Petikhasil.id, PROBOLINGGO — Di kebun-kebun anggur dan melon kawasan pesisir Dringu, Kabupaten Probolinggo, kelembapan udara yang tinggi di awal musim pancaroba kerap membawa petaka putih. Permukaan helai daun anggur diselimuti lapisan serbuk putih keabu-abuan menyerupai taburan tepung terigu. Petani mengenalnya sebagai penyakit embun tepung (powdery mildew) dan embun bulu (downy mildew). Ketika daun tertutup lapisan hifa jamur, proses fotosintesis terhenti total, daun mengering gosong, dan tandan buah muda rontok sebelum sempat matang.
Dalam kepanikan, petani kerap memborong deretan botol fungisida sintetis sistemik modern yang berharga ratusan ribu rupiah per liter. Ironisnya, setelah dua atau tiga musim pemakaian intensif, jamur patogen menjadi resisten kebal racun.
Situasi keputusasaan melawan jamur daun ini sesungguhnya pernah melanda perkebunan anggur di Bordeaux, barat daya Prancis, pada akhir abad ke-19. Solusi penyelamatnya ditemukan oleh profesor botani Alexis Millardet pada tahun 1885 melalui ramuan sederhana berbiaya murah yang hingga kini diakui sebagai fungisida tertua dan paling stabil di dunia: Bubur Bordeaux (Bordeaux mixture).
Petani Prancis hanya mengombinasikan dua bahan anorganik murah: tembaga sulfat atau terusi biru ($CuSO_4$) dan kapur tohor atau kalsium hidroksida [$Ca(OH)_2$].
Mengikat racun tembaga agar tidak membakar daun
Ion tembaga bebas ($Cu^{2+}$) sejak lama dikenal sebagai biosida mematikan bagi spora jamur dan bakteri patogen. Namun jika kristal tembaga sulfat murni dilarutkan dalam air lalu disemprotkan ke tanaman, sifat asam pekat larutan tembaga sulfat ($pH < 4$) akan membakar hangus jaringan epidermis dan mesofil daun (fitotoksisitas).
Di sinilah letak kecerdasan formulasi Bubur Bordeaux. Kapur tohor atau kapur sirih yang bersifat basa kuat dicampurkan secara bertahap ke dalam larutan terusi biru.
Reaksi kimia antara tembaga sulfat dan kalsium hidroksida menghasilkan endapan koloid tembaga hidroksida [$Cu(OH)_2$] dan kalsium sulfat ($CaSO_4$):
$$CuSO_4 + Ca(OH)_2 \rightarrow Cu(OH)_2\downarrow + CaSO_4$$
Penambahan kapur menetralkan keasaman larutan hingga mencapai pH netral berkisar antara enam setengah hingga tujuh. Reaksi ini mengubah ion tembaga yang semula agresif membakar daun menjadi partikel koloid mikroskopis yang aman menempel di permukaan tanaman.
Lapisan pelindung yang tak hanyut dibilas hujan
Ketika suspensi Bubur Bordeaux yang berwarna biru langit segar ini disemprotkan ke tajuk tanaman anggur atau melon, partikel koloid kapur dan tembaga mengering membentuk lapisan film pelindung tipis di atas lapisan kutikula lilin daun.
Kalsium sulfat pada bubur ini bertindak sebagai perekat alami yang sangat rekat (sticking agent). Berbeda dari fungisida modern yang kerap luntur tersapu air hujan lebat, lapisan Bubur Bordeaux mampu melekat erat di permukaan daun hingga berminggu-minggu tanpa memerlukan tambahan bahan perata kimiawi buatan pabrik.
Mekanisme tumpas jamur bekerja melalui pelepasan ion tembaga secara sangat lambat (slow release).
Setiap kali embun pagi atau tetesan air hujan membasahi daun, lapisan pelindung ini melepaskan sejumlah kecil ion tembaga bebas ($Cu^{2+}$) ke dalam tetesan air tersebut.
Jika spora jamur downy mildew mendarat di atas daun basah dan mencoba berkecambah, ion tembaga segera diserap oleh membran sel spora jamur. Di dalam sel jamur, tembaga mengendapkan protein enzim pernapasan dan merusak membran seluler hingga spora mati sebelum sempat mengeluarkan tabung infeksi ke dalam jaringan daun.
Formula serbaguna bagi petani hortikultura
Bubur Bordeaux membuktikan daya tahannya melintasi zaman. Selama lebih dari seratus empat puluh tahun, tidak ada satu pun strain jamur patogen di dunia yang mampu mengembangkan resistensi genetik terhadap aksi multi-situs (multi-site inhibitor) ion tembaga.
Bahan bakunya sangat mudah ditemukan di toko material dan toko kimia lokal dengan harga yang jauh lebih murah dibanding fungisida impor kemasan kaleng. Formula ini juga sangat ampuh membasmi penyakit busuk batang antraknosa pada cabai, busuk daun Phytophthora pada kentang, dan kanker batang bakteri pada jeruk.
Kemandirian mengelola kesehatan kebun tidak menuntut ketergantungan pada racun formula rahasia laboratorium mutakhir. Dua bahan mineral sederhana yang diaduk di dalam ember plastik membuktikan bahwa pemahaman dasar kimia permukaan daun sanggup menjaga kebun tetap hijau menatap musim hujan. (AK)








1 komentar