Petikhasil.id, KARAWANG — Suasana malam di hamparan sawah irigasi teknis kawasan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, tampak gelap pekat saat suara desis jutaan serangga kecil terdengar merayap di pangkal batang padi. Wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens) sedang berpesta menghisap cairan floem tanaman padi. Dalam hitungan hari, petak-petak sawah yang sedang bunting muda menguning kering menyerupai bekas terbakar api, fenomena yang ditakuti petani sebagai hopperburn.
Menghadapi ledakan wereng, petani kerap menyemprotkan insektisida kimia berspektrum luas hingga tiga kali sepekan. Penyemprotan membabi buta ini justru memicu ledakan wereng yang lebih dahsyat pada musim berikutnya (resurgensi), karena racun kimia membasmi habis musuh alami seperti laba-laba pemburu dan kepik mirid, sementara telur wereng di dalam pelepah daun tetap selamat.
Kekeliruan menembakkan racun di siang bolong ini telah dikoreksi oleh Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Los Baños, Filipina, melalui standarisasi teknologi perangkap cahaya air (light trap water pan).
Metode ini tidak membutuhkan aliran listrik PLN atau racun kimia. Petani cukup memasang sebuah lentera minyak tanah atau lampu LED tenaga surya kecil di atas sebuah ember atau baskom lebar berisi air sabun di pematang sawah.
Terpikat oleh fototaksis positif di kegelapan malam
Kelemahan biologis wereng cokelat dewasa terletak pada sifat penglihatan dan naluri navigasinya. Wereng cokelat dewasa memiliki dua bentuk sayap: bersayap kerdil (brakhiptera) yang menetap dan bersayap panjang (makroptera) yang aktif terbang bermigrasi antarpulau di malam hari.
Wereng makroptera memiliki sifat fototaksis positif yang sangat kuat. Di alam bebas, serangga malam memanfaatkan cahaya remang bulan bintang sebagai panduan kompas orientasi sudut terbang (transverse orientation).
Ketika sebuah sumber cahaya lampu buatan menyala terang di tengah kegelapan sawah terbuka, sistem navigasi optik wereng mengalami disorientasi total. Serangga mengira sumber cahaya tersebut adalah titik horizon terbuka.
Kawanan wereng bersayap panjang yang sedang terbang melintasi petak sawah akan membelokkan arah terbangnya dan meluncur berputar-putar mengelilingi bola lampu layaknya pusaran angin serangga.
Lapisan sabun pemecah pantulan dan pelenyap udara
Tepat di bawah bola lampu, petani meletakkan baskom seng atau ember plastik ceper berisi air yang telah diberi sedikit cairan sabun cuci piring atau minyak tanah tipis.
Saat wereng beterbangan mendekati lampu yang panas, sebagian serangga menabrak kaca lentera dan sebagian lagi terpikat oleh pantulan cahaya lampu di permukaan air baskom. Serangga menukik jatuh ke dalam air.
Molekul surfaktan pada air sabun melenyapkan tegangan permukaan air secara total. Tanpa tegangan permukaan, serangga bertubuh ringan tidak bisa mengapung di permukaan air.
Air sabun segera membasahi lapisan lilin kutikula tubuh wereng dan menyumbat lubang-lubang pernapasan trakea (spirakel) di sepanjang sisi tubuhnya. Wereng tenggelam seketika ke dasar ember dan mati lemas dalam hitungan detik.
Menjaga nyawa laba-laba pemburu di pematang
Satu unit perangkap lampu sederhana yang dinyalakan dari pukul enam petang hingga sepuluh malam sanggup menjerat puluhan ribu hingga ratusan ribu ekor wereng cokelat dewasa hanya dalam satu malam operasi.
Yang paling penting, mayoritas serangga yang terperangkap adalah wereng betina dewasa yang siap meletakkan ribuan butir telur baru di pelepah padi. Memusnahkan seekor wereng betina makroptera sama artinya dengan mencegah kelahiran ratusan larva perusak baru di hamparan sawah.
Metode perangkap cahaya ini juga berfungsi sebagai radar pemantauan dini (early warning system). Petani cukup memeriksa jenis dan jumlah serangga yang mengendap di dasar ember setiap pagi untuk mengetahui kapan populasi wereng mulai masuk ke desanya.
Predator alami utama wereng, seperti laba-laba serigala (Pardosa pseudoannulata) dan kepik mirid (Cyrtorhinus lividipennis), sebagian besar aktif merayap di bagian bawah tajuk padi dan tidak terbang mengejar lampu, sehingga populasi musuh alami tetap utuh menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Bagi lumbung-lumbung padi Nusantara di Karawang, Subang, Sragen, hingga Pinrang, perangkap cahaya air membuktikan bahwa perlindungan pangan tidak harus selalu ditebus dengan asap racun pestisida yang membahayakan tubuh petani. Seberkas cahaya kecil dan seember air sabun di pematang malam terbukti jauh lebih cerdas mengamankan bulir padi menuju lumbung panen. (AK)







