Petikhasil.id, CILACAP — Di petak-petak sawah pasang surut dan kebun kelapa kawasan pesisir Kroya, Kabupaten Cilacap, malam hari kerap menjadi waktu yang mencemaskan saat kawanan tikus sawah (Rattus argentiventer) mulai keluar dari liang pematang. Batang-batang padi yang baru bunting muda atau bibit pohon buah yang baru ditanam dipotong miring rata dengan tanah dalam semalam. Petani kerap menebarkan butiran umpan racun antikoagulan berbahan aktif fosfida atau bromadiolon. Namun tikus adalah hewan pengerat yang sangat cerdas; fenomena jera umpan (bait shyness) membuat racun kimia cepat diabaikan oleh koloni tikus liar.
Kekalahan melawan kecerdikan hewan pengerat ini dijawab secara mekanis dan tanpa racun kimia oleh para petani pedesaan di kawasan semi-kering Sudan dan Afrika Timur melalui metode barikade mulsa duri (thorny mulch barrier).
Alih-alih meracuni tanah dan membahayakan hewan piaraan, mereka memanfaatkan limbah pangkasan ranting pohon berduri keras yang melimpah di sekitar desa, seperti ranting akasia duri (Acacia nilotica), ranting salak liar, atau dahan pohon bidara (Ziziphus mauritiana).
Rintangan mekanis pada bantalan cakar dan kumis peraba
Daya tolak barikade ranting berduri bertumpu pada kepekaan organ sensorik dan anatomi fisik tubuh hewan pengerat. Tikus adalah hewan noktural dengan daya penglihatan yang relatif kabur di kegelapan malam.
Navigasi jelajah dan keputusan melangkah tikus dipandu sepenuhnya oleh bantalan telapak kaki yang lembut (plantar pads) serta kumis peraba moncong (vibrissae) yang sangat sensitif terhadap sentuhan fisik.
Ketika petani menata ranting-ranting berduri keras setebal lima belas hingga dua puluh sentimeter melingkar rapat di sekeliling pangkal batang tanaman muda, terbentuklah zona jebakan fisik yang sangat menyakitkan bagi hewan pengerat.
Ujung-ujung duri akasia atau duri salak yang kaku dan tajam mengarah ke segala penjuru ruang.
Saat tikus mencoba merayap mendekati batang tanaman yang empuk, duri-duri tajam langsung menusuk bantalan telapak kaki dan melukai membran kulit hidung serta telinga tikus yang tipis dan kaya ujung saraf perasa.
Rasa sakit yang menusuk secara mendadak memicu refleks menghindar (nociceptive withdrawal reflex). Tikus terpaksa mundur dan membatalkan serangannya tanpa sempat menggigit kulit kayu atau merobohkan batang tanaman.
Menghentikan kebiasaan mengerat tanpa racun kimia
Tikus memiliki gigi seri (incisors) yang terus tumbuh sepanjang masa hidupnya, memaksa hewan ini untuk terus mengerat benda padat agar giginya tidak memanjang menembus rahang. Batang tanaman muda yang berkayu lunak sering menjadi sasaran pelampiasan naluri mengerat ini.
Namun jaringan ranting pohon berduri seperti akasia dan bidara memiliki struktur anatomi kayu yang sangat padat dan mengandung endapan silika serta zat tanin yang pekat.
Ranting duri yang kering tidak disukai oleh tikus karena tidak mengandung pati atau cairan manis.
Bagi mamalia perusak lain seperti landak (Hystrix) dan kelinci liar, barikade ranting berduri juga menjadi benteng pertahanan yang mustahil ditembus. Landak yang terbiasa menggali kulit kayu di pangkal pohon buah akan tertahan oleh anyaman duri yang melukai moncongnya.
Daur ulang pangkasan pagar menjadi pelindung perakaran
Keunggulan metode barikade duri ini terletak pada ketiadaan biaya tunai. Petani cukup memanfaatkan sisa pemangkasan pohon pagar hidup atau semak belukar liar di batas desa yang biasanya hanya dibakar menjadi abu.
Seiring berjalannya waktu, ranting-ranting berduri yang ditata di pangkal tanaman akan lapuk secara perlahan selama satu hingga dua tahun. Selama proses pelapukan tersebut, ranting bertindak sebagai mulsa penahan penguapan air tanah dan penghambat pertumbuhan gulma liar di sekitar piringan pohon.
Ketika tanaman pokok telah tumbuh membesar, batangnya mengeras, dan kulit kayunya menebal membentuk lapisan gabus suberin yang tahan dari gigitan tikus, barikade duri di bawahnya telah terurai menjadi bahan organik tanah yang menyuburkan perakaran.
Perlindungan kebun dari hama pengerat tidak selalu harus mengorbankan kelestarian lingkungan dengan racun kimia berbahaya. Tumpukan ranting berduri yang bersahaja membuktikan bahwa pertahanan mekanis yang cerdas mampu membungkam naluri perusak hewan liar secara alami dan damai. (AK)








2 komentar