Petikhasil.id, CIANJUR — Di hamparan sawah irigasi kawasan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, kebiasaan menanam padi secara turun-temurun tampak seragam: petani menancapkan sejumput bibit padi tua berumur dua puluh lima hingga tiga puluh hari, berisi lima hingga tujuh batang bibit per lubang tanam, ke dalam petak sawah yang digenang air setinggi mata kaki. Untuk lahan seluas satu hektare, petani terpaksa memborong puluhan kilogram benih padi bersertifikat yang harganya kian mahal.
Kebiasaan menanam berdesakan di lahan tergenang ini justru dipatahkan secara radikal oleh seorang pastor Yesuit dan pakar pertanian di Madagaskar, Henri de Laulanié, pada dekade 1980-an.
Melalui metode yang dikenal di seluruh dunia sebagai Sistem Intensifikasi Padi (System of Rice Intensification / SRI), petani membuktikan bahwa menanam satu batang bibit muda berusia sangat dini di lahan becek tanpa genangan justru melipatgandakan rumpun anakan hingga puluhan batang dan memangkas kebutuhan benih hingga delapan puluh persen.
Bibit muda yang membawa potensi genetik penuh
Kunci fisiologis pertama dari sistem SRI terletak pada usia bibit saat dipindahkan dari persemaian ke sawah (transplanting age).
Pada sistem konvensional, bibit tua dipindahkan setelah memiliki empat hingga lima helai daun. Pada usia tersebut, sebagian besar primordial titik tumbuh anakan padi telah mati suri atau terbuang akibat stres pemindahan (transplant shock).
Dalam sistem SRI, bibit padi dipindahkan saat berusia sangat muda, antara delapan hingga dua belas hari setelah semai, tepat ketika bibit baru memiliki dua helai daun kecil dan butir gabah benih masih menempel di pangkal akarnya.
Bibit muda dipindahkan dengan sangat hati-hati bersama gumpalan tanah persemaiannya, lalu ditanam dangkal menyerupai huruf L di tanah lumpur basah.
Karena butir gabah masih menempel utuh menyuplai cadangan karbohidrat, bibit tidak mengalami masa layu pemindahan sama sekali. Titik tumbuh primordial aktif membelah sel seketika, memacu pembentukan tunas-tunas anakan produktif sejak minggu pertama di sawah.
Menghirup udara segar di tanah tanpa genangan air
Kekeliruan paling umum dalam budidaya padi adalah anggapan bahwa tanaman padi adalah tanaman air murni yang wajib digenangi air secara tiada henti sepanjang musim.
Secara botani, tanaman padi (Oryza sativa) adalah tanaman darat yang memiliki toleransi tinggi terhadap air berkat adanya saluran udara di jaringan batangnya (aerenkim). Namun jika sawah terus-menerus digenangi air sedalam lima hingga sepuluh sentimeter, pori-pori tanah kehabisan gas oksigen terlarut (kondisi anaerobik).
Di tanah anaerobik, lebih dari separuh rambut akar tanaman padi mati membusuk akibat keracunan gas metana dan hidrogen sulfida, berubah warna menjadi hitam kusam.
Sistem SRI menerapkan pengelolaan air basah-kering berselang (Alternate Wetting and Drying / AWD). Petani hanya membasahi sawah hingga kapasitas lapang becek tanpa genangan air, lalu membiarkan permukaan tanah mengering merekah rambut sebelum dialiri air kembali.
Siklus pengeringan sesaat ini menyedot gas oksigen segar dari atmosfer masuk ke dalam rongga-rongga tanah perakaran.
Di bawah pasokan oksigen yang melimpah, sel-sel meristem akar bernapas secara leluasa dan memproduksi energi ATP maksimal. Akar tanaman tumbuh lebat berwarna putih bersih menghunjam jauh ke lapisan tanah bawah, membentuk sistem perakaran yang tahan rebah dan tahan kekeringan.
Jarak tanam lebar pembebas sinar matahari
Bibit padi muda ditanam tunggal (satu lubang satu batang) dengan jarak tanam yang sangat lebar, berkisar antara dua puluh lima hingga tiga puluh lima sentimeter dengan pola bujur sangkar.
Di ruang terbuka yang longgar ini, setiap rumpun padi menerima radiasi sinar matahari penuh dari pagi hingga petang tanpa terhalang tajuk tanaman tetangga.
Laju fotosintesis melonjak tajam, mendorong pembentukan anakan baru secara bertingkat (filokron). Sebatang bibit muda tunggal sanggup berkembang membelah diri menghasilkan empat puluh hingga delapan puluh batang malai produktif per rumpun.
Petani di berbagai sentra padi Nusantara, seperti Cianjur, Sragen, dan Tasikmalaya, membuktikan bahwa metode SRI menghemat biaya pembelian benih dari empat puluh kilogram menjadi hanya lima hingga delapan kilogram per hektare.
Hasil panen gabah kering panen melonjak tajam dengan bulir gabah yang bernas dan berbobot berat. Keberlimpahan panen tidak lahir dari pemborosan benih di tanah yang becek tergenang, melainkan dari keberanian memberi ruang bagi sebutir benih tunggal untuk memekarkan seluruh potensi kehidupan alaminya. (AK)







