depan. Akibatnya, ketika PHK datang, banyak orang lebih cepat mencari pekerjaan lain di sektor informal perkotaan daripada melihat pertanian sebagai ruang kerja yang nyata.
Pertanian sering diremehkan karena tidak tampak modern
Masalahnya bukan semata pada sektor pertanian itu sendiri. Masalahnya juga ada pada cara kita memandang kerja. Anak muda lebih sering dibesarkan dengan imajinasi sukses di kantor, pabrik, atau perusahaan jasa. Pertanian jarang dipromosikan sebagai dunia kerja yang bernilai, padahal dari sisi daya serap ia jauh lebih besar daripada banyak sektor lain.
Padahal pertanian hari ini tidak lagi sesempit gambaran lama tentang cangkul dan lumpur. Di dalamnya ada budidaya, pascapanen, sortasi, logistik, gudang, pengolahan hasil, sampai agribisnis berbasis teknologi. Tetapi tanpa perubahan cara pandang, sektor sebesar ini akan terus kekurangan tenaga muda yang melihatnya sebagai ruang tumbuh.
Saat kerja formal goyah, pertanian justru menunjukkan daya tahannya
Gelombang PHK menunjukkan bahwa banyak pekerjaan formal tidak selalu sekuat yang dibayangkan. Perusahaan bisa menekan biaya. Industri bisa melambat. Sektor jasa juga bisa cepat berubah. Di tengah ketidakpastian itu, pertanian justru tetap berjalan karena kebutuhan pangan tidak pernah berhenti. Orang bisa menunda membeli barang tertentu, tetapi tidak bisa menunda kebutuhan makan.
Itulah sebabnya pertanian punya daya tahan yang khas. Ia mungkin tidak selalu memberi penghasilan besar dalam waktu cepat. Namun ia terus membuka ruang kerja, langsung maupun tidak langsung, dari hulu sampai hilir. Ketika banyak sektor bergantung pada pertumbuhan konsumsi atau investasi, pertanian tetap berdiri di atas kebutuhan dasar manusia.
Yang dibutuhkan bukan sekadar ajakan romantis
Meski begitu, tidak adil juga kalau semua solusi dilempar ke pertanian tanpa jalan masuk yang jelas. Anak muda tidak cukup hanya diajak kembali ke desa. Mereka butuh akses lahan, pelatihan, pendampingan, pasar, dan model kerja yang lebih masuk akal. Korban PHK juga tidak otomatis bisa masuk ke pertanian bila sistem penghubung antara tenaga kerja dan kebutuhan di lapangan masih lemah.
Jadi, pelajaran dari data ini bukan sekadar bahwa pertanian masih besar. Pelajarannya adalah pertanian layak dilihat lebih serius sebagai penyangga kerja nasional. Negara bisa mulai membangun jembatan yang lebih nyata antara orang yang kehilangan pekerjaan dengan peluang kerja di kebun, kandang, rumah kemas, gudang, dan rantai distribusi pangan.
Baca Lainya: Saat PHK Meningkat, Indonesia Butuh Pintu Kerja Cepat di Sektor Pertanian | Kita Terlalu Lama Mendidik Anak Menjadi Pencari Kerja, Bukan Pencipta Kerja
Pertanian tidak boleh terus dianggap sektor cadangan
Pada akhirnya, pertanian terlalu sering diperlakukan sebagai sektor cadangan. Ia dipuji saat krisis, tetapi dilupakan saat keadaan terasa normal. Padahal data menunjukkan sebaliknya. Sektor ini bukan pelengkap, melainkan penyangga utama. Ia menyerap tenaga kerja paling besar, menopang pangan, dan tetap hidup ketika banyak sektor lain limbung.
Kalau Indonesia ingin lebih siap menghadapi gejolak kerja di masa depan, pertanian harus ditempatkan bukan hanya sebagai penyangga pangan, tetapi juga sebagai penyangga pekerjaan. Dari sanalah kritik paling pentingnya muncul: kita terlalu sering membicarakan pertanian sebagai masa lalu, padahal di tengah PHK yang ramai, sektor inilah yang diam-diam masih memegang masa depan banyak orang. (Vry)






